Pura Erjeruk Trough The Ages

Standar

Pada tau Pasar Seni Sukawati Gianyar kan? Lahan empuk buat kulakan bagi para pebisnis barang seni yang pasti banyak banget diantara kalian. Gak jauh-jauh, keberadaan Pura Erjeruk juga berada di Sukawati Kabupaten Gianyar.

Pura Erjeruk adalah salah satu Pura Dang Kahyangan, Pura yang menurutku kuno banget tapi juga sangat keren. Terakhir aku berkunjung kesana waktu Tilem Kadasa, Jumat 24 April lalu. Masih satu rangkaian hari terakhir upacara Pujawali di Pura ini yang jatuh pada Buda Kliwon Pahang yaitu tanggal 22nya.

Diberi nama Pura Erjeruk karena konon lokasi pura ini jaman dahulu pernah dihempas air laut sampai menceruk ke lokasi Pura Erjeruk jadi disebut Pura Erjeruk. Menurut cerita sejarah, Pura Erjeruk didirikan oleh Raja Kesari Warmadewa pada awal abad ke 10 Masehi. Wah, jadul banget.

Disebut Pura Dang Kahyangan karena di Pura Erjeruk terdapat Manjangan Saluwang sebagai pemujaan Mpu Kuturan dan juga Meru Tumpang Tiga sebagai pemujaan Danghyang Nirartha. Adanya dua Dang Guru menandakan Pura Erjeruk pernah difungsikan sebagai media pendidikan rohani Hindu sehingga disebut Pura Dang Kahyangan. Pura ini diempu oleh 13 Subak di sekitar Sukawati.

Di Pura Erjeruk, kita bisa melihat dua patung pendeta suami istri dengan sikap Tri Kona. Yang Lanang (laki-laki) duduk dengan sikap Padmasana, sedangkan yang istri (wanita) duduk dengan sikap Bajrasana. Sikap Tri Kona ini menggambarkan fungsi pandita adalah menanamkan sikap hidup Tri Kona pada rakyat yang terdiri dari Utpati (penciptaan), Stithi (Pemeliharaan), dan Pralina (Peleburan) untuk keseimbangan hidup.

Di bagian Madya Mandala terdapat Pelinggih Gedong sebagai stana Ratu Gede yang konon merupakan stana roh suci Dalem Watu Renggong.

Di bagian Utama Mandala terdapat pelinggih yang paling utama berbentuk Meru Tumpang Lima sebagai stana Ida Batara Putranjaya. Pelinggih ini terletak di tengah leretan timur areal Pura Erjeruk. Di kiri pelinggih utama terdapat Pelinggih Manjangan Saluwang sebagai tempat pemujaan Mpu Kuturan yang pernah berkedudukan sebagai Bhagawanta Raja Bali pada abad ke-11 Masehi. Meru Tumpang Tiga terdapat di sebelah utara pelinggih utama sebagai media pemujaan roh suci Dang Hyang Dwijendra.

Selain itu ada pelinggih Limas Sari sebagai pesimpangan untuk memuja Ida Batara di Pura Lempuyang Luhur, Pesimpangan Sapta Petala untuk pemujaan Bhatara Ananta Boga, Padma Sari sebagai Pelinggih Pesimpangan Batara Ulun Danu, Limas Sari sebagai Pesimpangan Batara di Gunung Agung, Pelinggih Gedong Tumpang Dua sebagai Pesimpangan Bhatara Gunung Batur, dan Pelinggih Pesimpangan Bahatara di Gunung Batukaru. Komplit deh.

Pura Erjeruk juga digunakan untuk melaksanakan upacara Nangluk Mrana pada sasih keenam sebagai penghormatan pada Ratu Mas Mecaling atau Ratu Gede Nusa yang dipercaya memiliki kekuasaan untuk melindungi pertanian dari hama. Pelinggih Pesimpangan untuk Ratu Mas Mecaling terletak di halaman paling luar atau jaba sisi.

Aku berkunjung kesana waktu itu agak malem, sekitar jam 7. Karena wilayahnya di pantai, trus sedang tilem, pemandangan langitnya jadi indah. Bintang-bintang keliatan terang benderang, suara ombaknya lembut, trus anginnya semilir. Wuih, romantis. Feels like home (Emang aku ikan rumahnya di laut? Hihihi…). Pokoknya suasananya bener-bener nyaman. Auranya ramah, hangat, dan sangat bersahabat.

Di Pura Erjeruk ini juga, kita bisa lihat pohon besar berlubang (lupa itu pohon apa ya?). Usianya udah ratusan tahun. Menurut yang empunya Pura aja (klo di Bali Selatan biasanya panggilannya Ratu ya? kebetulan istri), beliau sendiri nemunya pohon itu ya udah segitu dan gak ada yang bisa menceritakan asal mulanya. Disekeliling pelinggih-pelinggihnya juga ada arca-arca kuno, walaupun sebenernya sudah direnovasi (sudah diganti yang baru) tapi yang lama masih dipajang disitu. Ukiran-ukiran di pintu masuknya juga kuno banget. Kayak mengunjungi candi kuno gitu rasanya. Pokoknya keren deh.

Bagi temen-temen yang belum pernah berkunjung, patut dicoba deh, rugi banget kalau gak, terutama yang suka ke Pasar Sukawati, kan bisa sekalian belanja. Finnaly, suksma so much for visiting my blog, keep reading!!

2 thoughts on “Pura Erjeruk Trough The Ages

    • ary dhamayanti

      Waktu itu kan hari ketiga odalannya, jadi udah agak sepi gitu. Lagian bareng sama pancawalikrama yang di besakih juga sih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s