Perjumpaan di Kereta

Standar

kereta-api-senja

Panggilan terakhir untuk naik ke kereta malam tujuan Yogyakarta dari Stasiun Bandung. Aku setengah berlari dari toilet menuju gerbong, menyusur lorong mencari tempat dudukku.

Seorang gadis sudah duduk di bangku yang bersebelahan dengan nomor tiketku, membaca buku dengan sampul bertuliskan Bulan Ungu, judul yang tak asing bagiku, setidak asing wajahnya yang beberapa kali kutemui di acara-acara komunitas penggemar sastra. Wajah manis seperti dia memang mudah menarik perhatian dan seringkali sulit dilupakan.

“Permisi”

“O, silahkan.”

Dia tersenyum sambil memiringkan kakinya, memberiku jalan untuk menjangkau bangku di sebelah jendela. Wajar bila dia tidak mengenali wajahku. Kami memang sama sekali belum pernah bertegur sapa.

Kereta mulai melaju, dia menutup bukunya, menyimpannya dalam lipatan jaket di pangkuannya. Menoleh kepadaku dengan senyum yang membuatnya semakin kelihatan manis. Sekarang aku bisa melihat wajahnya yang tadi tertutup buku dengan lebih detil. Wajahnya yang tanpa make up itu tampak sedikit berkeringat, sepertinya banyak hal yang telah dilakukannya seharian sebelum perjalanan ini.

“Ini perjalanan pertama saya naik kereta api.”

Dia membuka pembicaraan. Aku hanya tersenyum tanpa menimpali. Dalam perjalanan, aku memang tidak pernah terlalu tertarik untuk mengobrol dengan orang asing atau orang yang belum pernah kuajak mengobrol sebelumnya. Berbeda dengannya yang kelihatan seperti gadis yang amat mudah akrab dengan siapa saja.

“Anda mau ke Jogja? Dalam rangka apa?”

“Saya tinggal di sana.”

“Saya juga tinggal di Jogja. Lalu, apa yang anda lakukan di Bandung?”

Aku butuh waktu berpikir untuk menjawab pertanyaannya ini. Aku sendiri tidak melakukan apa-apa di Bandung. Aku hanya senang menikmati perjalanan dengan kereta api dari stasiun ke stasiun. Sepertinya hobiku ini akan terdengar aneh di telinganya.

“Bertemu teman.”

Aku berbohong.

“Untuk liburan bersama, ya? Hehehe…”

Frasa ‘Hehehe’ benar-benar dilafalkannya seolah sedang membacakan sebuah komik untukku. Lucu.

“Seperti itulah.”

Aku mengiyakan. Perjalanan yang tepat dengan akhir liburan ini mendukung kebohonganku.

“Apa kegiatan anda di Jogja?”

Dia semakin terlihat berniat mengajakku mengobrol, mengabaikan rasa enggan yang sudah sedari tadi susah-susah kuekspresikan di wajahku.

“Saya kuliah.”

Aku memaksakan diri bersikap lebih ramah.

“Saya juga. Anda kuliah dimana?”

“Di UGM.”

Aku mengeluh dalam hati. Oh, ini akan menjadi obrolan panjang.

“Wah, kita satu almamater.”

Dia terlihat begitu riang kemudian menjabat tanganku. Jabatan yang erat, sesuai dengan kepercayaan diri yang memang sudah diperlihatkannya sejak tadi.

“Oh ya. Saya Dashya Darlia”

Dia menyebutkan namanya yang sebenarnya sudah kuketahui.

Kusebutkan namaku dan benar saja, dia lebih terkejut daripada sebelumnya.

No way!!!”

Pekiknya.

“Pantas saja wajah anda familiar. Ah, saya benar-benar pelupa”.

Ujarnya sambil menepuk jidatnya sendiri.

“Kalau begitu saya boleh minta tanda tangan anda di buku saya, kan?”

Dia menyodorkan buku yang dibacanya tadi. Buku yang kutulis.

“Tentu.”

Kubuka halaman pertama dan kububuhkan tanda-tanganku bersama sepotong kalimat romantis. Kulirik raut wajahnya yang sedikit mengernyitkan dahi, tampak berusaha mencari makna kalimat yang kutulis.

“Nah”

“Eh?”

Tanpa meminta ijin terlebih dulu kepadaku, dia sudah mengambil foto kami berdua bersama buku Bulan Ungu dengan kamera ponselnya.

“Maaf. Tidak apa-apa, kan? Ini untuk kenang-kenangan. Hehehe..”

Dia sepertinya tidak peduli pada kejengkelanku.

“Tolong tidak usah diunggah ke sosial media.”

Aku merengut.

“Oh? Baik.. Baik.. Saya hanya akan menyimpannya saja. Terima kasih banyak, ya? Oh iya. Saya baca profil anda di buku, tampaknya kita seumuran.”

Dia tersenyum lagi tanpa rasa bersalah.

Kemungkinan besar dia adalah penyihir. Aku yang begitu tidak menikmati obrolan dengan orang asing di perjalanan disihirnya menjadi begitu menikmati. Kemudian ‘saya dan anda’ berubah menjadi ‘aku dan kamu’. Kami mengobrol tentang apa saja, tentang begitu banyak hal. Soal anak-anak kucingnya yang bermata biru (tentu saja semua anak kucing bermata biru), ayam-ayam BK peliharaanku, tentang sistem KRS di kampus, cerita-cerita horror urban legend di Jogja yang membuatku bergidik, sampai soal betapa tidak tahannya aku terhadap koyo cabe.

