Stop Stereofoam untuk Kesehatan dan Lingkungan

Standar

Belum lama ini, aku mengerjakan tugas dari dosen untuk tiket ujian mata kuliah Teknologi dan Manajemen Pengemasan. Topik tugasnya adalah Packaging vs Environment. Waktu aku browsing n’ baca sana sini, awalnya sih aku berencana mengulas plastik mikroseluler, tapi berhubung banyak banget yang enggak berhasil aku pahami, akhirnya sehari sebelum deadline, aku ganti jalur ke kemasan stereofoam dan inilah hasil kerjaku :

Stop Stereofoam untuk Kesehatan dan Lingkungan

I. LATAR BELAKANG
Makin meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap keamanan pangan member tantangan baru bagi industri pangan untuk memproduksi produk pangan yang berkualitas tinggi dan aman dikonsumsi. Sikap selektif konsumen tidak hanya diimplementasikan pada pemilihan produk pangan yang berkualitas dan aman dikonsumsi namun juga meliputi bagaimana penyimpanan, pengemasan, pengangkutan, dan cara pemasaran dari produk tersebut. Kemasan yang dapat dikatakan merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari produk memperoleh perhatian terbesar dari konsumen setelah produk itu sendiri.
Kemasan merupakan komponen yang sangat rentan terhadap preferensi konsumen. Kemasan merupakan hal pertama yang dilihat dan segera memperoleh perhatian dan penilaian dari konsumen yang akan sangat berpengaruh pada preferensi konsumen terhadap produk. Kesadaran akan keamanan pangan menyebabkan semakin tingginya kualitas kemasan yang diminta konsumen. Konsumen semakin menuntut kemasan yang benar-benar dapat menjaga dan melindungi produk dari perubahan-perubahan sifat baik secara fisik, kimia, maupun biologis sehingga dapat mempertahankan karakteristik produk pangan tetap sama dari saat diproduksi sampai dengan saat dikonsumsi.
Dalam perkembangan selanjutnya, kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan mewarnai industri pangan. Tidak hanya untuk kualitas dan keamanan pangan, produsen juga dituntut untuk merancang sistem produksi yang ramah lingkungan dan sesedikit mungkin mempengaruhi keseimbangan ekosistem. Kemasan yang tak luput dari dampak meningkatnya kesadaran lingkungan menghadapi tantangan baru tidak hanya harus dapat menjaga karakteristik produk pangan hingga dikonsumsi, namun juga harus ramah lingkungan dari pemilihan bahan baku, proses produksi, maupun setelah kemasan tidak digunakan lagi dan dibuang ke lingkungan.
Dengan adanya tantangan baru pada industri pangan ini, diperlukan sebuah sistem untuk mengendalikan kemasan produk pangan sehingga dapat memenuhi permintaan konsumen yaitu kualitas dan keamanan pangan serta kelestarian lingkungan.

