Livinglikenoother's Blog

Be a truly Lifelover

Unchanging Love November 7, 2009

Diarsipkan di bawah: My Own Way — ary dhamayanti @ 1:05 pm

Aku hidup dengan semua tugasku
Sebagai biarawati
Dan menjaga Shikon no Tama di tanganku

Sampai kau datang memberi mimpi baru
Untuk mengakhiri tanggung jawab ini
Dan hidup sebagai manusia biasa

Apa perlu kuperjelas lagi padamu
Bahwa semua waktuku bersamamu seperti candu
Yang membuatku ingin mengulangnya
Lagi dan lagi setiap hari
Sampai aku mati

Cukup hanya dengan sebuah janji
Dan kita akan mewujudkannya bersama

Tapi yang terjadi sekarang aku sungguh tak mengerti
Dan memang terlalu bodoh dan naif untuk bisa mengerti
“Kau hanya ingin aku mati kan, Inuyasha?”

 

H2O November 7, 2009

Diarsipkan di bawah: My Own Way — ary dhamayanti @ 1:03 pm

Aku tercipta saat petir mereaksikan dua atom Hidrogen dan satu atom Oksigen
Jatuh pertama kali di sebuah celah bebatuan sebuah bukit
Melarutkan beberapa jenis garam dan mineral
Kemudian tiba di sebuah anak sungai
Dan mengikuti alirannya

Pak embun yang berusia seratus tahun
Bercerita tentang mendung dan titik-titik hujan besar di Moscow
Bu kabut yang berusia seribu tahun
Bercerita tentang Kristal salju yang lembut di Jepang dan Gletser di Kutub
Paman Uap air yang berusia sejuta tahun
Bercerita tentang Yellowstone, Air Terjun Niagara, dan Tsunami di Aceh
Bibi air seni yang berusia semilyar tahun
Bahkan bercerita tentang plasma sel, darah, dan getah bening

Aku masih mengalir di sungai
Mungkin bukan saat ini aku bisa berpetualang melewati siklus air yang lain
Aliran sungai semakin melambat dan melembut
Dimana kandungan mineral semakin banyak dan air semakin melimpah
Mungkin aku akan membawa mineral bersama lumpur dan mengendapkannya di delta sungai

Seperti apakah laut yang misterius itu?
Dimana aku akan bermuara
Aku sungguh ingin tahu

 

Aku Jujur November 7, 2009

Diarsipkan di bawah: My Own Way — ary dhamayanti @ 1:03 pm

Bersamamu adalah saat dimana aku paling tidak ingin berbohong
Orang yang dengan terburu-buru kutemui di pagi hari
Saat aku belum mandi dan tanpa make up

Aku tak akan mengusap seberapa banyak pun keringat
Yang mengalir di tubuhku saat aku berlari padamu
Dengan riang dan sepenuh hati untuk mengucapkan “Selamat Pagi”

Aku bisa memastikan bahwa aku adalah sepenuhnya yang kau lihat
Suaraku adalah seutuhnya yang kau dengar
Dan Sumpah Mati aku tidak bertopeng

 

