Livinglikenoother's Blog

Be a truly Lifelover

Tokeko-phobia Desember 25, 2009

Diarsipkan di bawah: The Long and Winding Road — ary dhamayanti @ 5:58 am

Kalian pasti tidak asing dengan istilah phobia atau ketakutan yang berlebihan terhadap sesuatu. Semua orang pasti mempunyai rasa takut yang sebagian merupakan phobia. Entah phobia terhadap binatang, ketinggian, gelap, ruangan sempit, atau bahkan terhadap karet gelang (benar-benar ada).
Menurut para ahli, terjadinya phobia sering disebabkan karena penderita mengalami peristiwa yang membuatnya terkejut atau shock terhadap sesuatu yang yang dia phobia-in (bahasanya :p) dimana peristiwa itu menimbulkan ketakutan yang luar biasa dan akal sehat mereka belum bisa menerima kejadian itu sepenuhnya sehingga bila melihat atau bertemu dengan benda tersebut, maka diluar kesadaran, mereka akan teringat dan kembali mengalami ketakutan dan perasaan tertekan seperti saat phobia mulai terjadi.
Kalau dipikir, yang namanya phobia itu memang sering tidak masuk akal. Aku bahkan pernah bertemu orang yang (serius) phobia terhadap es krim. Lucu banget sih, tapi terlalu sombong rasanya kalau aku tertawa, karena aku sendiri tidak bebas dari phobia yang juga tidak masuk akal. Aku memiliki phobia terhadap Tokek. Whaaatt??? Aku membongkar aibku sendiri. Tidaaaaaak..
Aku tau banget rasanya bagaimana bila ketakutan yang tidak masuk akal itu menyerang. Rasanya sangat tidak enak. Aku selalu mengalami depresi hebat yang juga tak jarang histeris bila bertemu dengan tokek. Walaupun sebenarnya aku sangat tidak ingin begitu. Tapi itu benar-benar diluar kesadaran. Rasanya seperti kehilangan akal sehat. Menyebalkan lah. Phobia-ku itu tidak terjadi begitu saja tapi melalui sebuah sejarah yang hingga sekarang terekam jelas di kepalaku dan meninggalkan sebuah phobia yang mengerikan.
Kejadiannya adalah waktu kami sekeluarga tinggal di Denpasar. Waktu itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar (masih kecil). Aku sedang mau mandi ketika aku melihat tokek di dalam kamar mandi. Yeap, rumah kami memang berada di kompleks perumahan baru yang sangat mewah (mepet sawah red). Jadi gak heran kalau sering ada kodok, macam-macam serangga, tikus sawah bahkan (kadang-kadang) ular. Kembali ke kamar mandi, aku yang tidak suka kalau dipelototin waktu mandi (oleh tokek, cicak, atau bahkan serangga yang biasanya aku usir), bermaksud mengusir si tokek. Sudah kucoba dengan cara menepuk-nepuk dinding agar si tokek pergi dan keluar melalui ventilasi udara tempat dimana dia (sepertinya) masuk tadi. Si tokek kelihatannya cuek dan sama sekali tidak mengindahkan perintahku. Karena kesal, aku keluar dari kamar mandi dan kembali membawa sebuah galah bambu. Sambil sedikit berteriak, aku kembali memukul-mukul dinding dengan galah tadi, tapi lebih dekat ke tokek. Masih cuek juga tuh si tokek. Akhirnya sedikit aku sodok-sodok dan dorong-dorong dia agar dia pergi. Tapiiiiiii…. (perhatikan bagian