Category: Poems


/1/ Di Tigapuluh Derajat Sudut Waktu Itu (by Ary Dharmayanti)

Jarum panjang kira-kira perlu bergerak tigapuluh derajat lagi sejak pukul delapanbelas tigapuluh. Sudut itu nampaknya pejal seperti batu. Jarum jam sedang tak ingin berputar terburu-buru. Dia lebih suka berbelok, mengolok, dan memutar-mutar kepalaku di ruang tunggu, memindah-mindah mataku dari jarum jam ke telepon selulerku. Kubunuh derajatnya satu demi satu, dengan menghitung berapa kira-kira sudut tinggal landas pesawatmu. Mungkinkah tigapuluh derajat?

Kubentuk sudut tigapuluh derajat antara bibirku dengan sedotan es tehku yang sekarang jadi tanpa es batu. Lebur oleh putaran gelisahku yang jauh lebih pesat daripada waktu.

Suaramu memutar tubuhku tigapuluh derajat. Dan kutemukan tigapuluh derajat jarum jam telah berpindah ke lengkung senyummu yang mistis, di atas sebuah janggut tipis.

Aku ingin berlari memeluk tubuhmu dan menangis. Membentuk sudut tigapuluh derajat lain dengan kepalaku mendongak memandang wajahmu. Tapi nyatanya kuhanya tersenyum manis.

“Selamat datang, sayang.”

Akan ada lebih dari sekedar tigapuluh derajat waktuku untukmu.

Yogyakarta, 23 Maret 2011
/2/ Tigapuluh Derajat Kita (by Halim Gani Safia)
Perih adalah tigapuluh derajat bengkokan kepala yang tersandar di lenganku, ketika ego terpilin-pilin hingga menggariskan ranah lengkung yang ekuivalen lalu mengabur bak lensa terhilang fokus. Tigapuluh derajat itu kutinggalkan, mengusang serupa kisah padam. Mohonku pada Tuhan, cegah ia bereinkarnasi.

Kemudian tigapuluh derajatmu datang menghambur pada mataku bagai serbuk nirwana, menetaskan telur kemukus bintang di langit malam Jakarta – embrio alpha omega – ditingkahi fortessimo piano – jemari yang mengeram, menggenggami awan jingga bilamana kutata gua.

Tigapuluh derajatmu itu setengah hasta menuju nuansa tak berkasta, ia berlumbung-lumbung, yang disetiapnya ada tari padendang, beralu-alu bak buluh perindu, hendaki menyatu.

Tigapuluh derajat kita serupa kemiringan kerusi ruh, dibibiti rindu, kelak kan beranakpinak dan melahirkan bayi penyair berbibir madu.

Jakarta, 23 Maret 2011

He took some pics of me with his Nikon D3100VR on the day he went back to Jakarta after visited me for few days.

Judul Asli : Intan

 

pagi ini waktuku menyulut sapa hangat untukmu

semoga nanti kobarnya juga membakar habis

sesosok rindu, melengkung di kepalaku

serupa tanda tanya

kulipat rapi dan kusimpan dalam saku

rapatrapat

aku tak ingin jauh terlambat

 

kusongsong rekah senyummu

tempat dimana ingin kujepitkan seguncang debar

yang tak pernah belajar bersabar

 

kubuka lipatan rinduku, kemudian

kutusuk mati dengan runcing suaramu yang memanggilku mesra

 

kusikap betapa pertemuan ini begitu kunantikan

lewat beebarap potong kalimat yang gugup dan ragu

seperti kelu yang berdenyut-denyut di dadaku

dalam sebuah prasangka

mungkinkah kau tahu? aku begitu merindukanmu

 

akhirnya kupersilakan pagi yang kikir ini

menguapkan salam perpisahan dari bibirku

padahal belum selesai kukubur rindu di perbaringan paling palung

kendati ia pasti bangkit lagi

rindu itu hanya sedang mati suri

 

kapankah?

kau tuntaskan rinduku sampai tak bernyawa

agar ia tak lagi mengganggu

 

ah, kutunggu saja waktu

 

 

check this link to rate and put comment yah.. :D

http://www.blog.gagasmedia.net/Puisi/tentang-sebuah-pertemuan.html

thank u :)

 

versi aslinya :

 

INTAN

: intan pratiwi

 

pagi ini waktunya menyulut sesapa hangat untukmu

kuharap nanti kobarnya juga membakar habis

sesosok rindu, melengkung di kepalaku

serupa tanda tanya

yang kulipat dan kusimpan rapi di saku

rapatrapat

 aku tak ingin jauh terlambat

 

kusongsong rekah senyummu

tempat dimana ingin kujepitkan seguncang debar

yang tak pernah belajar bersabar

 

kubuka lipatan rindu, kemudian

kutusuk mati dengan runcing suaramu yang memanggilku mesra

“kakak”

 

kusikap betapa pertemuan ini begitu kutunggu

lewat beberapa potong kalimat yang gugup dan ragu

seperti kelu yang berdenyut-denyut di dadaku

dalam sebuah prasangka

mungkinkah kau tahu? aku begitu merindukanmu

 

akhirnya kupersilakan pagi yang kikir ini

menguapkan salam perpisahan dari bibirku

padahal belum selesai kukubur rindu di pebaringan paling palung

kendati ia pasti bangkit lagi

rindu itu hanya sedang mati suri

 

kapankah, intan?

kau tuntaskan rinduku hingga tak bernyawa

agar ia tak lagi mengganggu

 

ah, kutunggu saja waktu

 

Yogyakarta, 11 Maret 2011

 

Selamat ulang tahun Intan terima kasih atas pertemuan yang begitu mengesankan :)

–Ary Dharmayanti–

duet with Imam Surya Budi

Hari perlahan berubah, senja.
Tak peduli seberapa kerasnya mentari meronta. Kau tetap
harus mengantarnya kembali ke peraduan.

Senja, bersama secangkir teh yang sama jingganya dengan
alunan Crepusculo Debussy yang terdengar seperti lullaby
Seperti paksamu pada mentari, rupanya ada
yang berniat mengusirku dari semesta

Apa kau sudah tak ingin bersamaku?
Mungkin terlalu banyak rahasia yang kita bagi bersama
aku lupa menyisakannya untuk esok sedikit saja

Kenangan-kenangan berulang cepat seperti rol film yang diputar:
Saat aku menemuimu dengan pipi bersemu merah jambu, dan
lengkung senyum yang memasung nafas kita. Atau saat gerimis
mengiringi tangisku yang perlahan pecah

Kini aku menemuimu lagi dengan seperlima potongan rembulan yang
tak sengaja memutus nadi.

visit this link to rate and put comment ya… :D

http://www.blog.gagasmedia.net/Puisi/percakapan-dengan-senja.html

thank u for visiting my blog..

Hanya Pinjaman

aku menitip cinta pada bulan di saat purnama
dan mengambilnya kembali waktu gerhana

para jangkrik bertanya
kemana perginya sebelah mata?
yang tadi mengerlingku dari balik jendela

dia sudah mengambil separuh jantungku
kataku
digunakannya untuk menulis bait-bait beku
kemudian disimpannya dalam saku

Ce-I-En-Te-A :D

Mari kuajarkan bagaimana mengeja namaku dengan benar. ce-i-en-te-a. Tidak! Salah! Bukan Nafsu! Bukan juga ambisi memiliki! Coba koreksi lagi! Mungkin kau hanya salah mengeja nama-nama disebelahku. Terkadang kami memang terlihat mirip.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.