Sains yang romantis November 7, 2009

Diarsipkan di bawah: My Own Way — ary dhamayanti @ 1:00 pm

Ada yang berpendapat bahwa sains dan romantisme adalah dua hal yang sangat berjauhan dimana sains berkaitan dengan hal yang dipikirkan oleh otak sedangkan romantisme berkaitan dengan hal yang dirasakan hati. Romantisme banyak diciptakan oleh seniman dan sains diciptakan ya oleh Scientist lah.
Aku punya pendapat yang berbeda. Menurutku, berpikir dan merasakan hampir selalu terjadi dalam waktu yang sama. Jadi, otak dan hati bekerja bersamaan, hanya saja dominansinya yang berbeda-beda. Misalnya, mungkin kita lebih banyak menggunakan otak saat menghitung, tapi tetap saja kadang-kadang pake perasaan juga, misalnya “Udah bener gak ya hasilnya?? Rasanya kurang yakin… Ulang lagi ah…” Atau kita lebih banyak menggunakan perasaan ketika mendengarkan music yang menarik, tapi tetep aja kadang-kadang sambil mikir “Lirik lagu ini maksudnya apa ya??” Apa itu bisa dianggap sebagai berpikir sekaligus merasakan? Entahlah, kita asumsikan saja begitu sementara ini (hehehe… maksa..).
Scientist yang sekaligus juga seniman yang sudah sangat terkenal adalah Leonardo Da vinci. Da Vinci sebagai seniman sangat terkenal oleh karya besarnya yaitu lukisan Monalisa. Sedangkan sebagai Scientist, Da Vinci banyak menyusun konsep-konsep Sains misalnya daftar anatomi tubuh manusia terlengkap pertama kali. Aku pikir, mungkin saja di balik senyuman Monalisa yang misterius itu tersembunyi rumus-rumus rahasia sepatu apung (salah satu project Da Vinci) Hihihi…. Berkhayal….
Selain Da Vinci, aku juga yakin bahwa seniman-seniman lain, sebut saja Van Gogh atau Michaelangelo juga punya dasar yang teknis dalam membuat karya besar mereka.
Inspirasiku mengenai romantisnya sains datang dari “John Mayer”. Salah satu musician favouritku. Begitu menginspirasi karena dia sangat mahir menciptakan syair-syair lagu yang begitu romantis dari kata-kata seperti Free Fallin (Gerak jatuh bebas), Atmosphere, Gravity, dan Neon. Semua lagu itu ada di album accousticnya “Where The light is?” Sangat Sains, dan juga sangat romantis. Aku suka sekali. Inspirasi dari John Mayer membuatku yakin bahwa unsur Sains yang dimasukkan dalam sebuah karya seni, akan menciptakan keromantisan yang unik dan menggetarkan jiwa (uhuk uhuk huatchi…. Hihihi…). Hal ini berdasarkan konsep bahwa tubuh dan jiwa kita adalah bagian dari alam yang sudah tentu ilmiah. Sains adalah alam, alam adalah keindahan, keindahan adalah seni, seni adalah romatisme, maka sains adalah romantisme.
Terinspirasi dari John Mayer, aku yang sangat menyukai Sains, dan juga sangat hollic terhadap seni menulis puisi sekarang jadi suka menyisipkan unsur Sains dalam puisiku, dan menurutku sejauh ini, syair puisiku jadi punya taste yang berbeda dan lebih menggelitik. Aku sangat yakin, seorang Scientist punya potensi yang sangat besar untuk menjadi seniman yang super romantis. Ingin jadi Scientist atau penulis yang romantis? Aku mau keduanya, dan kurasa tak perlu membuat pilihan karena keduanya dapat berjalan dengan sangat sinergis.
Finally, thank you for visiting my Blog. Keep coming!!

 

