Selamat Tinggal Pohon Rambutan, semoga masuk Surga

Standar

Aku lahir di Bali, tapi masa kecilku sejak umur 3 bulan sampai 9 tahun aku habiskan di kota kelahiran ibuku, “Jogja”, kota yang dalam 4 tahun terakhir ini juga jadi tempatku menuntut ilmu (kuliah). Waktu aku kecil, hampir setiap hari aku dititipkan di rumah nenekku, dari jam pulang sekolah sampai malam bahkan kadang-kadang sampai besok paginya lagi (aku jarang tinggal di rumahku sendiri). Mungkin karena orang tuaku sibuk, entahlah sibuk ngapain, aku nggak terlalu ingat. Karena sakingnya terlalu sering dititip di rumah nenek, sampai-sampai aku memanggil nenekku dengan sebutan “ibu”, bahkan sampai sekarang pun tidak bisa kuubah (tapi tetap bisa kubedakan dengan ibuku yang asli kok, karena aku memanggil ibu kandungku “mama”). Mungkin dulu aku mengira nenekku adalah ibuku kali ya?? Hehehe…
Di halaman nenekku yang luas berbentuk persegi, tepat ditengah-tengahnya, ada pohon rambutan. Pohon itu besar sekali dan kelihatan gagah perkasa. Aku pernah menanyakan pada nenekku siapa yang menanam pohon rambutan itu, tapi kata nenek, sejak beliau kecil pun, pohon itu sudah segitu gedenya. Selain pada nenek, aku juga tanya pada nenek buyutku, kakaknya nenek, adeknya nenek, mama, tapi jawabannya sama semua. Jadi gak ada yang tau sejarah dan asal mula pohon itu.
Waktu itu aku duduk di kelas 1 SD, aku baru belajar naik sepeda roda dua (sepertinya agak telat). Aku belajar di halaman nenek dengan berkeliling memutari pohon rambutan itu. Aku gak tau kenapa kok aku susah banget belajar naik sepeda yah? Aku jatuh-jatuh terus, sampai kakiku penuh luka, bahkan ada yang membekas sampai sekarang (never worst deh). Beda banget sama adekku yang sekali belajar langsung bisa (padahal waktu dia belajar, dia masih TK). Ngiri deh… Kayaknya emang kemampuan belajarku rendah alias dong… dong… Tapi aku pantang menyerah, biar jatuh seribu kalipun, luka seberapa sakitnya pun, aku gak akan menyerah, aku juga gak pernah nangis waktu jatuh (paling-paling cuma meringis). Waktu aku belajar, pohon rambutan itu entah berapa kali aku tabrak. Sampe daun-daun dan buahnya pada rontok. Dan tentu saja aku yang jauh lebih merana daripada pohon rambutan itu karena habis nabrak aku pasti jatuh, trus luka. Waktu itu aku jarang sekali naek sepeda dengan kecepatan rendah. Karena menurut analisaku dulu, kecepatan mengayuh sepeda berbanding terbalik dengan peluang aku jatuh. Hahaha….. gak ada orang yang berani lewat-lewat dilintasan sepedaku waktu itu, takut ketabrak. Dan setelah perjuanganku entah berapa juta kali mengelilingi pohon rambutan, pulang sekolah, habis makan siang langsung naek sepeda sampai jam tidur siang, bangun tidur naek sepeda lagi sampai sore, dan akhirnya aku bisa naek sepeda. Yuwhuw… emang gak akan mudah sebelum susah.
Aku suka rumah nenek, banyak anak seusiaku di sana dan juga ada sepupu-sepupuku yang nakal-nakal, jadi aku gak pernah kesepian. Kalau di rumah, aku malah gak punya banyak teman, paling cuma main sendiri di dalam rumah. Di masa-masa berikutnya, gak lama setelah kemenanganku menaklukkan sepeda roda dua, aku masih selalu maen di halaman nenek. Aku dan teman-teman suka maen lompat karet. Kalau jumlah orangnya sedikit, kami bisa memakai satu saja orang yang jaga di ujung karet. Ujung lainnya cukup diikatkan di pohon rambutan. Kalau banyak orang, baru kami pakai dua orang yang jaga di masing-masing ujung karet. Main karet gak perlu pakai sandal, jadi sebaiknya memang dilakukan di bawah pohon yang rindang, biar telapak kaki gak terlalu kepanasan. Soalnya main karet pasti asyiknya siang-siang.
