Rabu-Rabu yang Berjatuhan ke Dalam Cangkir

Standar

cup,bench,leaves,tea,coffee-0713c8f360ef25278094febc4a8049ba_h

Seperti Rabu-Rabu yang lalu, Rabu keempatbelas kali ini pun telah jatuh ke dalam cangkir. Terkapar menunggu waktunya diseduh bersama kopi yang hitamnya hampir sepekat malam, yang sudah kutinggalkan sejak Rabu pertama kali jatuh ke dalam cangkir. Walau segala tipu daya upayanya merayu, melambai-lambai membujukku menjejalkan kafein yang akan melarutkan semua mineral dalam tubuhku-tapi tidak kenangan tentangmu.

Sekarang aku lebih suka minum dari gelas, meneguk jus jambu (yang merah seperti senja dan kecupku yang mendarat bersamaan di pipimu), atau susu cokelat, yang kian menggelembungkan pipiku, membuatmu ingin meremas, dengan segenap gemas, meluapkan beragam cemas, yang dihembus angin dingin Kyushu.

Cangkir kopi telah begitu beku dipenuhi Rabu-Rabu. Sementara aku tak lagi butuh kafein.

: Kau lebih dari sekedar debar yang setia membuatku terjaga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s