Sesaat obrolan kami terganggu dering ponselnya. Dia melihat sebentar ke layar ponsel, panggilan dari seseorang yang nomornya tersimpan dengan nama ‘Sayangku’. Membacanya, perutku langsung mual.  Alih-alih menjawab panggilan telpon itu, dia malah menekan tombol ‘hening’. Begitu terus sampai berulang sekitar tujuh kali dan berakhir dengan dia mematikan ponselnya. Mungkin dia sedang bertengkar dengan pacarnya. Iya, pacarnya yang itu. Laki-laki dengan wajah yang aku yakin akan disetujui oleh 60% pria untuk ditonjok mukanya. Yang kerap kulihat menggandeng tangannya di acara-acara sastra. Bahkan pernah sekali, tak sengaja kulihat mereka berciuman di belakang panggung acara musikalisasi puisi.

“Maaf, ya? Itu tadi mantanku.”

Katanya seolah-olah aku begitu ingin tahu. Tapi baguslah jika hubungan mereka berakhir. Laki-laki seperti itu memang tidak pantas untuknya.

Tidak perlu waktu yang lama untuk memecah suasana canggung tadi. Malam semakin larut, melarutkan kami berdua dalam percakapan yang sesekali diselingi dengan cekikikan yang susah payah kami tahan agar tidak mengganggu penumpang lain yang sebagian besar sudah tidur.

“Kamu lucu juga, ya? Dari tulisan-tulisanmu, aku pikir kamu orang yang sangat sentimental.” Katanya sok tahu. Padahal aku memang memang sentimental, bahkan setelah perjalanan malam ini, mungkin aku bisa menulis sepuluh cerita romantis ditambah dengan belasan puisi cinta. Tentang lingkar matanya yang seperti balon udara, melambung sampai ke luar angkasa, dengan warna sepekat black hole, lengkap dengan alis yang persis busur panah rasi bintang Sagitarius.

“Ada yang aneh dengan wajahku?”

Pertanyaannya membuatku sadar bahwa ternyata aku sedang memandanginya dengan ekspresi yang pasti terlihat aneh. Dan aku heran mengapa tiba-tiba wajah kami berdua sudah sedemikian dekat, tidak sampai sejengkal tangan.

Sesaat kereta berguncang dengan guncangan yang cukup untuk membuat bibir kami bertumbukan. Kemudian segalanya terjadi begitu cepat tanpa bisa dijelaskan. Seperti tak mau saling melepaskan, bibir kami saling menahan satu sama lain. Menggeliat seperti sepasang siput yang sedang saling membuahi. Rasanya seperti memainkan permen karet, namun jauh lebih mendebarkan. Begitu intim.

Waktu memang tak suka membiarkan manusia berlama-lama menikmati kesenangan. Segera saja kami tiba di Stasiun Tugu. Sambil saling tersenyum, kami berjalan beriringan menuju peron.

“Jadi. Kita berpisah di sini”

Dia membetulkan letak beberapa tas oleh-oleh di tangannya.

Aku mengangguk sambil tersenyum.

“Hubungilah kapanpun kamu rindu.”

Dia menjejalkan sepotong kertas berisi sederet angka ke dalam genggamanku. Tanpa memberiku kesempatan bicara, dia berjalan cepat melewatiku, sambil sedikit tergopoh oleh tas pakaian serta sejumlah tas oleh-oleh di kedua tangannya. Rambut ekor kudanya terhempas ke kanan dan ke kiri seolah melambai kepadaku sebagai salam perpisahan. Meninggalkanku di peron untuk melamunkan jawaban dari pertanyaanku sendiri.

Apakah dia jatuh cinta kepadaku?

“Dia siapa? Maksudmu aku?”

Tiba-tiba saja Arwen, kekasihku, menepuk pundakku dari belakang, kemudian menyambutku dengan senyum yang menjelma getaran paling karib di dadaku. Dengan segera aku mengabaikan keterkejutan atas lamunan yang tadi secara tidak sengaja benar-benar kuucapkan.

“Motorku diparkir di sebelah sana.”

Arwen menunjukkan arah kepadaku.

Sepanjang jalan menuju ke rumahku, kami tidak banyak bicara. Biasanya kami memang tak banyak bicara, dan kali ini lebih tak banyak bicara. Di saat-saat seperti itu, Arwen lebih sering menerjemahkan sikapku sesuai persepsinya sendiri. Wanita memang selalu begitu. Namun untunglah kali ini dia menerjemahkan diamku sebagai kelelahan. Dia tetap bersikap hangat, duduk di jok belakang sambil melingkarkan lengannya di pinggangku, menyenderkan kepalanya di punggungku dan membiarkan rambutnya tertiup angin hingga mencambuk-cambuk bahuku seolah sedang menghukumku atas suatu kesalahan.

Aku mengecup kening Arwen sebelum dia pergi. Memperlakukannya manis seperti biasanya karena dia memang manis dan layak diperlakukan manis. Aku mencintainya. Dialah gadis yang kuimpikan untuk menjadi partner membangun rumah tanggaku di masa depan. Kecuali jika……

Aku meraih ponselku.

———

Pada jarak beberapa belas kilometer, seorang gadis mendapati ponselnya berdering dengan sebuah pesan singkat yang isinya “Hai, ini Zale.. Kalau kamu panggilannya siapa?”

Siapa yang tahu soal masa depan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s