EOS

Standar

dzikir_pagi

Lewat dua pertiga malam, sang dewi dan jemari kemerahannya masih sibuk menyulam kelopak-kelopak mawar dengan sutera laba-laba, demi sehelai gaun untuk pentasnya fajar nanti. Sebuah kendi juga telah siap, terisi penuh air mata kekasih para pengelana, memekak malam dengan isak, mengaitkan tanda tanya di ranting-ranting kamboja, berharap siang akan mengubur resah bersama jenazah-jenazah asing.

Seusai subuh, sang dewi berangkat membuka gerbang dimana Helios nanti datang. Kemudian dia menari meronai sisi-sisi pagi jadi kemerahan. Seperti kenangan semu pipi gadis-gadis oleh rayuan gombal. Air mata pun ditaburkan dan menyusup di rerumputan.

(Lembayung pagi itu semerah sembap mataku. Rerumputan sebasah pipiku. Apakah kembaranya sedemikian panjang? Kekasihku tak jua pulang)

—————
lagi2 kutulis entah kapan, ditemukan di diari
Singaraja, 14 April 2012
Ary Dharmayanti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s