Tak bisakah kau minta ku jangan pergi?

Standar

Aku melirik arlojiku, sudah jam 10. Aku bergegas menuju lobi, menyerahkan kunci Laboratorium Microbiology kepada Pak Sapto dan mengisi buku administrasi Lab.

“Untung aja nggak ketinggalan lift mbak. Kok sendirian? Mas Ryan mana mbak?”

“Iya pak, tadi Ryan ada urusan mendesak, jadi pulang duluan.”

“Owh, wah, gerbang depan sudah saya kunci mbak, apa mau saya bukakan?”

“Tidak usah pak, saya lewat gerbang belakang saja, terima kasih ya pak, permisi, silahkan dilanjutkan nonton Bola pak.. hehehe…”

“Hati-hati ya mbak.”

Phewf… aku merebahkan diriku di kasur, sudah hampir pukul 12 setelah akhirnya aku selesai memeriksa laporan. Kalau saja buka demi…. Eeerrggghhh…. Aku heran, mengapa aku mau melakukan semua ini? Membereskan lab sendirian, menyiapkan media PDA untuk besok pagi, sampai hampir turun naik tangga karena hampir ketinggalan lift, lewat gerbang belakang kampus di malam yang seram, pulang terlambat, sampai memeriksa laporan bagiannya, dan tidur larut malam, menyebalkan.

“Pagi Lee….. gimana laporannya?”

“Sudah kutaruh di Lab semuanya, termasuk bagianmu”

“Lalu bagaimana dengan PDA-nya?”

“Juga sudah kubuat dan sudah beres. Tinggal kita pakai”

“Waaaahh….. terima kasih Lizethku yang super baik. Kamu benar-benar partner yang luar biasa. Ini aku bawakan jus apel, baik untuk antioksidan, sepertinya kau kelihatan lelah dan kusut.”

“Bagaimana tidak lelah? Aku mengerjakan semuanya sendirian termasuk bagianmu” Pikirku.

“Hmm… baiklah, terima kasih. Bagaimana semalam? Berhasil?”

“Owh… Terrible.. Don’t ask!! euh, sebaiknya kita segera ke Lab, tinggal 20 menit lagi dan kita perlu menyiapkan sampel”

“Baiklah”

Aku membetulkan preparat di mikroskop seorang praktikan sambil beberapa kali memergoki Ryan yang sedang memandangi Stevia Johnson, gadis angkatan baru yang cantik itu memang begitu memikat hatinya. Ada gejolak yang kurasakan di perutku dan tiba-tiba saja aku merasa mual. Entahlah, itu pasti hanya kekesalanku padanya karena Ryan meninggalkan aku di lab kemarin malam hanya untuk mengantarnya pulang. Kalau bukan karena dia, aku mungkin tidak harus melakukan semuanya sendiri.

Hingga saat makan siang, aku masih saja merasa kesal, aku tak sadar begitu memperlihatkannya sampai Ryan bertanya padaku.

“Lee, hanya perasaanku saja atau kau memang sedang dalam masalah?”

“Owh….. tentu saja tidak, aku baik-baik saja. Yeah… baik… ehm, mungkin cuma sedikit lelah.”

“Umm, aku benar-benar minta maaf, aku tidak seharusnya meninggalkanmu semalam, aku tidak akan mengulanginya.”

“Eeerrr… bukan bukan… maksudku bukan itu… aku membantu Rachel menyusun laporan keuangan lab semalam, ya, aku jadi lelah…”

“Owh, mengapa kau tidak bilang? Kalau begitu aku tidak akan meninggalkanmu di Lab.”

“Umm, Aku…. Aku lupa… yeah… lupa… sudahlah, lupakan saja.”

Aku menyesal harus berbohong, aktingku pasti sangat buruk tadi, bagaimana mungkin aku bisa berbohong padanya? Ryan sudah jadi sahabatku sejak aku berumur 6 tahun, dan kini sudah 13 tahun sejak saat itu.

Sore itu adalah jadwalku mengasisteni praktikum bersama Rachel, saudara kembarku. Setelah praktikum berakhir, kami masih harus melakukan sterilisasi peralatan-peralatan dengan autoclave.

“Bagaimana Lee? Kau sudah memutuskannya? Kupikir itu kesempatan besar yang tidak akan datang dua kali.”

“Umm, entahlah, Kyoto….. aku belum pernah memikirkan akan pergi kesana.”

