Me and Brother

Standar

siblings81809slw

Psst… Tahukah anda? Saya harus membuat catatan ini dengan penuh sembunyi-sembunyi. Jangan sampai adik laki-laki saya mengetahuinya. Karena dia pasti akan menganggap catatan ini sangat norak dan alay. Hihihi. :p

Well, once upon a time, when I was 9 YO, after waiting so long, finally my mother give birth a little baby brother for me. I was so happy and loving him so much.

Saya dan adik laki-laki saya berjarak 9 tahun. Cukup jauh ya? Iya, memang. Saya sangat ingat ketika saya masih menjadi anak tunggal dan begitu mendambakan seorang adik. Sampai berkali-kali minta ke Mama. Ada peristiwa dimana Ibu saya sempat keguguran. Tapi akhirnya, saat saya duduk di kelas 4 SD, saya memiliki seorang adik laki-laki.

Seperti sewajarnya kakak dan adik, walaupun kami saling menyayangi satu sama lain, kadang-kadang kami juga bertengkar. Tapi kalau dihitung-hitung, bisa dibilang saya yang lebih sering kurang sabar dan kurang bisa mengalah mengingat usia kami yang terpaut cukup jauh. Mungkin, itu akibat dari terlalu lama menjadi anak tunggal. *ngeles*

Saat usia kami masing-masing (saya) 18 tahun dan (adik saya) 9 tahun. Kami diberikan seorang adik perempuan lagi. Tadinya, mama sudah merasa cukup dengan dua anak saja. Tapi kemudian, merasa perlu menambah keceriaan di rumah dengan hadirnya adik kecil. Karena itulah, selisih usia kami membentuk angka yang epic, 9 tahun. Dan di tahun ini, usia kami masing-masing merupakan kelipatan 9. Adik kecil kami berusia 9 tahun. Adik laki-laki saya berusia 18 tahun. Dan saya telah berusia 27 tahun. Mungkin karena itu juga, tahun ini adalah tahun yang penuh keberuntungan bagi kami. #IyainAjaUdah

Setelah menghabiskan waktu kuliah dan beberapa waktu merantau, akhirnya tahun ini saya berkumpul lagi bersama keluarga saya. Waktu yang cukup untuk mengubah adik saya dari anak kecil menjadi remaja. Bukannya saya sama sekali tidak pernah bertemu dengannya dalam kurun waktu yang sangat lama. Tentu  saja, kami selalu bertemu setiap tahun. Tapi kali ini sangat berbeda. Sebelumnya, kami mungkin hanya bertemu dalam kurun waktu yang singkat. Tapi sekarang, kami tinggal satu atap lagi, dalam waktu yang lama.

Ketika pertama kali mengamatinya, ada perasaan yang luar biasa bangga dan senang. Adik laki-laki saya telah tumbuh menjadi remaja laki-laki yang.. ehm.. ganteng dan memikat. Tak heran kalau kerap kali ada mata-mata cewek yang cemburu atau patah hati setiap kali berpapasan dengan kami kalau kami jalan bersama. Yah, saya beruntung punya wajah yang awet remaja sehingga kelihatan tidak terlalu terpaut banyak usia dengannya, tidak heran kalau mereka mengira saya adalah pacar atau gebetannya. Hihihi. Dasar abege insecure.

Hal yang begitu membanggakan juga dari adik saya adalah bahwa dia sangat banyak terlibat aktif dalam berbagai organisasi remaja, berprestasi dalam karya ilmiah, akademis, non akademis, dan bahkan, Berbisnis!!! Awh, jujur saja saya kadang merasa sedikit terintimidasi dengan pencapaian-pencapaiannya yang begitu banyak di usia yang masih sangat muda. Jauh daripada pencapaian saya waktu saya seusianya. Tapi hal yang membesarkan hati saya adalah kata-kata ayah kami, bahwa pencapaian-pencapaiannya tak lepas dari saya yang juga terlibat dalam membimbing dan mendukungnya.

Hal lain yang juga membanggakan dari adik saya adalah kesigapannya menangani banyak tanggung jawab di rumah. Dan bahkan membantu saya dalam pekerjaan-pekerjaan saya di kantor. Banyak urusan dimana dia menjadi satu-satunya orang yang bisa kami andalkan. Bukan hanya kami sekeluarga, tapi juga di keluarga besar, bahkan kadang masyakarat. Urusan listrik, komputer, membimbing adik kecil belajar, urusan pembelanjaan barang-barang tertentu, dan sangat banyak hal lainnya. Adik saya telah terlatih (mungkin karena terbiasa berorganisasi) untuk bekerja sangat cermat, mengambil keputusan cepat, dan sangat disiplin. Dalam banyak hal, saya sangat perlu belajar darinya.

Dalam hal pasangan, adik saya sangat peduli. Dia kerap memberikan penilaian-penilaian kepada pria yang dekat dengan saya. Sulit. Bahkan sangat sulit untuk menemukan pria yang bisa memuaskan hatinya. Itu bukan karena keangkuhannya yang kurang bisa menerima kekurangan orang lain. Tapi itu karena dia teramat menyayangi saya, dan meletakkan saya sebagai wanita dengan kualitas tinggi, yang hanya boleh dimiliki pria-pria terbaik. So sweet, ya? Hihi. Memang iya. Adik saya akan begitu marah jika ada orang (khususnya pria) yang meremehkan kualitas saya. Dan dia pun akan jadi orang pertama yang melindungi saya ketika ada pria yang berani melukai saya. Ya. Begitulah dia.

Butuh berbulan waktu untuk mencocokkan kami kembali. Terutama karena kami memiliki kepribadian yang berbeda. Saya lebih melankolis dan mencintai keteraturan dan segala hal yang sistematis sedangkan adik saya lebih bebas, fleksibel, dan sedikit random kadang-kadang. Kami sudah menghadapi banyak perselisihan, pertengkaran, konflik, perdebatan, dan segala hal sampai akhirnya bisa bersahabat seperti sekarang. Itu adalah buah dari kerja keras kami untuk menghadapi masalah. Bertengkar itu biasa. Tapi satu hal yang tidak pernah berubah sampai kapanpun adalah bahwa kami saudara sedarah, kami saling mencintai, dan kami sama-sama menginginkan yang terbaik untuk satu sama lain. Itulah hal yang ampuh meluruhkan segala ego dan keakuan kami.

Saya sangat bersyukur di akhir tahun ini, kami telah begitu bersahabat, lengkap dengan segala kesablengan kami berdua. Kompak dalam segala hal. I have a very very lovely brother. What can I wish for more? Ah. Saya berharap semua orang bisa merasakan juga The Power of Siblings.

Sebagai pemanis catatan ini, saya sertakan beberapa kesablengan kami berdua.

Waktu jalan bersama melewati kost untuk anak perempuan :

Brother : “Kenapa sih dikasih tulisan ‘Kost Putri’? Memangnya mereka anaknya raja?”

Brother : “Kenapa sih mama nyuruh aku kuliah jurusan kelautan?”

Me : “Mungkin mama pikir kamu cowok matre, bro. Makanya disuruh ke laut aje.”

Our little sister : “Gimana caranya bikin telur asin?”

Me : “Bebeknya dikasih makan garam, nanti kalau bertelur jadilah telur asin.”

Brother : “Sebenarnya telur yang asin itu telurnya bebek laut. Kalau yang ga asin, bebek darat.”

Ya. Begitulah. Anyway. Thank you for visiting my blog. Keep coming.😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s