ini, yang merupakan awal dari phobia-ku) ternyata si tokek malah maju merayap mendekatiku dengan mulut dibuka. Terlihat garang, galak, dan seolah-olah berani dan berniat menantangku. Aku terbengong sebentar karena shock dan kemudian Huaaaaa…… aku berteriak dan berlari keluar kamar mandi. Gak mampu bicara sebentar dan kemudian melaporkan semua kejadian itu kepada mamaku sambil menangis. Hiks… hiks…. Itu kejadian paling mengerikan seumur hidupku dan menurutku sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seekor tokek berani melawan manusia. Bagaimana bisaaaa??? Dan ketidakmasukakalan kejadian itulah yang membuatku phobia. Akhirnya, si tokek ditangani oleh ayahku. Aku tidak mandi sore itu dan butuh berjam-jam untuk menenangkan diri. Kacau.
Sudah kuselidiki bahwa tokek ternyata memang punya kecenderungan berperilaku seperti itu bila sedang dalam keadaan yang sangat terancam dimana dia gak punya pilihan lain selain melawan. Mungkin waktu itu si tokek sebenarnya juga merasa sangat takut dan shock seperti aku, tapi dia tidak punya pilihan. Dan akhirnya dia maju melawanku.
Sebenarnya, aku tidak ingin larut dalam ketakutan apalagi phobia yang aneh dan tidak masuk akal itu. Tapi entahlah, setiap bertemu tokek, reaksi fisiologis phobia-ku langsung timbul. Gemetar, berkeringat dingin, jantung berdebar, nafas tidak teratur, rasanya takut dan stress banget. Aku bahkan pernah histeris waktu disodori tokek (waktu itu pernah dikerjain). Padahal jaraknya lumayan jauh, sekitar 3 meter. Tapi aku sudah berteriak-teriak sangat keras dan akhirnya butuh waktu yang lama juga buat menenangkan diri, waktu itu aku sampai lemas. Yang ngerjain aku dimarahi nenekku habis-habisan.
Phobia gak bisa dibuat bercandaan, karena itu adalah ketakutan yang serius. Mamaku punya phobia ulat bulu. Aku pernah disuruh membersihkan sayuran dari ulat karena mamaku takut. Trus buat iseng-iseng, aku menakuti mamaku dengan batang bayam, maksudku buat bercandaan, aku hampir saja terbunuh karena mama yang waktu itu sedang memotong sayur malah menyodoriku pisau dan hampir saja menusukku, untung aku bisa menghindar dan gak kena. Huaduh, serem banget deh. Aku dimarahi ayahku habis-habisan dan aku bener-bener kapok. Waktu aku mengalami sendiri phobia-ku (waktu dikerjain tokek itu), aku baru tau rasanya bener-bener gak enak. Orang benar-benar akan kehilangan akal sehat bila mengalami phobia. Aku merasakan betul bahwa aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku. Mungkin seseorang bisa melakukan apapun saat dia mengalami phobia, kalau cuma gemetar seperti aku sih oke. Tapi kalau sampai mau nusuk orang kayak mama gitu yah serem juga. Karena itu, aku sarankan pada kalian untuk jangan pernah mengerjai orang yang phobia, itu sangat berbahaya.
Penyakit apapun pasti ada obatnya. Dan aku yakin phobia juga pasti bisa disembuhkan. Hmm, bagaimana ya caranya sembuh dari phobia tokek?? Btw, thanks for visiting my blog. Keep coming!!!