Bawah pohon rambutan juga tempat yang sangat strategis buat maen masak-masakan karena dekat dengan semua sumber daya alam yang diperlukan, aer dari keran belakang rumah pak de, tumpukan batu bata di dekat rumah mbah kakaknya nenek, trus tanah di bawah pohon langsung, juga daun-daunan dan rumput-rumput di sekitar pohon rambutan. Hehehe… I’ll get all I need. Komplit. Tinggal menggelar koran bekas untuk duduk. Beres…
Waktu itu pohon rambutan sempat berulat. Ulat bulu berwarna hijau, kecil-kecil, kalau kena bulunya puanas banget, rasanya seperti terbakar. Ulat bulu itu kalau di Jogja disebut ulet “Srengenge” yang artinya “matahari”. Yah, karena panas banget kayak matahari (sedikit hiperbolis). Waktu itu aku juga pernah kena kejatuhan ulat itu. Walaupun sebenarnya aku bukan termasuk yang takut atau geli terhadap ulat bulu, tapi panasnya bener-bener bikin kapok.
Hal yang paling menyenangkan adalah saat pohon rambutan berbuah, buahnya selalu banyak, merah-merah dan manis. Hmm…. panen rame-rame bareng keluarga dan teman-teman sangat mengasyikkan. Hal yang keliatannya pasti asyik tapi gak pernah kulakukan dengan pohon rambutan itu adalah memanjatnya. Soalnya dari segi fisiknya, pohon rambutan itu memang agak sulit dipanjat. Batang utamanya lurus tinggi dan cabangnya sulit banget dijangkau, jadi susah banget dipanjat. Kalau memanjat pohon nenek yang lain sih aku sering, seperti pohon jambu biji dan pohon mangga.
Itu pengalaman kecilku, waktu aku ke Jogja lagi untuk kuliah 4 tahun lalu dan tinggal di rumah nenek, pohon rambutan itu kelihatan sudah tua sekali walaupun masih kuat dan kokoh. Anehnya justru pohon itu semakin rajin berbuah, tapi sudah gak manis lagi walaupun warnanya merah-merah. Jadi sampai busuk pun, gak ada yang mau makan. Kasihan sekali. Kadang-kadang aku suka memandanginya dari depan kamarku. Kebetulan kamarku punya dua pintu, satunya yang langsung ke halaman rumah nenek dan satu lagi ke arah dalam menuju ruang nonton TV, jadi aku tetap bisa masuk ke rumah tanpa membangunkan orang-orang bila sewaktu-waktu perlu pulang malam. Waktu gempa jogja 27 Mei, aku dan keluarga nenek selama 2 hari tidur bersama di bawah pohon rambutan itu karena seringnya gempa susulan dan ada beberapa bagian rumah kami yang rusak dan belum sempat diperbaiki sehingga terlalu beresiko bila tinggal di dalam rumah.
Beberapa waktu yang lalu, aku sempat pulang ke Bali dalam jangka waktu yang lama. Sekitar 9 bulan dari bulan Januari sampai dengan Oktober. Waktu balik ke Jogja ternyata di halaman rumah nenek sudah dibangun lima kamar kos milik adeknya nenek. Dan ketika kutanyakan keberadaan pohon rambutan itu, ternyata memang sudah dieksekusi dan kayunya sudah diberikan ke orang lain untuk kayu bakar. Mmpphh…. menyedihkan juga sih. Tapi aku gak berpikir itu sesuatu yang kejam. Kan di dunia ini gak ada yang kekal, kecuali mungkin energy dan materi (sesuai hukum Newton). Suatu hari aku pasti juga mati, tapi saat aku mati, aku juga mau ah seperti pohon rambutan itu, sudah berbuat banyak jasa pada banyak orang dan meninggalkan banyak kenangan yang indah. Selamat tinggal pohon rambutan, semoga masuk surga, siapa tau, di kehidupan selanjutnya bisa bereinkarnasi menjadi manusia dan kita bisa berteman lagi seperti dulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s