Suara Air

Standar

: langit yang mengerti, langit yang memahami

Sabit bulan masih kupeluk di malam ke tiga ratus tujuh puluh enam. Pun kerlip bintang masih kusimpan sebagai kilau pemikat pengelana di malam-malam. Tak berbeda, tak ada jauh jeda, setelah hujan memaksaku meluruh, entah seberapa jauh. Aku masih bernaung padamu, menggenggam rindu yang tak beralasan.

Dan di pagi hari aku merona, bercermin padamu, mengekor waktu. Merah, jingga, kemudian biru. Kukirim sandi pada mentari. Lambungkan aku kembali ke dekap semestamu, serupa gumpalan suci, mimpi-mimpi kita yang seputih kapas. Aku dan kau –langit. Kita satu.

Singaraja, 27 Mei 2011
– Ary Dharmayanti –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s