 

Mengalah dan Kalah Desember 25, 2009

Diarsipkan di bawah: The Long and Winding Road — ary dhamayanti @ 5:57 am

Ini kejadian beberapa hari lalu, belum lama. Aku yang biasanya bangun pagi (paling telat pukul 05.30) tiba-tiba bangun siang karena aku begadang pada malam harinya dan baru tidur pada pukul 03.30 pagi. Itu membuat aku bangun dengan perasaan kesal dan bête yang aneh. Pokoknya tidak enak. Bisa kubilang, itu pagi yang buruk.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, sebagai bagian purchasing dari “Tak Jotozz” crew atau yang biasa disebut dengan “Tukang Belanja”, aku berangkat ke pasar. Karena aku sudah terlambat, jadi aku pergi agak tergesa-gesa setelah membersihkan diri sebentar di kamar mandi.
Untungnya, aku masih bisa mendapatkan bahan-bahan yang aku perlukan. Di kios sayuran dimana aku biasa berlangganan, aku memilih dan mengemas beberapa bahan, jeruk peras, mentimun, dan tomat, dan aku menunggu giliranku seperti biasa untuk kemudian bahan-bahan belanjaanku ditimbang oleh sang penjual. Yah, biasalah, mengantri gitu, karena si penjual masih melayani pembeli lain yang membeli bahan lumayan banyak dan bervariasi. Setelah aku, ada beberapa pembeli lagi yang datang dan memilih dan mengemas bahan belanjaan mereka juga, as I did.
Aku senang karena giliranku adalah sebentar lagi, si penjual saat itu sudah selesai mengemasi barang belajaan pembeli sebelumku dan sedang menghitung nominal pembelanjaannya. Tapiiiiii…….. seorang pembeli yang datang sesudahku tiba-tiba saja dengan seenaknya meletakkan bahan belanjaannya di bak timbangan. Dan penjual kemudian melayaninya terlebih dahulu. Grr…aku benar-benar geram. Rasanya pengen protes, pengen marah-marah. But, I should think about tomorrow. Hidup bukan cuma hari ini, belum tentu aku besok nggak ketemu lagi dengan pembeli sialan itu, trus, aku masih akan belanja di pasar tiap hari dan kios ini adalah salah satu kios favouritku karena kualitas bahan-bahannya habis, apa iya kalau aku sekarang marah-marah, besok aku juga akan belanja dengan nyaman esok hari. Eeerrrgghhh…. sebenarnya aku sudah ingin meledak, tapi ya sudah, aku putuskan mengalah saja, untuk esok hari. Sebenarnya, aku nggak pernah seperti itu sebelumnya, kalau ini soal urusanku sendiri, mengingat moodku yang begitu buruk pagi itu, aku pasti akan marah-marah. Tapi karena ini adalah kepentingan kelompok, jadinya aku tahan. Aku punya kecenderungan lain, kalau moodku baik, biasanya aku akan mengalah, tapi dengan cepat memaafkan keadaan itu dan melupakannya. Tapi kali ini, tidak dua-duanya. Aku tidak marah-marah, tapi juga tidak bisa melupakannya dengan mudah. Aku masih, merasa sangat kesal. Aku bahkan belum belanja disana lagi sampai hari ini. Cuma masih kesal saja.
Aku pernah belajar mengenai manajemen konflik di kuliah. Ada yang namanya win-win solution. Berarti kita menyelesaikan konflik dengan memenangkan kedua pihak yang berselisih. Kalau yang terjadi kemaren kayaknya win-lose solution, karena aku menyelesaikannya dengan mengalahkan diriku. Phewf… sebenarnya bagaimana solusi yang tepat untuk mencapai win-win kalau masalahnya seperti itu ya?? Finally, thanks for visiting my blog. Keep coming!!

 

Permen Mint Coklat Desember 25, 2009

Diarsipkan di bawah: My Own Way — ary dhamayanti @ 5:55 am

ku sedang mengulum sebutir permen
Lapisan luarnya terbuat dari gula dan mint
Permennya keras, pedas, dan dingin
Permen ini begitu menarik

Setelah sekian lama
Kurasakan lapisan gula mint itu makin menipis
Dan perlahan
Pecah…..

Digantikan oleh pasta coklat yang ada di dalamnya
Hmm….
Rasanya manis, dan lembut sekali

Seperti permen ini juga, aku tau
Dibalik sikap yang keras dan dingin itu
Ada hati yang dalam
Menyimpan kebaikan yang begitu manis dan lembut

 

Unchanging Love November 7, 2009

Diarsipkan di bawah: My Own Way — ary dhamayanti @ 1:05 pm

Aku hidup dengan semua tugasku
Sebagai biarawati
Dan menjaga Shikon no Tama di tanganku

Sampai kau datang memberi mimpi baru
Untuk mengakhiri tanggung jawab ini
Dan hidup sebagai manusia biasa

Apa perlu kuperjelas lagi padamu
Bahwa semua waktuku bersamamu seperti candu
Yang membuatku ingin mengulangnya
Lagi dan lagi setiap hari
Sampai aku mati

Cukup hanya dengan sebuah janji
Dan kita akan mewujudkannya bersama

Tapi yang terjadi sekarang aku sungguh tak mengerti
Dan memang terlalu bodoh dan naif untuk bisa mengerti
“Kau hanya ingin aku mati kan, Inuyasha?”

