Revolusi Industri Kedua

Standar

Homemade_with_love_Stempel
Sebelumnya, tulisan ini direncanakan sebagai essay, namun karena masih kurangnya tinjauan pustaka, maka sementara tulisan ini saya susun sebagai catatan opini saya saja. Anggap saja saya sedang membuat draft essay.

Revolusi industri terjadi di Inggris sejak ditemukannya mesin uap oleh James Watt. Sejak itu, terjadi perubahan besar yang sangat signifikan pada sistem produksi industri yang awalnya menggunakan tenaga manusia, diubah menjadi tenaga mesin.

Segala bentuk perubahan tentu memiliki dampak positif sekaligus negative. Dampak negative revolusi industry ini adalah banyaknya pekerja yang kehilangan pekerjaan karena lebih banyak tenaga manusia digantikan oleh mesin. Dampak positifnya, efisiensi industry meningkat dengan sangat signifikan.

Oke, mungkin beberapa orang akan beranggapan bahwa saya kapitalis ketika saya mengatakan saya sangat mendukung penggantian tenaga manusia dengan mesin untuk pekerjaan yang berulang-ulang. Bukan, bukan karena alasan efisiensi. Saya merasa revolusi industry pada jaman itu telah mengembalikan manusia kepada manusia, sebagai makhluk kreatif yang memiliki kecerdasan dan berhak mengembangkan diri. Mesin, hanyalah menggantikan pekerjaan yang berulang-ulang dan tidak membutuhkan kreatifitas. Bayangkan saja jika manusia harus terus melakukan pekerjaan yang berulang-ulang, pasti akan sangat membosankan. Karena manusia tidak terlahir untuk itu. Pekerjaan yang berulang-ulang hanya akan menurunkan kecerdasan dan kreatifitas manusia dan merenggut hak asasinya untuk mengembangkan diri.

Di masa modern ini, berawal dari makin populernya slogan “back to nature”, muncul gejala meningkatnya kesadaran dan pengetahuan konsumen mengenai bahan-bahan alami dan sistem produksi alami yang dianggap jauh lebih sehat dan lebih baik daripada bahan pabrikan.

Suatu hari, saya berdiskusi dengan seorang dosen pangan dari Jerman dimana beliau dengan tegas berkata “Anything that homemade is good” dan beliau juga menambahkan nasehat bahwa ketika saya membuat sebuah produk homemade, kampanyekanlah dan tonjolkanlah konsep homemade itu dengan tulisan yang besar.

Lebih jauh lagi soal produk homemade, ketika saya secara (agak) tidak sengaja membaca literatur handbook pembuatan keju berbahasa asing (saya lupa handbook itu dari Negara mana), saya menemukan pernyataan yang sebelumnya tidak pernah saya temukan dalam literatur pangan manapun. Pernyataannya kira-kira seperti ini :
“apa yang tidak dimiliki oleh kebanyakan produk makanan saat ini adalah cinta dan kasih sayang, karena lebih banyak produk makanan dibuat dengan mesin, tidak dengan cara tradisional seperti jaman dahulu.”

Wah.

Pencarian saya berlanjut, ternyata sudah ada beberapa perusahaan biscuit yang mengembangkan mesin cetakan agar biskuitnya terlihat berbeda satu sama lain agar terlihat seperti produk homemade. Sehaus inikah konsumen terhadap produk homemade?

Katanya sih (ini katanya lho), ketika produk homemade dibuat, sentuhan-sentuhan tangan akan mengantarkan gelombang perasaan pembuatnya kepada produk-produk yang dibuatnya. Inilah yang tidak dimiliki oleh produk buatan mesin (mesin tidak bisa menghantarkan perasaan apa-apa, kecuali mungkin, mesin yang gagal move on).

Entah bagaimana membuktikan pemikiran semacam ini, saya juga tidak tahu. Tapi seorang pengusaha jamur pernah bercerita kepada saya “saya tidak bisa menangani starter jamur ketika saya sedang merasa kesal atau marah, selalu saja akan gagal, jamur itu sensitive sekali.”

Saya sendiri pernah menerima kritik dari ayah saya karena saya semakin jarang menulis dengan tangan (lebih sering mengetik dengan komputer) sehingga tulisan tangan saya menjadi semakin jelek. Beliau meramalkan, suatu hari, tulisan tangan yang indah akan dibayar mahal. Benar saja. Belum lama ini saya membaca sebuah jasa undangan pernikahan yang ditulis dengan tangan, dan harganya pun spektakuler.

Saya rasa mungkin sebentar lagi kita akan menghadapi revolusi industry kedua, dimana yang terjadi adalah sebaliknya, banyak tenaga mesin akan kembali digantikan tenaga manusia. Tapi bedanya, kali ini tenaga manusia akan dibayar jauh lebih mahal, produk-produk homemade akan dijual lebih mahal dan menjadi symbol cinta kasih dan kreatifitas. Tentunya ada bagian-bagian yang tetap perlu dikerjakan dengan mesin (bagian-bagian yang tidak perlu kreatifitas). Untuk menghargai manusia sebagai makhluk yang kreatif.

Biarlah mesin menggiling biji menjadi tepung, lalu tangan manusia yang penuh cinta akan membuat biskuitnya. Biarlah mesin membuat jar, lalu tangan manusia yang membuat selai Balibell-nya #eh. Biarlah mesin memintal benang, lalu tangan manusia yang menjahit lekuk-lekuk gaunnya. Segala sesuatu yang menyentuh manusia haruslah penuh cinta.

Homemade product, the symbol of love.

Mari menyambut revolusi industry kedua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s