Samurai dan Pendeta

Standar

Aku suka sekali membaca cerita, dan juga sedang belajar menuliskannya kembali seperti beberapa cerita Tantri Kalpa yang aku tulis di Blog ini. Hari ini aku akan menuliskan cerita dari salah satu buku kesukaanku “Who am I?” yang ditulis Vikas Malkani. Sebenarnya, “Who am I?” itu bukan buku cerita sih, itu semacam buku motivasi untuk kekuatan jiwa gitu. Tapi ada satu contoh cerita di Bab terakhir (Bab ke 10). Kalau biasanya aku menuliskan cerita Tantri Kalpa dengan bahasaku sendiri, kali ini aku menyalin langsung dari bukunya, soalnya aku takut ntar maknanya gak sampai dengan benar kalau terlalu banyak kalimat yang kuubah. Kalau ada yang pengen baca bukunya dan gak ketemu boleh pinjem ke aku. Bukunya sangat menarik. Heee…… Ya sudah, silahkan dinikmati saja cerita ini yaa….
Dahulu kala di sebuah negeri Timur yang jauh, hidup seorang Samurai yang hebat. Seluruh hidupnya telah dihabiskan dalam peperangan dan pembunuhan musuh-musuhnya. Setelah ia beranjak menjadi tua, dia menjadi tertarik pada pertanyaan-pertanyaan tentang kematian dan makna dari surga dan neraka. Dia memutuskan harus menemukan jawaban-jawabannya sebelum dia mati. Kemudian ia berkeliling dan bertanya pada seseorang untuk memberinya jawaban tentang apa yang dia telah lihat.
Dia telah mendengar tentang seorang pendeta tua yang sangat arif bijaksana yang tinggal sendirian di sebuah biara yang terpencil. Sang samurai itu melakukan perjalanan selama beberapa hari sampai ia tiba di biara. Saat memasuki, dia mendapati seorang pendeta tua hening dalam doa sembahyang yang meditative.
Sang samurai melangkah dengan beraninya dan dengan berisiknya membangunkan sang pendeta, yang jelas terusik dan terganggu dengan kasar dan tidak sopan. Sang pendeta dengan pendeknya bertanya pada Samurai “Mengapa kamu menggangguku dalam doa?”
Sang samurai tidak menggunakan peluang berhadapan muka dengan memperlihatkan sikap tidak hormat, menjadi sangat marah dengan sang pendeta. Ia membetulkan bajunya, dia menarik pedang samurainya keluar dari sarungnya dan mengangkatnya di atas kepala pendeta untuk mendatangkan kematian bagi sang pendeta.
Dengan cepat sang pendeta melihat padanya dan berkata, “Itulah neraka.”
Sang samurai yang terkejut, ragu-ragu dan berfikir tentang apa yang telah pendeta katakana. Kemudian dia menurunkan pedangnya.
Sekali lagi sang pendeta berkata, “Dan itu adalah Surga.”
Sumber : Malkani, Vikas. 2004. Who am I?. Penerbit Smart Book, Jogjakarta. Bab 10 : Sebuah Kisah Pengajaran. Halaman 177 s.d 179
Yeap, selesai. Phiew….. silahkan membuat kesimpulan sendiri yaa…. Finally, thanks for visiting my blog, keep coming….

8 thoughts on “Samurai dan Pendeta

  1. pendetanya sangat bijaksana ya,,.. kata2 yang lembut bisa meredamkan amarah. keras harus dibalas dengan lembut, keras dengan keras akan semakin keras🙂

  2. mandesuarsana

    surga dan neraka tidak jauh
    ak pnah mendengar dari seseorang
    bagaimana bentuk neraka
    maka pergilah kau ke rumah sakit dan penjara
    lalu bagaimana bentuk surga
    maka pergilah ke tempat-tempat ibadah serta rumahmu

    ak juga pnah dengar
    di saat kita merasakan penderitaan maka kita di neraka
    namun sebaliknya saat senang kita berada di surga

    • ary dhamayanti

      Setuju. Penjara, rumah sakit, rumah ibadah, dan rumah adalah Surga dan neraka di dunia makro. Sedangkan rasa senang dan sedih adalah surga dan neraka di dunia mikro.

  3. pendeta begitu tenangnya. arti ceritanya begitu dalam. sang samurai terlalu terikat dengan membunuh. setiap dendam atau kekesalan penyelesaiannya adalah membunuh..itulah neraka. semua yang terikat akan menempuh ketidak tenangan jiwa. saat dia tahu kapan harus membunuh dan tidak, tidak terikat dengan dendam dan kekesalan itulah ketenangan jiwa yang sering kita sebut surga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s