 

H2O November 7, 2009

Diarsipkan di bawah: My Own Way — ary dhamayanti @ 1:03 pm

Aku tercipta saat petir mereaksikan dua atom Hidrogen dan satu atom Oksigen
Jatuh pertama kali di sebuah celah bebatuan sebuah bukit
Melarutkan beberapa jenis garam dan mineral
Kemudian tiba di sebuah anak sungai
Dan mengikuti alirannya

Pak embun yang berusia seratus tahun
Bercerita tentang mendung dan titik-titik hujan besar di Moscow
Bu kabut yang berusia seribu tahun
Bercerita tentang Kristal salju yang lembut di Jepang dan Gletser di Kutub
Paman Uap air yang berusia sejuta tahun
Bercerita tentang Yellowstone, Air Terjun Niagara, dan Tsunami di Aceh
Bibi air seni yang berusia semilyar tahun
Bahkan bercerita tentang plasma sel, darah, dan getah bening

Aku masih mengalir di sungai
Mungkin bukan saat ini aku bisa berpetualang melewati siklus air yang lain
Aliran sungai semakin melambat dan melembut
Dimana kandungan mineral semakin banyak dan air semakin melimpah
Mungkin aku akan membawa mineral bersama lumpur dan mengendapkannya di delta sungai

Seperti apakah laut yang misterius itu?
Dimana aku akan bermuara
Aku sungguh ingin tahu

 

Aku Jujur November 7, 2009

Diarsipkan di bawah: My Own Way — ary dhamayanti @ 1:03 pm

Bersamamu adalah saat dimana aku paling tidak ingin berbohong
Orang yang dengan terburu-buru kutemui di pagi hari
Saat aku belum mandi dan tanpa make up

Aku tak akan mengusap seberapa banyak pun keringat
Yang mengalir di tubuhku saat aku berlari padamu
Dengan riang dan sepenuh hati untuk mengucapkan “Selamat Pagi”

Aku bisa memastikan bahwa aku adalah sepenuhnya yang kau lihat
Suaraku adalah seutuhnya yang kau dengar
Dan Sumpah Mati aku tidak bertopeng

 

Sains yang romantis November 7, 2009

Diarsipkan di bawah: My Own Way — ary dhamayanti @ 1:00 pm

Ada yang berpendapat bahwa sains dan romantisme adalah dua hal yang sangat berjauhan dimana sains berkaitan dengan hal yang dipikirkan oleh otak sedangkan romantisme berkaitan dengan hal yang dirasakan hati. Romantisme banyak diciptakan oleh seniman dan sains diciptakan ya oleh Scientist lah.
Aku punya pendapat yang berbeda. Menurutku, berpikir dan merasakan hampir selalu terjadi dalam waktu yang sama. Jadi, otak dan hati bekerja bersamaan, hanya saja dominansinya yang berbeda-beda. Misalnya, mungkin kita lebih banyak menggunakan otak saat menghitung, tapi tetap saja kadang-kadang pake perasaan juga, misalnya “Udah bener gak ya hasilnya?? Rasanya kurang yakin… Ulang lagi ah…” Atau kita lebih banyak menggunakan perasaan ketika mendengarkan music yang menarik, tapi tetep aja kadang-kadang sambil mikir “Lirik lagu ini maksudnya apa ya??” Apa itu bisa dianggap sebagai berpikir sekaligus merasakan? Entahlah, kita asumsikan saja begitu sementara ini (hehehe… maksa..).
Scientist yang sekaligus juga seniman yang sudah sangat terkenal adalah Leonardo Da vinci. Da Vinci sebagai seniman sangat terkenal oleh karya besarnya yaitu lukisan Monalisa. Sedangkan sebagai Scientist, Da Vinci banyak menyusun konsep-konsep Sains misalnya daftar anatomi tubuh manusia terlengkap pertama kali. Aku pikir, mungkin saja di balik senyuman Monalisa yang misterius itu tersembunyi rumus-rumus rahasia sepatu apung (salah satu project Da Vinci) Hihihi…. Berkhayal….
Selain Da Vinci, aku juga yakin bahwa seniman-seniman lain, sebut saja Van Gogh atau Michaelangelo juga punya dasar yang teknis dalam membuat karya besar mereka.
Inspirasiku mengenai romantisnya sains datang dari “John Mayer”. Salah satu musician favouritku. Begitu menginspirasi karena dia sangat mahir menciptakan syair-syair lagu yang begitu romantis dari kata-kata seperti Free Fallin (Gerak jatuh bebas), Atmosphere, Gravity, dan Neon. Semua lagu itu ada di album accousticnya “Where The light is?” Sangat Sains, dan juga sangat romantis. Aku suka sekali. Inspirasi dari John Mayer membuatku yakin bahwa unsur Sains yang dimasukkan dalam sebuah karya seni, akan menciptakan keromantisan yang unik dan menggetarkan jiwa (uhuk uhuk huatchi…. Hihihi…). Hal ini berdasarkan konsep bahwa tubuh dan jiwa kita adalah bagian dari alam yang sudah tentu ilmiah. Sains adalah alam, alam adalah keindahan, keindahan adalah seni, seni adalah romatisme, maka sains adalah romantisme.
Terinspirasi dari John Mayer, aku yang sangat menyukai Sains, dan juga sangat hollic terhadap seni menulis puisi sekarang jadi suka menyisipkan unsur Sains dalam puisiku, dan menurutku sejauh ini, syair puisiku jadi punya taste yang berbeda dan lebih menggelitik. Aku sangat yakin, seorang Scientist punya potensi yang sangat besar untuk menjadi seniman yang super romantis. Ingin jadi Scientist atau penulis yang romantis? Aku mau keduanya, dan kurasa tak perlu membuat pilihan karena keduanya dapat berjalan dengan sangat sinergis.
Finally, thank you for visiting my Blog. Keep coming!!

