Hujan, Senja, dan Kopi (yang ketiganya gagal kunikmati)

Standar

Aku lupa kapan terakhir kali aku menikmati hujan. Aku lupa kapan terakhir kali aku menikmati senja. Aku juga lupa kapan terakhir kali aku menikmati kopi. Hari ini, menjelang sore, hujan telah turun. Aku berharap hujan akan turun sampai senja. Jika itu terjadi, aku berencana menyeduh secangkir kopi. Agar aku bisa menikmati hujan, senja, dan kopi sekaligus.

Malam ini, aku ingat tentang senja tadi. Tadi senja, hujan turun. Alih-alih membuat kopi dan menikmati senja dan hujan. Aku telah melupakan semua rencanaku itu. Bagaimana itu bisa terjadi? Apa kau tahu?

Akhir-akhir ini, aku sering lupa. Sering sekali. Bahkan pada hal-hal yang sangat kucintai, seperti senja, hujan, dan kopi. Ah, kau mungkin tak tahu seberapa sering aku menuliskan mereka dalam puisi-puisiku.

Hal yang menyedihkan soal lupa adalah bahwa seberapa ahli pun aku dalam soal melupakan, aku tak bisa melupakanmu. Padahal aku sudah berlatih melupakan setiap hari. Aku jadi semakin pintar melupakan, tapi tak bisa melupakanmu. Apa menurutmu aku butuh les tambahan?

Aku ingat soal hujan yang mengantarku menemuimu selepas senja, dan kau yang begitu mendebarkan seperti kafein. Aku melupakan hujan, melupakan senja, dan melupakan kopi dengan mudah. Tapi tidak kau.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s