Selamat Tinggal Pohon Rambutan, semoga masuk Surga November 7, 2009

Diarsipkan di bawah: The Long and Winding Road — ary dhamayanti @ 12:59 pm

Aku lahir di Bali, tapi masa kecilku sejak umur 3 bulan sampai 9 tahun aku habiskan di kota kelahiran ibuku, “Jogja”, kota yang dalam 4 tahun terakhir ini juga jadi tempatku menuntut ilmu (kuliah). Waktu aku kecil, hampir setiap hari aku dititipkan di rumah nenekku, dari jam pulang sekolah sampai malam bahkan kadang-kadang sampai besok paginya lagi (aku jarang tinggal di rumahku sendiri). Mungkin karena orang tuaku sibuk, entahlah sibuk ngapain, aku nggak terlalu ingat. Karena sakingnya terlalu sering dititip di rumah nenek, sampai-sampai aku memanggil nenekku dengan sebutan “ibu”, bahkan sampai sekarang pun tidak bisa kuubah (tapi tetap bisa kubedakan dengan ibuku yang asli kok, karena aku memanggil ibu kandungku “mama”). Mungkin dulu aku mengira nenekku adalah ibuku kali ya?? Hehehe…
Di halaman nenekku yang luas berbentuk persegi, tepat ditengah-tengahnya, ada pohon rambutan. Pohon itu besar sekali dan kelihatan gagah perkasa. Aku pernah menanyakan pada nenekku siapa yang menanam pohon rambutan itu, tapi kata nenek, sejak beliau kecil pun, pohon itu sudah segitu gedenya. Selain pada nenek, aku juga tanya pada nenek buyutku, kakaknya nenek, adeknya nenek, mama, tapi jawabannya sama semua. Jadi gak ada yang tau sejarah dan asal mula pohon itu.
Waktu itu aku duduk di kelas 1 SD, aku baru belajar naik sepeda roda dua (sepertinya agak telat). Aku belajar di halaman nenek dengan berkeliling memutari pohon rambutan itu. Aku gak tau kenapa kok aku susah banget belajar naik sepeda yah? Aku jatuh-jatuh terus, sampai kakiku penuh luka, bahkan ada yang membekas sampai sekarang (never worst deh). Beda banget sama adekku yang sekali belajar langsung bisa (padahal waktu dia belajar, dia masih TK). Ngiri deh… Kayaknya emang kemampuan belajarku rendah alias dong… dong… Tapi aku pantang menyerah, biar jatuh seribu kalipun, luka seberapa sakitnya pun, aku gak akan menyerah, aku juga gak pernah nangis waktu jatuh (paling-paling cuma meringis). Waktu aku belajar, pohon rambutan itu entah berapa kali aku tabrak. Sampe daun-daun dan buahnya pada rontok. Dan tentu saja aku yang jauh lebih merana daripada pohon rambutan itu karena habis nabrak aku pasti jatuh, trus luka. Waktu itu aku jarang sekali naek sepeda dengan kecepatan rendah. Karena menurut analisaku dulu, kecepatan mengayuh sepeda berbanding terbalik dengan peluang aku jatuh. Hahaha….. gak ada orang yang berani lewat-lewat dilintasan sepedaku waktu itu, takut ketabrak. Dan setelah perjuanganku entah berapa juta kali mengelilingi pohon rambutan, pulang sekolah, habis makan siang langsung naek sepeda sampai jam tidur siang, bangun tidur naek sepeda lagi sampai sore, dan akhirnya aku bisa naek sepeda. Yuwhuw… emang gak akan mudah sebelum susah.
Aku suka rumah nenek, banyak anak seusiaku di sana dan juga ada sepupu-sepupuku yang nakal-nakal, jadi aku gak pernah kesepian. Kalau di rumah, aku malah gak punya banyak teman, paling cuma main sendiri di dalam rumah. Di masa-masa berikutnya, gak lama setelah kemenanganku menaklukkan sepeda roda dua, aku masih selalu maen di halaman nenek. Aku dan teman-teman suka maen lompat karet. Kalau jumlah orangnya sedikit, kami bisa memakai satu saja orang yang jaga di ujung karet. Ujung lainnya cukup diikatkan di pohon rambutan. Kalau banyak orang, baru kami pakai dua orang yang jaga di masing-masing ujung karet. Main karet gak perlu pakai sandal, jadi sebaiknya memang dilakukan di bawah pohon yang rindang, biar telapak kaki gak terlalu kepanasan. Soalnya main karet pasti asyiknya siang-siang.