 

Selamat Tinggal Pohon Rambutan, semoga masuk Surga November 7, 2009

Diarsipkan di bawah: The Long and Winding Road — ary dhamayanti @ 12:59 pm

Aku lahir di Bali, tapi masa kecilku sejak umur 3 bulan sampai 9 tahun aku habiskan di kota kelahiran ibuku, “Jogja”, kota yang dalam 4 tahun terakhir ini juga jadi tempatku menuntut ilmu (kuliah). Waktu aku kecil, hampir setiap hari aku dititipkan di rumah nenekku, dari jam pulang sekolah sampai malam bahkan kadang-kadang sampai besok paginya lagi (aku jarang tinggal di rumahku sendiri). Mungkin karena orang tuaku sibuk, entahlah sibuk ngapain, aku nggak terlalu ingat. Karena sakingnya terlalu sering dititip di rumah nenek, sampai-sampai aku memanggil nenekku dengan sebutan “ibu”, bahkan sampai sekarang pun tidak bisa kuubah (tapi tetap bisa kubedakan dengan ibuku yang asli kok, karena aku memanggil ibu kandungku “mama”). Mungkin dulu aku mengira nenekku adalah ibuku kali ya?? Hehehe…
Di halaman nenekku yang luas berbentuk persegi, tepat ditengah-tengahnya, ada pohon rambutan. Pohon itu besar sekali dan kelihatan gagah perkasa. Aku pernah menanyakan pada nenekku siapa yang menanam pohon rambutan itu, tapi kata nenek, sejak beliau kecil pun, pohon itu sudah segitu gedenya. Selain pada nenek, aku juga tanya pada nenek buyutku, kakaknya nenek, adeknya nenek, mama, tapi jawabannya sama semua. Jadi gak ada yang tau sejarah dan asal mula pohon itu.
Waktu itu aku duduk di kelas 1 SD, aku baru belajar naik sepeda roda dua (sepertinya agak telat). Aku belajar di halaman nenek dengan berkeliling memutari pohon rambutan itu. Aku gak tau kenapa kok aku susah banget belajar naik sepeda yah? Aku jatuh-jatuh terus, sampai kakiku penuh luka, bahkan ada yang membekas sampai sekarang (never worst deh). Beda banget sama adekku yang sekali belajar langsung bisa (padahal waktu dia belajar, dia masih TK). Ngiri deh… Kayaknya emang kemampuan belajarku rendah alias dong… dong… Tapi aku pantang menyerah, biar jatuh seribu kalipun, luka seberapa sakitnya pun, aku gak akan menyerah, aku juga gak pernah nangis waktu jatuh (paling-paling cuma meringis). Waktu aku belajar, pohon rambutan itu entah berapa kali aku tabrak. Sampe daun-daun dan buahnya pada rontok. Dan tentu saja aku yang jauh lebih merana daripada pohon rambutan itu karena habis nabrak aku pasti jatuh, trus luka. Waktu itu aku jarang sekali naek sepeda dengan kecepatan rendah. Karena menurut analisaku dulu, kecepatan mengayuh sepeda berbanding terbalik dengan peluang aku jatuh. Hahaha….. gak ada orang yang berani lewat-lewat dilintasan sepedaku waktu itu, takut ketabrak. Dan setelah perjuanganku entah berapa juta kali mengelilingi pohon rambutan, pulang sekolah, habis makan siang langsung naek sepeda sampai jam tidur siang, bangun tidur naek sepeda lagi sampai sore, dan akhirnya aku bisa naek sepeda. Yuwhuw… emang gak akan mudah sebelum susah.
Aku suka rumah nenek, banyak anak seusiaku di sana dan juga ada sepupu-sepupuku yang nakal-nakal, jadi aku gak pernah kesepian. Kalau di rumah, aku malah gak punya banyak teman, paling cuma main sendiri di dalam rumah. Di masa-masa berikutnya, gak lama setelah kemenanganku menaklukkan sepeda roda dua, aku masih selalu maen di halaman nenek. Aku dan teman-teman suka maen lompat karet. Kalau jumlah orangnya sedikit, kami bisa memakai satu saja orang yang jaga di ujung karet. Ujung lainnya cukup diikatkan di pohon rambutan. Kalau banyak orang, baru kami pakai dua orang yang jaga di masing-masing ujung karet. Main karet gak perlu pakai sandal, jadi sebaiknya memang dilakukan di bawah pohon yang rindang, biar telapak kaki gak terlalu kepanasan. Soalnya main karet pasti asyiknya siang-siang.
