Desember

Standar

Ada kalimat yang tersesat di tenggorokanku ketika kau datang. Selusin hari sebelum bingar kembang api menjelma Januari. Meninggalkanmu di halaman belakang sebuah agenda yang pasti menua.

Bulan berganti sama rutinnya dengan wajah-wajah setelah gerimis reda, membawa mendung baru.

Tapi tidak denganmu. Kau selalu datang sendiri, tak perlu membawa serta salju sebab kebekuan sendiri adalah arti hadirmu.

Telan aku ke dalam palungmu, Desember. Dan biarkan aku menelan sebuah peta.

Beri aku satu kesempatan lagi, Desember. Satu per satu kata itu. Mereka akan kutemukan, kubimbing menuju jalan keluar. Bersama sekeranjang kejutan yang dulu kurangkai untuk hari dimana duapuluhempat lilinnya dipadamkan.

Yogyakarta, 4 Juni 2011 pukul 22:11

– Ary Dharmayanti –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s