From Tantri Kalpa : Dua Burung Nuri yang berlainan tabiat

Standar

Hiyeah……posting lagi. Aseeekkk…
Bulan November ini menurutku adalah bulan yang sangat inspiratif, maka aku akan menceritakan sebuah cerita dari Tantri Kalpa yang lagi-lagi kutulis berdasarkan ingatanku dari hasil membaca buku Percikan Kebijakan. Judulnya Dua Burung Nuri yang berlainan tabiat. Semoga dapat memberikan inspirasi.
Di sebuah negeri, hiduplah seorang raja. Suatu hari, kerajaan tersebut diserang oleh kerajaan musuh dan kalah perang. Sang Raja terpaksa melarikan diri sendirian ke hutan. Setelah lari sangat jauh, sang raja mulai kelelahan dan berusaha mencari tempat untuk istirahat. Beliau menemukan sebuah pondok yang dihiasi beberapa kepala dan kulit binatang hutan. Nampaknya milik seorang pemburu. Sang Raja kemudian masuk ke halaman pondok tersebut untuk mengetuk pintu. Baru beberapa langkah memasuki halaman, raja mendengar suara yang sangat mengejutkan “Hei………Pencuri…………..Apa yang kau lakukan disini??………Pergi Kau Pencuri………” Raja berusaha mencari sumber suara yang sangat keras, kasar, dan tidak sopan tersebut. Ternyata suara tersebut adalah milik burung Nuri yang terdapat dalam sangkar yang digantung di salah satu sudut depan beranda pondok itu. Karena terkejut, sang raja segera pergi meninggalkan pondok pemburu tersebut kemudian melanjutkan perjalanan mencari tempat peristirahatan yang lain.
Sampai akhirnya raja tiba di sebuah pertapaan. Pertapaan itu tampak sepi, hanya terlihat seekor burung nuri di depan sebuah bilik. Khawatir akan terulangnya kalimat-kalimat kasar seperti yang baru saja ia dengar dari burung nuri di pondok pemburu, raja pun beranjak dan berniat untuk pergi. Namun, kemudian dia mendengar salam sapa yang sangat halus dan sopan “Selamat siang Baginda Raja, suatu kehormatan bagi kami anda bersedia berkunjung ke pertapaan ini. Kebetulan para pendeta sedang pergi ke peternakan untuk memerah lembu untuk membuat susu dan mentega. Baginda kelihatannya lelah sekali, silahkan beristirahat disini sambil menunggu. Para pendeta akan kembali tak lama lagi.” Raja merasa sangat heran sekaligus tersanjung dengan perkataan burung Nuri tersebut, dan beliau pun duduk beristirahat disana sambil menunggu kembalinya para pendeta.
Tak lama kemudian, para pendeta tiba di pertapaan, Raja kemudian dijamu dengan susu dan mentega yang sangat enak. Sambil bercengkrama mengenai pelariannya, raja menceritakan pengalamannya bertemu burung Nuri di pondok pemburu kepada para pendeta, sekaligus menanyakan mengapa perbedaan itu bisa terjadi. Salah satu pendeta yang arif bijaksana menjawab. Burung Nuri di pondok pemburu terbiasa mendengar dan melihat peringai dan kata-kata kasar, makian, tidak sopan dari pemburu, sehingga hal itulah yang kemudian dia tiru, sedangkan burung Nuri di pertapaan terbiasa melihat dan mendengar perilaku dan perkataan yang sopan, halus, lembut, dan penuh kasih, sehingga hal itu pula lah yang kemudian ia tiru. Karena itulah tabiat mereka berbeda.
Yeap, ceritanya selesai. Kesimpulan dari cerita ini adalah, hati-hatilah dalam berteman dan bergaul, karena dengan siapa kita berteman atau bergaul juga bisa mempengaruhi sikap dan perilaku kita. Nah, finally, thanks for visiting my blog yaa… keep reading…

Share on Facebook

Share on Twitter

2 thoughts on “From Tantri Kalpa : Dua Burung Nuri yang berlainan tabiat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s