Bawah pohon rambutan juga tempat yang sangat strategis buat maen masak-masakan karena dekat dengan semua sumber daya alam yang diperlukan, aer dari keran belakang rumah pak de, tumpukan batu bata di dekat rumah mbah kakaknya nenek, trus tanah di bawah pohon langsung, juga daun-daunan dan rumput-rumput di sekitar pohon rambutan. Hehehe… I’ll get all I need. Komplit. Tinggal menggelar koran bekas untuk duduk. Beres…
Waktu itu pohon rambutan sempat berulat. Ulat bulu berwarna hijau, kecil-kecil, kalau kena bulunya puanas banget, rasanya seperti terbakar. Ulat bulu itu kalau di Jogja disebut ulet “Srengenge” yang artinya “matahari”. Yah, karena panas banget kayak matahari (sedikit hiperbolis). Waktu itu aku juga pernah kena kejatuhan ulat itu. Walaupun sebenarnya aku bukan termasuk yang takut atau geli terhadap ulat bulu, tapi panasnya bener-bener bikin kapok.
Hal yang paling menyenangkan adalah saat pohon rambutan berbuah, buahnya selalu banyak, merah-merah dan manis. Hmm…. panen rame-rame bareng keluarga dan teman-teman sangat mengasyikkan. Hal yang keliatannya pasti asyik tapi gak pernah kulakukan dengan pohon rambutan itu adalah memanjatnya. Soalnya dari segi fisiknya, pohon rambutan itu memang agak sulit dipanjat. Batang utamanya lurus tinggi dan cabangnya sulit banget dijangkau, jadi susah banget dipanjat. Kalau memanjat pohon nenek yang lain sih aku sering, seperti pohon jambu biji dan pohon mangga.
Itu pengalaman kecilku, waktu aku ke Jogja lagi untuk kuliah 4 tahun lalu dan tinggal di rumah nenek, pohon rambutan itu kelihatan sudah tua sekali walaupun masih kuat dan kokoh. Anehnya justru pohon itu semakin rajin berbuah, tapi sudah gak manis lagi walaupun warnanya merah-merah. Jadi sampai busuk pun, gak ada yang mau makan. Kasihan sekali. Kadang-kadang aku suka memandanginya dari depan kamarku. Kebetulan kamarku punya dua pintu, satunya yang langsung ke halaman rumah nenek dan satu lagi ke arah dalam menuju ruang nonton TV, jadi aku tetap bisa masuk ke rumah tanpa membangunkan orang-orang bila sewaktu-waktu perlu pulang malam. Waktu gempa jogja 27 Mei, aku dan keluarga nenek selama 2 hari tidur bersama di bawah pohon rambutan itu karena seringnya gempa susulan dan ada beberapa bagian rumah kami yang rusak dan belum sempat diperbaiki sehingga terlalu beresiko bila tinggal di dalam rumah.
Beberapa waktu yang lalu, aku sempat pulang ke Bali dalam jangka waktu yang lama. Sekitar 9 bulan dari bulan Januari sampai dengan Oktober. Waktu balik ke Jogja ternyata di halaman rumah nenek sudah dibangun lima kamar kos milik adeknya nenek. Dan ketika kutanyakan keberadaan pohon rambutan itu, ternyata memang sudah dieksekusi dan kayunya sudah diberikan ke orang lain untuk kayu bakar. Mmpphh…. menyedihkan juga sih. Tapi aku gak berpikir itu sesuatu yang kejam. Kan di dunia ini gak ada yang kekal, kecuali mungkin energy dan materi (sesuai hukum Newton). Suatu hari aku pasti juga mati, tapi saat aku mati, aku juga mau ah seperti pohon rambutan itu, sudah berbuat banyak jasa pada banyak orang dan meninggalkan banyak kenangan yang indah. Selamat tinggal pohon rambutan, semoga masuk surga, siapa tau, di kehidupan selanjutnya bisa bereinkarnasi menjadi manusia dan kita bisa berteman lagi seperti dulu.