Bawah pohon rambutan juga tempat yang sangat strategis buat maen masak-masakan karena dekat dengan semua sumber daya alam yang diperlukan, aer dari keran belakang rumah pak de, tumpukan batu bata di dekat rumah mbah kakaknya nenek, trus tanah di bawah pohon langsung, juga daun-daunan dan rumput-rumput di sekitar pohon rambutan. Hehehe… I’ll get all I need. Komplit. Tinggal menggelar koran bekas untuk duduk. Beres…
Waktu itu pohon rambutan sempat berulat. Ulat bulu berwarna hijau, kecil-kecil, kalau kena bulunya puanas banget, rasanya seperti terbakar. Ulat bulu itu kalau di Jogja disebut ulet “Srengenge” yang artinya “matahari”. Yah, karena panas banget kayak matahari (sedikit hiperbolis). Waktu itu aku juga pernah kena kejatuhan ulat itu. Walaupun sebenarnya aku bukan termasuk yang takut atau geli terhadap ulat bulu, tapi panasnya bener-bener bikin kapok.
Hal yang paling menyenangkan adalah saat pohon rambutan berbuah, buahnya selalu banyak, merah-merah dan manis. Hmm…. panen rame-rame bareng keluarga dan teman-teman sangat mengasyikkan. Hal yang keliatannya pasti asyik tapi gak pernah kulakukan dengan pohon rambutan itu adalah memanjatnya. Soalnya dari segi fisiknya, pohon rambutan itu memang agak sulit dipanjat. Batang utamanya lurus tinggi dan cabangnya sulit banget dijangkau, jadi susah banget dipanjat. Kalau memanjat pohon nenek yang lain sih aku sering, seperti pohon jambu biji dan pohon mangga.
Itu pengalaman kecilku, waktu aku ke Jogja lagi untuk kuliah 4 tahun lalu dan tinggal di rumah nenek, pohon rambutan itu kelihatan sudah tua sekali walaupun masih kuat dan kokoh. Anehnya justru pohon itu semakin rajin berbuah, tapi sudah gak manis lagi walaupun warnanya merah-merah. Jadi sampai busuk pun, gak ada yang mau makan. Kasihan sekali. Kadang-kadang aku suka memandanginya dari depan kamarku. Kebetulan kamarku punya dua pintu, satunya yang langsung ke halaman rumah nenek dan satu lagi ke arah dalam menuju ruang nonton TV, jadi aku tetap bisa masuk ke rumah tanpa membangunkan orang-orang bila sewaktu-waktu perlu pulang malam. Waktu gempa jogja 27 Mei, aku dan keluarga nenek selama 2 hari tidur bersama di bawah pohon rambutan itu karena seringnya gempa susulan dan ada beberapa bagian rumah kami yang rusak dan belum sempat diperbaiki sehingga terlalu beresiko bila tinggal di dalam rumah.
Beberapa waktu yang lalu, aku sempat pulang ke Bali dalam jangka waktu yang lama. Sekitar 9 bulan dari bulan Januari sampai dengan Oktober. Waktu balik ke Jogja ternyata di halaman rumah nenek sudah dibangun lima kamar kos milik adeknya nenek. Dan ketika kutanyakan keberadaan pohon rambutan itu, ternyata memang sudah dieksekusi dan kayunya sudah diberikan ke orang lain untuk kayu bakar. Mmpphh…. menyedihkan juga sih. Tapi aku gak berpikir itu sesuatu yang kejam. Kan di dunia ini gak ada yang kekal, kecuali mungkin energy dan materi (sesuai hukum Newton). Suatu hari aku pasti juga mati, tapi saat aku mati, aku juga mau ah seperti pohon rambutan itu, sudah berbuat banyak jasa pada banyak orang dan meninggalkan banyak kenangan yang indah. Selamat tinggal pohon rambutan, semoga masuk surga, siapa tau, di kehidupan selanjutnya bisa bereinkarnasi menjadi manusia dan kita bisa berteman lagi seperti dulu.