II. PERMASALAHAN
Pada awal perkembangan industri pangan, produk pangan dikemas dengan menggunakan bahan-bahan alami yang tersedia di alam dengan teknik pengemasan yang sangat sederhana. Hal ini sesuai dengan kebutuhan bahwa produk hanya diperdagangkan dalam jangka waktu yang singkat dan jarak yang dekat. Semakin lama, perdagangan produk pangan semakin luas bahkan sampai pada perdagangan internasional atau perdagangan antar negara. Struktur baru dalam perdagangan ini menyebabkan semakin diperlukannya sistem pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan.
Berbagai kemasan dari berbagai material berkembang seiring dengan perkembangan industri pangan hingga saat ini dikenal berbagai jenis bahan kemasan yaitu kemasan kaca atau gelas, kemasan plastik, kemasan kertas, kemasan kaleng, kemasan stereofoam, dan lain-lain.
Saat ini, tuntutan konsumen sampai kepada produk pangan yang berkualitas tinggi, aman dikonsumsi, dan ramah lingkungan serta menggunakan sistem pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan yang juga ramah lingkungan. Untuk menghadapi tantangan ini, industri pangan terus mengusahakan penggunaan bahan kemasan yang dapat menjaga kualitas dan keamanan pangan dan aman bagi lingkungan.
Bahan stereofoam pada awalnya digunakan sebagai bahan pelindung untuk produk-produk elektronik seperti televisi, komputer, radio, dan sebagainya untuk menahan benturan-benturan ringan sehingga mencegah kerusakan mekanis pada produk-produk elektronik. Dalam industri, stereofoam digunakan sebagai bahan insulasi untuk mempertahankan suhu.
Sifat bahan stereofoam yang dapat mempertahankan suhu baik panas maupun dingin, harga yang murah, anti bocor, dapat mempertahankan bentuk, praktis, serta penampilannya yang menarik dan terkesan bersih dengan segera menarik perhatian produsen untuk menggunakan bahan stereofoam sebagai kemasan produk pangan. Penggunaan kemasan stereofoam untuk produk pangan kemudian berkembang pesat dari mulai penggunaannya untuk produk-produk makanan tradisonal sampai dengan produk pangan manufaktur. Kemasan stereofoam mulai luas digunakan dari penjaja makanan di pinggir jalan, restoran cepat saji, sampai kepada industri-industri besar.
Namun berbagai karakteristik bahan kemasan stereofoam yang begitu menggiurkan bagi industri pangan segera luruh karena bahan stereofoam diindikasikan memiliki bahaya bagi kesehatan dan lingkungan yang berarti bahwa kemasan stereofoam tidak dapat memenuhi kriteria permintaan dari konsumen mengenai bahan kemasan yang aman dan ramah lingkungan.
Stereofoam dibuat dari bahan kopolimer styrene yang diproses dengan benzene. Bahan-bahan tersebut merupakan bahan yang bersifat karsinogenik dan sangat berbahaya bagi kesehatan. Jika bereaksi dengan panas, lapisan stereofoam dapat mencairkan banyak residu stereofoam yang berbahaya dan beracun. Dampak residu stereofoam dapat menyebabkan endocrine disrupter (EDC) yaitu gangguan pada sistem endokrin dan reproduksi pada manusia karena bahan karsinogenik.
Benzena pada bahan stereofoam dapat menyebabkan masalah pada kelenjar tyroid dan mengganggu sistem saraf sehingga dapat menyebabkan kelelahan, mempercepat detak jantung, mengakibatkan sulit tidur dan badan gemetar serta mudah gelisah. Pada beberapa kasus, benzene bahkan dapat menyebabkan hilangnya kesadaran dan kematian. Saat benzene masuk ke dalam tubuh, benzene kemudian akan masuk ke sel-sel darah dan terakumulasi di sumsum tulang belakang dan dapat merusak sumsum tulang belakang. Dengan demikian akan mengurangi produksi sel-sel darah merah dan mengakibatkan anemia. Efek lain yang diakibatkan adalah menurunnya sistem imun atau kekebalan sehingga menngkatkan kerentanan terhadap berbagai penyakit. Pada wanita, dampak juga akan meluas pada siklus menstruasi dan kehamilan. Benzene juga diindikasi dapat menyebabkan kanker payudara dan kanker prostat. Beberapa lembaga dunia seperti WHO (World Health Organization), International Agency for Research on Cancer dan EPA (Environmental Protection Agency) telah mengkategorikan stereofoam sebagai bahan karsinogenik (pemicu timbulnya kanker).
Tidak hanya dengan panas, menurut hasil penelitian, bahan stereofoam juga peka terhadap lemak, asam, serta alkohol. Ketiga bahan tersebut diindikasikan dapat mempercepat laju perpindahan bahan-bahan berbahaya dari lapisan stereofoam kepada makanan. Padahal, umumnya lemak dan asam merupakan bahan yang sangat sering kita jumpai dalam makanan. Di beberapa tempat penjualan makanan cepat saji bahkan terdapat jasa menghangatkan kembali produk makanan yang dikemas dalam stereofoam dengan microwave. Dengan demikian, dapat dibayangkan betapa besar resiko yang dihadapi konsumen untuk mengkonsumsi makanan hangat mengandung asam, lemak, dan alcohol yang dikemas menggunakan stereofoam. Sangat tidak bijaksana bahwa saat ini terdapat beberapa industri makanan yang menyatakan keamanan penggunaan stereofoam bahkan untuk makanan instan yang diseduh dengan air panas.
Selain berakibat negative bagi kesehatan, penggunaan stereofoam juga berdampak sangat tidak baik bagi lingkungan. Penguraian stereofoam di lingkungan dapat berlangsung puluhan dan bahkan dapat mencapai ratusan tahun. Semakin banyaknya penggunaan kemasan stereofoam dapat menyebabkan penumpukan limbah kemasan stereofoam yang merusak lingkungan. Penguraian kemasan dengan cara pembakaran justru akan melepaskan bahan-bahan berbahaya dalam stereofoam ke udara yang sangat berbahaya bila terhirup dan terakumulasi dalam tubuh. Kemasan stereofoam yang terbawa ke laut akan merusak biota laut. Beberapa perusahaan yang mendaur ulang stereofoam hanya menghancurkan stereofoam lama untuk membentuk stereofoam baru dan kemudian menggunakannya kembali sebagai bahan kemasan baru.
Dari segi proses pembuatan, produksi bahan kemasan stereofoam juga tidak ramah lingkungan. Data EPA (Environment Protection Agency) pada tahun 1986 menyebutkan bahwa proses pembuatan stereofoam menghasilkan sangat banyak limbah yang berbahaya dan mengantarkan proses pembuatan stereofoam sebagai penghasil limbah berbahaya terbesar kelima di dunia. Proses pembuatan sterofoam juga menimbulkan bau tak sedap yang mengganggu pernapasan.
Produksi stereofoam melepaskan 57 bahan berbahaya ke udara termasuk CFC yang merusak lapisan ozon. Dengan demikian semakin banyak dampak negative penggunaan stereofoam sebagai bahan kemasan sehingga perlu dilakukan langkah-langkah untuk mengurangi dan dalam perkembangan selanjutnya menghentikan penggunaan stereofoam sebagai bahan kemasan produk pangan demi kesehatan dan kelestarian lingkungan.