 

From Tantri Kalpa : Dua Burung Nuri yang berlainan tabiat November 7, 2009

Diarsipkan di bawah: Free Loop — ary dhamayanti @ 12:57 pm

Hiyeah……posting lagi. Aseeekkk…
Bulan November ini menurutku adalah bulan yang sangat inspiratif, maka aku akan menceritakan sebuah cerita dari Tantri Kalpa yang lagi-lagi kutulis berdasarkan ingatanku dari hasil membaca buku Percikan Kebijakan. Judulnya Dua Burung Nuri yang berlainan tabiat. Semoga dapat memberikan inspirasi.
Di sebuah negeri, hiduplah seorang raja. Suatu hari, kerajaan tersebut diserang oleh kerajaan musuh dan kalah perang. Sang Raja terpaksa melarikan diri sendirian ke hutan. Setelah lari sangat jauh, sang raja mulai kelelahan dan berusaha mencari tempat untuk istirahat. Beliau menemukan sebuah pondok yang dihiasi beberapa kepala dan kulit binatang hutan. Nampaknya milik seorang pemburu. Sang Raja kemudian masuk ke halaman pondok tersebut untuk mengetuk pintu. Baru beberapa langkah memasuki halaman, raja mendengar suara yang sangat mengejutkan “Hei………Pencuri…………..Apa yang kau lakukan disini??………Pergi Kau Pencuri………” Raja berusaha mencari sumber suara yang sangat keras, kasar, dan tidak sopan tersebut. Ternyata suara tersebut adalah milik burung Nuri yang terdapat dalam sangkar yang digantung di salah satu sudut depan beranda pondok itu. Karena terkejut, sang raja segera pergi meninggalkan pondok pemburu tersebut kemudian melanjutkan perjalanan mencari tempat peristirahatan yang lain.
Sampai akhirnya raja tiba di sebuah pertapaan. Pertapaan itu tampak sepi, hanya terlihat seekor burung nuri di depan sebuah bilik. Khawatir akan terulangnya kalimat-kalimat kasar seperti yang baru saja ia dengar dari burung nuri di pondok pemburu, raja pun beranjak dan berniat untuk pergi. Namun, kemudian dia mendengar salam sapa yang sangat halus dan sopan “Selamat siang Baginda Raja, suatu kehormatan bagi kami anda bersedia berkunjung ke pertapaan ini. Kebetulan para pendeta sedang pergi ke peternakan untuk memerah lembu untuk membuat susu dan mentega. Baginda kelihatannya lelah sekali, silahkan beristirahat disini sambil menunggu. Para pendeta akan kembali tak lama lagi.” Raja merasa sangat heran sekaligus tersanjung dengan perkataan burung Nuri tersebut, dan beliau pun duduk beristirahat disana sambil menunggu kembalinya para pendeta.
Tak lama kemudian, para pendeta tiba di pertapaan, Raja kemudian dijamu dengan susu dan mentega yang sangat enak. Sambil bercengkrama mengenai pelariannya, raja menceritakan pengalamannya bertemu burung Nuri di pondok pemburu kepada para pendeta, sekaligus menanyakan mengapa perbedaan itu bisa terjadi. Salah satu pendeta yang arif bijaksana menjawab. Burung Nuri di pondok pemburu terbiasa mendengar dan melihat peringai dan kata-kata kasar, makian, tidak sopan dari pemburu, sehingga hal itulah yang kemudian dia tiru, sedangkan burung Nuri di pertapaan terbiasa melihat dan mendengar perilaku dan perkataan yang sopan, halus, lembut, dan penuh kasih, sehingga hal itu pula lah yang kemudian ia tiru. Karena itulah tabiat mereka berbeda.
Yeap, ceritanya selesai. Kesimpulan dari cerita ini adalah, hati-hatilah dalam berteman dan bergaul, karena dengan siapa kita berteman atau bergaul juga bisa mempengaruhi sikap dan perilaku kita. Nah, finally, thanks for visiting my blog yaa… keep reading…