 

From Tantri Kalpa : Dua Burung Nuri yang berlainan tabiat November 7, 2009

Diarsipkan di bawah: Free Loop — ary dhamayanti @ 12:57 pm

Hiyeah……posting lagi. Aseeekkk…
Bulan November ini menurutku adalah bulan yang sangat inspiratif, maka aku akan menceritakan sebuah cerita dari Tantri Kalpa yang lagi-lagi kutulis berdasarkan ingatanku dari hasil membaca buku Percikan Kebijakan. Judulnya Dua Burung Nuri yang berlainan tabiat. Semoga dapat memberikan inspirasi.
Di sebuah negeri, hiduplah seorang raja. Suatu hari, kerajaan tersebut diserang oleh kerajaan musuh dan kalah perang. Sang Raja terpaksa melarikan diri sendirian ke hutan. Setelah lari sangat jauh, sang raja mulai kelelahan dan berusaha mencari tempat untuk istirahat. Beliau menemukan sebuah pondok yang dihiasi beberapa kepala dan kulit binatang hutan. Nampaknya milik seorang pemburu. Sang Raja kemudian masuk ke halaman pondok tersebut untuk mengetuk pintu. Baru beberapa langkah memasuki halaman, raja mendengar suara yang sangat mengejutkan “Hei………Pencuri…………..Apa yang kau lakukan disini??………Pergi Kau Pencuri………” Raja berusaha mencari sumber suara yang sangat keras, kasar, dan tidak sopan tersebut. Ternyata suara tersebut adalah milik burung Nuri yang terdapat dalam sangkar yang digantung di salah satu sudut depan beranda pondok itu. Karena terkejut, sang raja segera pergi meninggalkan pondok pemburu tersebut kemudian melanjutkan perjalanan mencari tempat peristirahatan yang lain.
Sampai akhirnya raja tiba di sebuah pertapaan. Pertapaan itu tampak sepi, hanya terlihat seekor burung nuri di depan sebuah bilik. Khawatir akan terulangnya kalimat-kalimat kasar seperti yang baru saja ia dengar dari burung nuri di pondok pemburu, raja pun beranjak dan berniat untuk pergi. Namun, kemudian dia mendengar salam sapa yang sangat halus dan sopan “Selamat siang Baginda Raja, suatu kehormatan bagi kami anda bersedia berkunjung ke pertapaan ini. Kebetulan para pendeta sedang pergi ke peternakan untuk memerah lembu untuk membuat susu dan mentega. Baginda kelihatannya lelah sekali, silahkan beristirahat disini sambil menunggu. Para pendeta akan kembali tak lama lagi.” Raja merasa sangat heran sekaligus tersanjung dengan perkataan burung Nuri tersebut, dan beliau pun duduk beristirahat disana sambil menunggu kembalinya para pendeta.
Tak lama kemudian, para pendeta tiba di pertapaan, Raja kemudian dijamu dengan susu dan mentega yang sangat enak. Sambil bercengkrama mengenai pelariannya, raja menceritakan pengalamannya bertemu burung Nuri di pondok pemburu kepada para pendeta, sekaligus menanyakan mengapa perbedaan itu bisa terjadi. Salah satu pendeta yang arif bijaksana menjawab. Burung Nuri di pondok pemburu terbiasa mendengar dan melihat peringai dan kata-kata kasar, makian, tidak sopan dari pemburu, sehingga hal itulah yang kemudian dia tiru, sedangkan burung Nuri di pertapaan terbiasa melihat dan mendengar perilaku dan perkataan yang sopan, halus, lembut, dan penuh kasih, sehingga hal itu pula lah yang kemudian ia tiru. Karena itulah tabiat mereka berbeda.
Yeap, ceritanya selesai. Kesimpulan dari cerita ini adalah, hati-hatilah dalam berteman dan bergaul, karena dengan siapa kita berteman atau bergaul juga bisa mempengaruhi sikap dan perilaku kita. Nah, finally, thanks for visiting my blog yaa… keep reading…

 

