Hujan dan Romantisme Minggu Sore

Standar

Hujan yang sedari tadi mengguyur gigilku, kini seluruhnya luruh dalam senyummu. Menjelma debar yang tak hanya terasa hangat, tapi juga meletup-letup di dadaku.

Matahari yang baru saja ditenggelamkan senja, sekarang kembali terbit di matamu. Lingkar yang jauh lebih menyesatkan daripada jeruji hujan.

Diam-diam pun aku mengutuki waktu
: tolong jangan cepatcepat berlalu

Rekaman pembacaan puisinya, bisa didengar di sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s