III. SOLUSI PERMASALAHAN
Berdasarkan permasalahan yang telah diungkapkan diatas, sangat diperlukan langkah-langkah atau gerakan-gerakan untuk mengurangi dan kemudian menghentikan penggunaan bahan stereofoam untuk kemasan produk pangan.
Masalah terbesar yang dihadapi dalam usaha mengurangi penggunaan bahan kemasan stereofoam adalah penggunaannya yang sudah semakin luas dan membudaya. Banyak konsumen yang telah memiliki kesadaran tentang bahaya penggunaan bahan kemasan stereofoam terhadap kesehatan dan lingkungan namun masih membeli produk dengan kemasan stereofoam karena terpaksa. Hal ini dikarenakan masih banyaknya industri makanan baik skala UKM maupun industri besar yang menggunakan kemasan stereofoam.
Untuk mengurangi penggunaan bahan kemasan stereofoam, pemerintah diharapkan dapat memberikan sanksi yang tegas untuk membatasi penggunaan bahan kemasan stereofoam untuk produk pangan yang tersertifikasi. Selain itu perlu dibentuk lembaga yang secara berkala dapat dipercaya untuk mengawasi penggunaan bahan kemasan stereofoam agar tidak melebihi batas-batas yang membahayakan lingkungan dan kesehatan.
Langkah yang sudah terlihat dari industri pangan adalah keputusan yang dilakukan oleh perusahaan makanan cepat saji Mc Donald untuk menghantikan penggunaan stereofoam untuk kemasan produk-produknya. Dengan adanya peraturan yang tegas dari pemerintah, gerakan ini diharapkan dapat diikuti oleh perusahaan-perusahaan yang lain hingga dapat secara penuh menghentikan penggunaan stereofoam sebagai bahan kemasan industri pangan.
Untuk membudayakan penggunaan bahan kemasan yang ramah lingkungan, diperlukan peran aktif lembaga pendidikan untuk memberikan pemahaman kepada generasi muda mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dengan menggunakan bahan-bahan yang aman bagi lingkungan. Pendidikan mengenai pentingnya penggunaan bahan-bahan yang aman bagi lingkungan dapat dimulai dari jenjang pendidikan yang paling dini dengan menginformasikan kepada anak-anak tentang bahaya penggunaan kemasan stereofoam bagi lingkungan serta memberikan teladan untuk membudayakan penggunaan bahan yang aman bagi kelestarian lingkungan.
Salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk menjaga kelestarian lingkungan adalah menggunakan bahan-bahan alami yang biodegradable sebagai bahan kemasan tanpa mengurangi keamanan pangan pada proses pengangkutan, penyimpanan, dan pemasaran. Dengan demikian, menjadi tantangan baru bagi industri untuk mencari bahan kemasan yang memenuhi syarat kualitas dan keamanan pangan serta ramah lingkungan.
Dalam mengurangi penggunaan bahan kemasan stereofoam untuk produk pangan di gerai-gerai dan restoran, perlu dibudayakan kepada masyarakat untuk mulai menggunakan tempat makanan pribadi untuk membawa makanan yang dibeli. Selain lebih aman bagi kesehatan dan lingkungan, penggunaan tempat makanan pribadi dapat mengurangi sampah bahan kemasan sehingga akan berdampak baik bagi kelestarian lingkungan.

IV. KESIMPULAN
Penggunaan stereofoam sebagai bahan kemasan produk pangan memilki banyak dampak negative bagi kesehatan dan lingkungan sehingga diperlukan langkah-langkah untuk menghentikan penggunaan bahan kemasan stereofoam. Langkah-langkah yang dapat diterapkan adalah dengan memberikan pendidikan kepada generasi muda, membatasi secara hukum penggunaan stereofoam, menggunakan bahan-bahan yang biodegradable sebagai pengemas, dan membudayakan kepada masyarakat tentang penggunaan tempat makanan probadi yang lebih aman bagi kesehatan dan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
www.pencintasenja.multiply
www.foldermagazine.com
www.organisasi.org
www.web.bisnis.com

Sebelum ngerjain tugas ini aku cuma sekedar tau aja klo kemasan stereofoam itu ga baik bagi kesehatan dan lingkungan tapi aku ga begitu peduli dan masih tetap membeli produk berkemasan stereofoam. Sekarang setelah aku nulis ulasan seperti ini, masak iya aku ga malu klo masih pake kemasan stereofoam? Malu aja ah. Sekarang, ga mau lagi. Kamu gimana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s