Samurai dan Pendeta November 7, 2009

Diarsipkan di bawah: Free Loop — ary dhamayanti @ 12:53 pm

Aku suka sekali membaca cerita, dan juga sedang belajar menuliskannya kembali seperti beberapa cerita Tantri Kalpa yang aku tulis di Blog ini. Hari ini aku akan menuliskan cerita dari salah satu buku kesukaanku “Who am I?” yang ditulis Vikas Malkani. Sebenarnya, “Who am I?” itu bukan buku cerita sih, itu semacam buku motivasi untuk kekuatan jiwa gitu. Tapi ada satu contoh cerita di Bab terakhir (Bab ke 10). Kalau biasanya aku menuliskan cerita Tantri Kalpa dengan bahasaku sendiri, kali ini aku menyalin langsung dari bukunya, soalnya aku takut ntar maknanya gak sampai dengan benar kalau terlalu banyak kalimat yang kuubah. Kalau ada yang pengen baca bukunya dan gak ketemu boleh pinjem ke aku. Bukunya sangat menarik. Heee…… Ya sudah, silahkan dinikmati saja cerita ini yaa….
Dahulu kala di sebuah negeri Timur yang jauh, hidup seorang Samurai yang hebat. Seluruh hidupnya telah dihabiskan dalam peperangan dan pembunuhan musuh-musuhnya. Setelah ia beranjak menjadi tua, dia menjadi tertarik pada pertanyaan-pertanyaan tentang kematian dan makna dari surga dan neraka. Dia memutuskan harus menemukan jawaban-jawabannya sebelum dia mati. Kemudian ia berkeliling dan bertanya pada seseorang untuk memberinya jawaban tentang apa yang dia telah lihat.
Dia telah mendengar tentang seorang pendeta tua yang sangat arif bijaksana yang tinggal sendirian di sebuah biara yang terpencil. Sang samurai itu melakukan perjalanan selama beberapa hari sampai ia tiba di biara. Saat memasuki, dia mendapati seorang pendeta tua hening dalam doa sembahyang yang meditative.
Sang samurai melangkah dengan beraninya dan dengan berisiknya membangunkan sang pendeta, yang jelas terusik dan terganggu dengan kasar dan tidak sopan. Sang pendeta dengan pendeknya bertanya pada Samurai “Mengapa kamu menggangguku dalam doa?”
Sang samurai tidak menggunakan peluang berhadapan muka dengan memperlihatkan sikap tidak hormat, menjadi sangat marah dengan sang pendeta. Ia membetulkan bajunya, dia menarik pedang samurainya keluar dari sarungnya dan mengangkatnya di atas kepala pendeta untuk mendatangkan kematian bagi sang pendeta.
Dengan cepat sang pendeta melihat padanya dan berkata, “Itulah neraka.”
Sang samurai yang terkejut, ragu-ragu dan berfikir tentang apa yang telah pendeta katakana. Kemudian dia menurunkan pedangnya.
Sekali lagi sang pendeta berkata, “Dan itu adalah Surga.”
Sumber : Malkani, Vikas. 2004. Who am I?. Penerbit Smart Book, Jogjakarta. Bab 10 : Sebuah Kisah Pengajaran. Halaman 177 s.d 179
Yeap, selesai. Phiew….. silahkan membuat kesimpulan sendiri yaa…. Finally, thanks for visiting my blog, keep coming….

 

