Tentang Kisah Muram di Restoran Cepat Saji

Standar

16178364

Senin, 17 Desember 2012 pukul 07.39, 21 menit sebelum waktu bekerja. Aku menjatuhkan diri ke kursi tamu, lelah setelah menyapu seluruh lantai rumah.

“Permisi, Putu Ary Dharmayanti?”

Aku terkejut ketika tiba-tiba saja ada petugas pos yang berdiri di depan pintu rumahku yang terbuka, mengantarkan sebuah paket untukku. Tadi aku memang mendengar deru sepeda motor di gang rumah, tapi tak menyadari bila sepeda motor itu berhenti di depan rumahku, dan lebih tak sadar lagi bila pengendaranya telah turun dan berjalan ke depan pintu rumah melewati halaman dan teras.

Gang rumahku memang sempit, lebarnya hanya sekitar satu meter lebih sedikit, mobil sama sekali tidak bisa masuk, dan dua sepeda motor yang berjalan berlawanan arah harus dikayuh pelan-pelan dengan kaki bila berpapasan, selain sempit, banyak anak-anak yang suka bermain di gang. Siapapun yang waras tidak akan mengendarai sepeda motor dengan kecepatan melebihi 20km/jam. Gang rumahku juga tergolong pendek, hanya ada sekitar 10 rumah yang berjejer di satu sisi gang, sedangkan di sisi lainnya terdapat tembok tanpa pintu setinggi sekitar dua setengah meter, seberang tembok itu adalah wilayah dari rumah-rumah yang berpintu di gang sebelah. Dengan keadaan seperti itu, siapapun yang lewat mengendarai sepeda motor melewati gang rumahku akan mudah terlihat dan terdengar dari seluruh rumah di gang.

Tak ada orang yang sekedar lewat di gang rumahku, kalau bukan penduduk, pastilah orang itu tamu atau orang yang berkepentingan dengan penduduk gang. Yah, kecuali pedagang keliling. Bagaimana aku bisa tahu? Tentu saja, karena gang rumahku adalah gang buntu.

Oke, kembali ke paket. Sembari berjalan menuju pintu, selama sekian detik, pikiranku sibuk menduga-duga, kiriman apakah itu. Kuulurkan tangan untuk menerima paket dari petugas pos, dan segera saja pertanyaanku terjawab begitu aku membaca nama pengirim di sudut kiri atas amplop pembungkus paket. Kutandatangani tanda terima yang disodorkan petugas pos, dan kuucapkan terima kasih. Tanpa menunggu petugas pos berlalu, kubawa paketku ke meja tamu.

Amplop paket itu berwarna cokelat polos, tanpa hiasan garis-garis merah dan biru seperti amplop yang dijual di kantor pos. Besarnya kira-kira separuh kertas HVS A4. Mungkin ini yang dimaksud ukuran A5. Nama dan alamatku tertulis rapi di sisi kanan agak kebawah, cukup kecil untuk ukuran amplopnya, tapi bisa terbaca sangat jelas.

Kubuka amplop itu dan kujungkirkan untuk menjatuhkan isinya ke meja. Sebuah buku, seperti seharusnya. Kulongokkan kepalaku ke dalam amplop, memastikannya telah kosong, sambil sedikit berharap ada benda lain yang tertinggal disana. Kosong.

Aku memang sudah mengetahui perihal akan datangnya kiriman buku ini, tapi aku tidak tahu kapan tepatnya buku ini akan datang. Itulah sebabnya aku masih menduga-duga kiriman apa yang datang kepadaku sebelum aku membaca nama pengirimnya. Beberapa waktu lalu, aku sempat begitu penasaran dan sangat menunggu-nunggu kedatangan buku itu sampai berhari-hari, tapi karena buku itu tak kunjung datang juga, aku jadi lupa.