“Seminggu akan cepat Lee, kau harus cepat mengambil keputusan, ayah dan ibu sudah membuatkan kau passport dan memesan tiket, akan sangat lucu kalau kau tidak jadi berangkat. Oh ya, bagaimana pendapat Ryan soal ini?”

“Hmm…. Aku akan bicara dengannya secepatnya.”

“Kau dan Ryan…Hahaha… hubungan yang aneh. Aku tak akan heran bila akhirnya kalian pacaran”

“Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu? Ryan menyukai Stevia Johnson.”

“Dan kau cemburu kan? Aku bisa melihatnya di matamu. Ayolah, kita semua tau, dia tidak akan berhasil, dia pasti bukan tipe Stevia si penggoda itu, dan aku rasa Stevia juga bukan tipe Ryan, mungkin dia cuma penasaran saja. Ah, aku tau, tentu saja dia tidak sadar bahwa gadis pujaannya sebenarnya adalah sahabatnya sendiri.”

“Hmm… mungkin.”

Tentu saja Rachel tidak tau bahwa semua hari Ryan dipenuhi dengan pembicaraan tentang Stevia yang membuat telingaku gatal.

Aku sedang membereskan koper ketika Ryan tiba-tiba saja menyelonong masuk melalui pintu kamarku yang terbuka dengan setengah berteriak.

“Apa yang kau lakukan?”

Aku mengernyitkan kening sedikit

“Menurutmu apa?”

“Kau tidak memberitahuku apapun.”

“Tak ada yang perlu kuberitahukan padamu.”

“Begitukah?? Teganya kau… kalau saja aku tidak berpapasan dengan salah satu praktikan yang menitipkan salam untukmu, aku takkan tau.”

Kemudian volume suara Ryan mengecil, berubah jadi hampir seperti suara yang lirih, dia duduk di tepian ranjangku dan melanjutkan lagi.

“Kau tau? 13 tahun ini, indah sekali, aku bodoh karena aku baru menyadarinya sekarang. Aku sayang padamu Lee… maksudku… bukan yang seperti kita akui sebelumnya… aku… aku… aku sayang padamu… maukah kau?… aku… aku tak ingin kau pergi… dengarlah, aku ingin… aku ingin.. aku harus mengatakannya… bagaimana kalau kita pacaran saja?”

Aku tersenyum sedikit, hampir tertawa.

“Lee, aku tidak sedang bercanda.. ini sungguhan, aku baru sadar tadi, bodohnya aku, saat aku tau kau mau pergi, jantungku mencelos seperti pindah ke perut, dan sepanjang jalan kemari tadi aku berpikir tentang bagaimana perasaanku terhadapmu, aku tidak menginginkan lagi wanita yang lain selain kau. Stevia… ternyata aku salah.. bukan dia yang aku suka, tapi kau.. Tapi… aku egois, tentu saja aku tak boleh menghalangi cita-citamu tentang penelitian itu. Baiklah, kalau begitu aku akan membantumu merapikan koper ini.”

“Baiklah, aku hampir selesai kok.”

“Apa maksudmu? Koper ini masih kosong.”

“Memang seharusnya demikian, dan maukah kau menutupnya dan meletakkannya di atas lemariku?”

Ryan kelihatan sangat bingung dan aku sekarang benar-benar tertawa.

“Ryan… bukankah aku sudah bilang? Tak ada yang perlu aku beritahukan padamu… Aku tidak akan kemana-mana. Sudah kupertimbangkan, dan tawaran Professor Leung aku batalkan, yang sedang aku lakukan adalah kembali memasukkan pakaianku dari koper ke lemari, karena aku tidak jadi berangkat. Hahaha….”

“Owh… bagaimana kau?? Ahh…. Leee….. Tapi aku senang kau tidak pergi“

“Hmm, dan bagimana tawaran tadi? Masih berlaku? Kita pacaran?”

“Tentu saja.. aahhh… ini hari terindahku…”

Dan tiba-tiba saja Rachel masuk

“Ehm… ehm… maaf aku mengganggu saat romantic ini, tapi maukah kalian membantuku menurunkan koperku?”

“Tentuuuuu…..” ujar aku dan Ryan bersamaan.

Dan Rachel pun berangkat menggantikanku ke Kyoto bersama Professor Leung. Akhir yang lucu tapi menggembirakan. Aku dan Ryan.. seperti mimpi, dan mengapa baru terjadi setelah 13 tahun? Entahlah… yang jelas, hari ini jadi begitu indah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s