Where is The Shadow?? Oktober 5, 2009

Diarsipkan di bawah: Free Loop — ary dhamayanti @ 11:19 am

Aku tidak terlalu menyukai kucing, bahkan mungkin bisa dibilang agak sebal terhadap kucing. Walaupun aku sangat mengakui bahwa kucing memang termasuk binatang yang anggun dan indah, tapi aku menganut keyakinan bahwa kucing merupakan binatang yang sangat sombong, manja, dan sering memperbudak manusia untuk menjadi pelayannya. Wah… wah… aku juga gak nyangka aku sebegitu sebalnya sama kucing. Aku sangat meyakini apa yang disajikan dalam film “Cat and Dog” bahwa kucing mungkin memang benar-benar berencana untuk menguasai dunia dan memperbudak manusia. Wah, serem…. Di film “Ratatoille” (salah satu film kesukaanku), juga dijelaskan bahwa ada teori yang menyatakan bahwa kucing melihat manusia ke bawah (maksudnya memandang manusia sebagai makhluk yang lebih rendah dari dirinya) karena mungkin juga kucing sering jalan-jalan di genteng, makanya klo liat manusia ke bawah… hihihi…. Sudahlah, bukan itu inti dari postingan ini.
Begini, walaupun aku tidak menyukai kucing, ada seekor kucing yang sangat membuatku kagum. Di tempat aku tinggal di Jogja (kota dimana aku kuliah), aku sering melihat seekor kucing (sebenarnya ada beberapa kucing, bahkan bisa dibilang banyak, tapi yang menyita perhatianku cuma satu). Aku gak tau kucing itu kucing siapa, sepertinya sih liar. Kucing itu jantan, berbulu hitam nyaris di seluruh tubuhnya kecuali sedikit bagian berwarna putih berbentuk diamond tepat di bawah lehernya. Terlihat sangat keren, hampir seperti rajah permata. Di kegelapan, diamond putih itu akan kelihatan sangat menarik perhatian. Aku gak tau nama kucing itu siapa. Tapi karena warnanya hitam, aku sering memanggilnya Shadow, dan karena aku sangat mengaguminya, aku panggil Mr. Shadow, dan senangnya, dia merespon nama itu dengan baik.
Sebenarnya, kami tidak bisa dibilang akrab, karena Mr. Shadow adalah kucing jantan yang sangat cool. Dia hampir tidak pernah mengeong, bahkan aku tidak yakin apa aku benar-benar pernah mendengar suaranya atau tidak, silent type, hehehe, selalu berjalan dengan cool dan sangat anggun, dia akan menoleh sedikit dan berhenti berjalan sebentar jika aku memanggilnya “Mr. Shadow….” dan dengan pandangan yang seolah-olah bertanya “Apa maumu?”, dia akan menunggu sebentar, dan saat dia yakin aku hanya menyapanya, dia akan berlalu lagi. Phiewh….. cool banget….
Mr. Shadow dikenal orang-orang sebagai kucing yang tak pernah mencuri makanan, berbeda dengan kucing-kucing liar lain di daerah itu, sesekali dia akan mau jika diberi makanan, tapi dia pantang meminta dan merengek. Beberapa kali aku lihat dia di dapur, tidak untuk mencuri makanan, tapi dengan seekor tikus dimulutnya. Dia sangat senang berburu. Barangkali, Mr. Shadow benar-benar kucing dari ras ksatria. Hihihi… Wah, Mr. Shadow adalah kucing dengan kepribadian yang sangat mengagumkan.
Waktu ayahku mengunjungi aku ke Jogja, beliau sangat terkejut dan kagum ketika melihat Mr. Shadow. Yah, karena ayahku termasuk orang yang menyukai kucing (cukup beralasan). Karena tidak tau namanya (waktu itu belum kuberitahu), beliau memangil “puss…”. Dan, tidak seperti terhadapku (yang biasanya cuma noleh saja), Mr. Shadow berhenti berjalan dan duduk dengan kaki depan tetap lurus dan kedua kaki belakang ditekuk. Anggun sekali. Dan dia memandangi ayahku (tanpa mengeong). Ayahku mendekati Mr. Shadow dan dia diam, sampai jarak sekitar 1 meter ayahku berhenti mendekat dan berjongkok di hadapannya, memperhatikan tubuhnya dengan seksama. Mr. Shadow tetap duduk dengan anggun dengan dagu ditegakkan dan memandang ke mata ayahku (sombong atau gimana ya?). Setelah beberapa saat (cukup lama, dimana aku jadi penonton adegan aneh ini), akhirnya ayahku mengambil tindakan untuk mencoba membelai Mr. Shadow dan kalau bisa digendong untuk dipelihara. Tapi Mr. Shadow dengan cepat berlari menjauh beberapa meter kemudian duduk kembali seperti posisi persis sebelum dia lari. Wow….. Hmm, itu diartikan ayahku sebagai “Saya sangat menghargai ketertarikan anda terhadap saya, tapi saya sungguh menyesal dan minta maaf bahwa anda tidak dapat membawa saya sebagai binatang peliharaan karena saya kucing yang bebas”, menurut ekspresi Mr. Shadow yang kulihat sebelumnya, aku pun sependapat dengan ayahku. Hari-hari berikutnya, Mr. Shadow tetap berkunjung (atau mungkin cuma sekedar lewat). Kadang-kadang berhenti dan duduk untuk membiarkan kami mengaguminya sebentar. Huuh… sombongnyaaa… tapi dia juga sangat kereeeen…
Beberapa waktu (mungkin sekitar satu atau dua bulan), sebelum aku pulang ke Bali, Mr. Shadow lama tak nampak. Gak cuma aku, tapi tetangga-tetangga ternyata juga menyadari ketidakberadaan Mr. Shadow. Kemana sebenarnya Mr. Shadow ya? Benar-benar misterius. Apa dia benar-benar menghilang seperti bayangan? Hmm…….
Finally, thanks for visiting my Blog yaa… keep coming..

