Sekotak Cherry

Standar

: Sir

Kepadamu, sosok yang pernah kutitipi jejak pandangku di ujung sepatumu yang bergetar. Untuk sembunyikan bayangan bibir yang kugigit dari bias matamu yang menyipit. Masih saja hujan es diantara kita, membekukan waktu, membekukan aku, sampai ke setiap serpihan jantung yang remuk karena heningmu.

Hanya kening yang berkerut oleh air mata yang tak sanggup kusewa, karena sendu bukan milikku. Dada yang sibuk oleh aliran udara keluar masuk, butuh terlalu banyak oksigen untuk mengendapkan rasa mual yang berjejalan. Sudah tak ada apapun untuk dihancurkan, hanya serakan puing kenangan yang kita bangun dari agar-agar.

Luka yang bersayap terbang menjauh, menarik satu persatu helaian benang jingga dan nila yang membelit relung hati kita yang dimumikan. Kemudian aku menyimpan pedang, perisai, dan baju besiku di pelana kuda hitam untuk dibawanya lari menuju negeri antah berantah.

Aku masih telanjang dihadapanmu, sekarang menawarkan sekotak cherry untuk kita nikmati bersama di tepian kolam dengan mataku yang berbinar, berbagi kisah denganmu tentang bidadarimu dan ksatriaku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s