“Kisah Muram di Restoran Cepat Saji, Bamby Cahyadi”, aku membaca tulisan di sampul buku berwarna dominan biru itu lambat-lambat. Ada gambar seorang pria berpakaian setelan jas dan celana kantoran berwarna biru kehitaman yang terlihat sangat rapi, apalagi dengan tambahan sepatu pantovelnya yang hitam mengkilap. Lengan kanannya membentuk sudut 90derajat, membawa nampan berisi hidangan cepat saji, setangkup burger, sebungkus kentang goreng, dan segelas plastik minuman khas restoran cepat saji, mungkin isinya soda atau jus jeruk. Di lengan yang sama, tersampir sehelai serbet berwarna putih bersih. Sepertinya pria itu dimaksudkan sebagai pelayan restoran cepat saji, tapi sebenarnya pria itu lebih mirip eksekutif muda daripada pelayan restoran cepat saji. Aku sendiri tidak pernah menemukan pelayan restoran cepat saji yang berpakaian seperti itu. Pelayan berjas biasanya hanya ada di restoran-restoran mahal dimana orang-orang makan malam di tempat yang romantis, dengan alunan musik dan penerangan lilin-lilin, serta harum bunga segar dalam vas di tiap meja. di restoran-restoran seperti itu kadang-kadang orang harus menunggu lama sebelum pesanannya dihidangkan. Oh ya, aku hampir lupa, gambar pria di sampul buku itu tanpa kepala dan leher, entahlah artinya apa, tapi aku tak terlalu penasaran. Kalau itu dimaksudkan untuk memberi kesan seram, itu sama sekali tidak berhasil. Ehm, tapi kurasa bukan itu maksudnya.

Aku membolak-balik buku itu dua kali sambil meraba-raba sampulnya. Bagian tulisan judul, tulisan nama penulis, gambar, dan logo penerbit di halaman sampul itu terasa timbul dan lebih mengkilap. Selebihnya, semuanya rata sampai ke sampul belakang.

Kubuka halaman pertama dan kuambil sebatang pulpen. Kutuliskan tanggal hari itu, nama, nomor ponsel, dan alamat emailku di halaman itu. Itu adalah tradisi yang kulakukan setiap aku memiliki buku baru. Kubuka halaman selanjutnya dan kutemukan tanda tangan asli penulis. Sebuah senyum tersungging di sudut bibirku. Tertulis 13/12/12, kuduga itu adalah tanggal saat tanda tangan itu dibubuhkan dan mungkin juga tanggal pengiriman buku itu. Selain tanda tangan dan tanggal, ada sebaris catatan “Bacalah dengan hati bahagia”. Hatiku kecut membacanya, jujur saja aku pesimis. Dari sedikit pengalamanku membaca karya Om Bamby, aku lebih sering menjadi sentimentil daripada ceria atau bahagia, maksimalnya terharu lah. Kulanjutkan membaca sampai halaman daftar isi, aku makin pesimis.

Aku harus menangguhkan buku itu dulu di meja tamu yang sudah kusulap menjadi meja kerja. Kuletakkan buku itu baik-baik di sebelah notebookku yang sudah kunyalakan. Sejak pagi aku memang berencana untuk tidak pergi ke kantor, aku akan bekerja di rumah saja. Itulah hal yang kusuka dari pekerjaan wirausaha, lebih bebas menentukan tempat dan jam kerja.

Aku membaca buku itu pada jam istirahat siang dan kulanjutkan lagi di malam hari setelah aku menyelesaikan target pekerjaan hari itu. Tak butuh waktu lama untuk membacanya, pada Selasa pagi, aku sudah menyelesaikannya.

Testimonial :

Menurut saya, cerita-cerita dalam buku ini memiliki alur yang pendek, namun karena penggambaran suasana yang rinci, dan penokohan yang dalam, ceritanya jadi terasa panjang. Cerita ini terasa sangat alami mengikuti pengelanaan pikiran-pikiran para tokohnya, dan mengingatkan saya bahwa pikiran saya sendiri juga kerap berkelana seperti itu. Gagasan-gagasan yang muncul dalam pikiran tokoh-tokohnya juga sangat wajar. Dan benar saja, buku ini membangkitkan sisi yang sangat sentimentil dari diri saya dan saya juga terserang semacam kelelahan perasaan yang aneh setelahnya. Secara umum, buku ini Sensasional!!

Note :

Kepada Om Bamby Cahyadi, thank you so much buku dan tandatangannya, jangan bosan membagi buku gratis lagi yah. Mudah-mudahan reviewnya tidak menjengkelkan. Hihihi…

Singaraja, 18 Desember 2012

-Ary Dharmayanti-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s