 

Cinta yang Sempurna Oktober 5, 2009

Diarsipkan di bawah: Free Loop — ary dhamayanti @ 11:18 am

Bersamamu adalah saat dimana aku tak pernah dewasa
Tetap saja ingin menggeliat di tempat tidur saat matahari sudah terbit
Dan kemudian engkau dengan tergesa-gesa menyiapkan segelas susu
Takut aku kelaparan

Bersamamu adalah saat aku menjadi begitu manja
Merengek padamu setelah selesai mandi dan berpakaian
Lalu engkau akan menyisir dan mengepang rambutku yang panjang
Rapi sekali

Kemarin, aku belum tau
Mengapa semua hal menyebalkan dariku menjadi begitu indah bagimu
Dan saat aku bertanya kepadamu tapi pagi
Dengan lembut engkau mencubit hidungku dan berkata
“Semua karena cinta, anakku…….”

Untuk Mama yang telah membuatku merasakan cinta yang sempurna

By : Dhamayanti

 

Neighbor From Hell Oktober 1, 2009

Diarsipkan di bawah: Free Loop — ary dhamayanti @ 11:33 am

Hiyeah….saatnya posting lagi. Kenapa yah, ngeblog itu bener-bener kegiatan yang seru dan sangat efektif meningkatkan level keceriaanku, sekaligus menghapus semua bete beserta jejak-jejaknya. Besok bisa-bisa ada seruan “Ceria Berkat Bloging”. Udah ah, kepanjangan intronya.

Akhir masa KKNku bulan Agustus 2008 kemaren dulu, tertinggallah sebuah folder game di Laptopku yang sebelumnya secara iseng-iseng kucopy dari laptop seorang temanku Indra yang waktu KKN sebutan resminya bos kormanit yang arti kiasannya adalah KOoRdinator MAhasiswa uNIT sedangkan arti sebenarnya adalah KORban MAhasiswa seNgIT (Akakakak…). Game itu adalah Neighbor From Hell yang merupakan game yang sangat popular di sub unitku.

Masa-masa KKN, aku tidak pernah menginstal dan memainkan game tersebut karena aku memang belum tertarik. Actually, aku memang bukan seorang gamers ataupun kolektor game. Entah kenapa juga, daya penguasaanku terhadap game sangatlah rendah. Bisa butuh waktu bertahun-tahun (lebay mode on) untuk menguasai sebuah game dan karena penguasaan yang membutuhkan waktu panjang itulah aku sering malas berpindah dari satu game ke game yang lain. Game yang sampai saat ini masih berada di urutan teratas kesukaanku adalah minesweeper hehehe…. Waktu tercepatku untuk menyelesaikan level beginner (yang terkecil/10 bom) adalah 8 detik. Ada yang lebih cepat?

Setelah sampai di Bali, Laptopku sering juga dimainin sama adekku yang masih duduk di kelas 1 SMP yang kebetulan dia memang gamer dan ditemukanlah folder tersebut. Kebetulan dia belum pernah mainin itu. Trus ga tau kenapa adekku jadi suka banget mainin Neigbor from hell itu. Aku emang suka banget nonton adekku maen game walaupun aku gak suka maen (kebiasaan yang aneh). Awalnya aku sebel juga sih sama si Woody di game ini yang jail banget. Tapi gak tau, lama-lama jadi kebius gitu, kok jadi lucu, trus pengen nyobain juga. Hahaha… akhirnya aku juga ikutan suka maen, bahkan jadi lebih hollic sama game itu dibandingin adeku (soalnya adeku maenin banyak game sih terutama game on line, klo aku kan cuma maen itu aja). Dalam seminggu, akhirnya aku berhasil katam game ini. Hihihi… penguasaan yang luar biasa mengingat kelemahanku dalam menguasai game.

Buat yang belom pernah nyobain, coba deh, gamenya gokil banget.

Finally, Thanks for visiting my Blog… Keep coming