A Tale From Tantri Kalpa Again : Mencari Orang Paling Dungu

Standar

Huff…ting…muncul deh arsip untuk bulan Juli. Di pertengahan tahun yang sangat inspiratif ini, kupikir, ini saat yang baik untuk menyajikan sebuah dongeng lagi. Dari Tantri Kalpa, yang kutulis (eh, kuketik) berdasarkan ingatan dari buku yang kubaca “Percikan Kebijakan”. Mencari Orang Paling Dungu. Check it out!!

Di sebuah negeri, hiduplah seorang pemuda, dia cerdas dan berwawasan luas, memiliki kehidupan yang cukup layak karena ia bekerja sebagai abdi kerajaan. Dia memiliki kekasih seorang bunga desa yang sangat cantik yang sudah dilamarnya dan mereka akan segera menikah. Suatu pagi, pemuda itu mengunjungi kekasihnya yang cantik di rumah keluarganya. Betapa terkejutnya dia karena begitu tiba di rumah gadis itu, dia melihat kekasihnya sedang menangis bersama ayah dan ibunya. Sang pemuda bertanya “Ada apa?” dan kekasihnya pun menjawab sambil menunjuk ke langit-langit rumah. “Lihatlah, ayahku selalu meletakkan kapak di langit-langit rumah kami. Kita akan segera menikah, dan nantinya akan punya anak, bayangkanlah bila suatu hari anak-anak kita bermain di rumah dan kapak itu terjatuh, kami menangis bersama untuk itu.” Sang pemuda sungguh tidak habis pikir tentang apa yang baru saja ia dengar, ia berpikir betapa dungunya calon istri dan keluarga mertuanya ini. Ia segera mengambil tangga, memanjat dan mengambil kapak yang tergantung di langit-langit. Kemudian menyerahkan kapak kepada calon ayah mertuanya dan berkata “Ayah, mulai sekarang, simpanlah kapak ini di tempat yang aman.” Sambil masih tersedu, calon ayah mertuanya menerima dan menyimpan kapak itu. Dengan perasaan bingung, pemuda kemudian meninggalkan rumah calon istrinya. Betapa dia sangat sulit menerima kenyataan bahwa calon istri dan keluarganya ternyata sangat dungu. Kemudian dia berpikir untuk menunda pernikahannya sementara waktu. Dia akan mengembara ke seluruh negeri, bila ia menemukan orang yang lebih dungu daripada calon istrinya, maka ia akan kembali dan menikahi kekasihnya, namun jika dia tidak menemukan orang yang lebih dungu, maka ia akan membujang selamanya. Dalam perjalanannya, di sebuah gubuk, dia melihat seorang yang sedang duduk sambil menggapai-gapai kearah kakinya. Dia tidak mengerti dan kemudian bertanya kepada orang itu. “Apa yang sedang anda lakukan?” kemudian dijawab “Aku sedang memanggil sepatuku untuk memasukkan kakiku kepadanya”. Pemuda itu bingung dan bertanya lagi. “Mengapa anda tidak mengambilnya dan memakaikannya sendiri di kaki anda?” dijawab lagi “Tidak, dia yang seharusnya atang ke kakiku”. Pemuda itu pun pergi sambil keheranan dan kemudian melanjutkan pengembaraannya lagi hingga sampailah ia ke sebuah rumah tua yang atapnya telah ditumbuhi rumput. Di sana ia melihat seorang nenek-nenek sedang mendorong-dorong seekor sapi untuk menaiki sebuah tangga bambu menuju ke atap. Kemudian dia bertanya kepada nenek-nenek itu “Apa yang sedang anda lakukan?” dan kemudian dijawab oleh nenek-nenek itu “Aku sedang menyuruh sapiku untuk mencari makan diatap” dengan keheranan, si pemuda bertanya lagi “ Mengapa anda tidak naik kea tap dan mengambilkan rumput itu untuk sapi anda?” dan dijawab lagi oleh sang nenek “Tidak, dia harus mandiri dan bisa mencari makan sendiri”. Pemuda itu pun keheranan dan memutuskan untuk pergi melanjutkan pengembaraannya. Di suatu malam bulan purnama, dia melihat sekumpulan orang beramai-ramai berkumpul di tepi sebuah danau. Dia pun bertanya “Apa yang sedang anda-anda sekalian lakukan?” kemudian salah satu dari kerumunan orang menjawabnya samba menunjuk bayangan bulan di danau “Lihatlah, bulan tenggelam di danau, kami harus mengerigkan danau ini, mengambil bulan, dan mengembalikan bulan ke langit”. Pemuda itu tak tahan dengan kedunguan orang-orang ini dan berkata “LIhatlah ke langit tuan, bulan masih ada disana, bulan tidak tenggelam, yang anda lihat di danau hanyalah bayangan bulan saja” dijawab lagi oleh orang yang ditanyainya tadi “Anda benar, bulan masih di langit dan di danau” orang itu kemudian berseru pada teman-temannya “Lihatlah, bulan kembar, satu di langit, satu di danau, ayo cepat kita keringkan danau untuk mengembalikan bulan satunya ke langit lagi”. Akhirnya pemuda itu tak tahan lagi dengan pengembaraannya, ternyata begitu banyak orang yang jauh lebih dungu dari calon istrinya dan keluarga mertuanya. Dia pun kembali pulang untuk menikahi kekasihnya dan hidup bahagia. Fin..

Ufff, cukup panjang. Kita bisa simpulkan bahwa No Body’s perfect, so, kita harus bisa menerima kelebihan dan kekurangan orang lain dengan ikhlas yah, karena kita kan juga gak luput dari kelebihan dan kekurangan. Kenapa aku pilih cerita ini? Hmm, sebenarnya aku sering mengalami dejavu akhir-akhir ini. Entah kenapa banyak orang menasehatiku mengenai hal yang sama. Wkwkwkwk…dan aku diberi nasehat tanpa kuminta. Kalau hanya satu atau dua orang aja mungkin ga bakal kupikir, tapi ini karena sudah lebih dari lima orang yang menasehatiku, jadi kupikir kemungkinan besar itu benar. Dan itu yang membuatku jadi ingat cerita ini. Kok mirip banget ya, hehehe…

2 thoughts on “A Tale From Tantri Kalpa Again : Mencari Orang Paling Dungu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s