 

Samurai dan Pendeta November 7, 2009

Diarsipkan di bawah: Free Loop — ary dhamayanti @ 12:53 pm

Aku suka sekali membaca cerita, dan juga sedang belajar menuliskannya kembali seperti beberapa cerita Tantri Kalpa yang aku tulis di Blog ini. Hari ini aku akan menuliskan cerita dari salah satu buku kesukaanku “Who am I?” yang ditulis Vikas Malkani. Sebenarnya, “Who am I?” itu bukan buku cerita sih, itu semacam buku motivasi untuk kekuatan jiwa gitu. Tapi ada satu contoh cerita di Bab terakhir (Bab ke 10). Kalau biasanya aku menuliskan cerita Tantri Kalpa dengan bahasaku sendiri, kali ini aku menyalin langsung dari bukunya, soalnya aku takut ntar maknanya gak sampai dengan benar kalau terlalu banyak kalimat yang kuubah. Kalau ada yang pengen baca bukunya dan gak ketemu boleh pinjem ke aku. Bukunya sangat menarik. Heee…… Ya sudah, silahkan dinikmati saja cerita ini yaa….
Dahulu kala di sebuah negeri Timur yang jauh, hidup seorang Samurai yang hebat. Seluruh hidupnya telah dihabiskan dalam peperangan dan pembunuhan musuh-musuhnya. Setelah ia beranjak menjadi tua, dia menjadi tertarik pada pertanyaan-pertanyaan tentang kematian dan makna dari surga dan neraka. Dia memutuskan harus menemukan jawaban-jawabannya sebelum dia mati. Kemudian ia berkeliling dan bertanya pada seseorang untuk memberinya jawaban tentang apa yang dia telah lihat.
Dia telah mendengar tentang seorang pendeta tua yang sangat arif bijaksana yang tinggal sendirian di sebuah biara yang terpencil. Sang samurai itu melakukan perjalanan selama beberapa hari sampai ia tiba di biara. Saat memasuki, dia mendapati seorang pendeta tua hening dalam doa sembahyang yang meditative.
Sang samurai melangkah dengan beraninya dan dengan berisiknya membangunkan sang pendeta, yang jelas terusik dan terganggu dengan kasar dan tidak sopan. Sang pendeta dengan pendeknya bertanya pada Samurai “Mengapa kamu menggangguku dalam doa?”
Sang samurai tidak menggunakan peluang berhadapan muka dengan memperlihatkan sikap tidak hormat, menjadi sangat marah dengan sang pendeta. Ia membetulkan bajunya, dia menarik pedang samurainya keluar dari sarungnya dan mengangkatnya di atas kepala pendeta untuk mendatangkan kematian bagi sang pendeta.
Dengan cepat sang pendeta melihat padanya dan berkata, “Itulah neraka.”
Sang samurai yang terkejut, ragu-ragu dan berfikir tentang apa yang telah pendeta katakana. Kemudian dia menurunkan pedangnya.
Sekali lagi sang pendeta berkata, “Dan itu adalah Surga.”
Sumber : Malkani, Vikas. 2004. Who am I?. Penerbit Smart Book, Jogjakarta. Bab 10 : Sebuah Kisah Pengajaran. Halaman 177 s.d 179
Yeap, selesai. Phiew….. silahkan membuat kesimpulan sendiri yaa…. Finally, thanks for visiting my blog, keep coming….