Green Living – Mengelola Limbah Padat Rumah Tangga (Organik)

Standar

1(Definisi) Limbah padat (sampah) organik adalah sampah yang dapat terurai dengan sendirinya di alam melalui proses penguraian biologis dengan bantuan organisme pengurai seperti semut, cacing, jamur, ataupun bakteri. Sampah organik yang terurai tidak akan berbahaya bagi lingkungan, bahkan dapat memberikan nutrisi bagi tanah yang dapat menyuburkan tanaman.

Meskipun tidak merusak lingkungan, sampah organik membutuhkan waktu dan proses penguraian yang cukup lama, karenanya, kita perlu menjaga keseimbangan antara produksi sampah organik dan penguraiannya, jangan sampai produksi sampah organik terlalu banyak dan cepat daripada penguraiannya sehingga terjadi penumpukan sampah organik.

(Sumber) Secara umum, ada dua sumber produksi sampah organik dalam rumah tangga yaitu :

  1. Dapur (sisa makanan, sampah bahan makanan, dan lain-lain)
  2. Kebun atau Halaman Rumah (daun-daunan, ranting, potongan rumput, dan lain-lain)

(Kategori) Berdasarkan metode pengelolaannya, ada 3 kelompok sampah organik yaitu :

  1. Saya sebut saja Sampah Reuse, yaitu sampah organik yang masih bisa dimanfaatkan lagi tanpa diolah, misalnya sisa makanan untuk makanan ternak (unggas dan ikan), dan juga daun-daunan segar atau potongan rumput untuk makanan ternak (sapi, kambing, kelinci, dll). Jika situasi tidak memungkinkan untuk menggunakan (tidak ada ternak) sampah ini, maka sampah ini dapat dimasukkan ke komposter.
  2. Sampah Komposter, yaitu sampah organik yang dapat diuraikan dalam skala rumah tangga menggunakan komposter misalnya sampah daun-daunan busuk dari kebun, kulit buah, dll.
  3. Sampah Organik Non Kelola, yaitu sampah organik yang proses penguraiannya relatif lama dan kompleks sehingga kurang sesuai untuk dikelola dalam skala rumah tangga. Contohnya adalah cangkang telur, tulang, bonggol jagung, kulit kelapa, batang kayu besar, dll. Sampah jenis ini sebaiknya dibuang ke tempat pembuangan akhir.

(Sarana) Sarana-sarana yang perlu anda miliki untuk mengelola sampah organik rumah tangga antara lain :

  1. Tempat penampungan sampah reuse di dapur
  2. Tempat sampah komposter di dapur
  3. Tempat sampah organik non kelola di dapur + dilapisi kantong plastik ramah lingkungan
  4. Komposter di halaman rumah
  5. Tempat sampah organik non kelola di kebun atau halaman rumah
  6. Tempat pembuangan akhir

(Pengelolaan Sampah Dapur) Baik dapur maupun kebun, menghasilkan ketiga jenis sampah di atas, untuk mengelola (termasuk mengurangi) sampah di dapur, beberapa caranya adalah :

1. Sampah Reuse, sampah reuse dari dapur berupa sisa makanan, cara mengelolanya :

– Sediakan tempat khusus untuk mengumpulkan sampah ini dan letakkan di dekat bak cuci piring dimana biasanya sampah ini berasal. Jaga kebersihan tempat sampah ini dan bersihkan secara berkala. Sebaiknya sampah ini langsung dibuang setiap selesai mencuci piring agar tidak tinggal lama di dapur dan dapat mengundang hewan parasit, jamur, dan bakteri yang bisa merugikan kesehatan.

– Memasak dengan kapasitas sesuai kebutuhan sehingga meminimalkan sisa makanan

– Membiasakan diri dan keluarga untuk mengambil makanan sesuai kebutuhan dan menghabiskan makanan (tidak menyisakan makanan di piring). Kebiasaan ini juga akan sangat memudahkan aktivitas mencuci piring karena peralatan makan terbebas dari limbah padat.

– Bila kita tidak memiliki ternak, namun memiliki kenalan peternak yang mungkin membutuhkannya, sampah ini dapat dihibahkan (asal masih dalam kondisi baik dan layak), jika tidak, sampah ini dapat dibuang ke komposter.

2. Sampah Komposter, sampah ini berupa sisa bahan makanan seperti kulit buah, biji buah, dll, cara mengelolanya adalah :

– Sediakan tempat sampah khusus di dapur untuk sampah ini dan beri label “Sampah Komposter” agar tidak repot memisahkan sampah ini dengan sampah lainnya. Bersihkan tempat sampah ini secara berkala. Usahakan tempat sampah yang digunakan berukuran kecil untuk memotivasi agar kita lebih rajin membuang sampah karena sampah yang didiamkan dalam waktu lama dapat mengundang berbagai hewan parasit, dan bakteri yang bisa merugikan kesehatan.

– Tidak menyimpan dalam waktu lama dan banyak, bahan makanan yang cepat rusak untuk menghindari resiko bahan makanan rusak/busuk sebelum sempat diolah dan terpaksa dibuang.

– Mengupayakan pengecilan ukuran (memotong-motong) sampah organik sebelum dimasukkan ke komposter agar proses penguraian lebih cepat dan efektif.

– Untuk anda yang belum memiliki komposter, kemaslah sampah ini dengan rapi menggunakan kantong plastik ramah lingkungan sebelum dibuang ke tempat pembuangan akhir.

3. Sampah Organik Non Kelola, sampah ini berupa sisa bahan makanan yang sulit terurai (kulit kelapa, bonggol jagung, cangkang telur, tulang dll). Cara mengelolanya adalah :

– Sediakan tempat sampah khusus di dapur sampah jenis ini. Lapisi tempat sampah dengan kantong plastik untuk memudahkan anda membungkus dan membuangnya ke tempat pembuangan akhir. Pilihlah untuk menggunakan kantong plastik ramah lingkungan (yang bisa diperoleh bila berbelanja di supermarket) daripada menggunakan garbage bag tebal berwarna hitam karena kantong plastik supermarket lebih ramah lingkungan. Jangan lupa untuk menjaga kebersihan tempat sampah.

– Upayakan untuk membeli hanya daging kelapa saja sesuai kebutuhan

– Jika memungkinkan, pilihlah untuk membeli jagung serut

– Pertimbangkan untuk membeli daging atau ikan fillet tanpa tulang

– Usahakan untuk memperkecil volume sampah sebelum dibuang sehingga tidak terlalu memakan banyak ruang. Misalnya kulit telur bisa diremas/dihancurkan sebelum dibuang sehingga ukurannya menjadi lebih kecil.

(Pengelolaan Sampah Kebun) Sedangkan untuk sampah kebun, beberapa cara mengelolanya (termasuk mengurangi) adalah :

– Pasang paping block di area halaman atau kebun dimana anda tidak ingin ditumbuhi rumput. Paping block dapat menghalangi tumbuhnya rumput liar, mencegah genangan air, namun tidak menghalangi suplai air tanah karena memiliki celah untuk dilalui air.

– Pilihlah jenis tanaman atau pepohonan yang tidak terlalu banyak/sering menggugurkan daun (misalnya pohon mangga) sehingga sampah dedaunan tidak terlalu banyak dan anda pun tidak akan terlalu repot membersihkan halaman.

– Anda dapat mempertimbangkan untuk menggunakan tabulampot sebagai pohon peneduh di halaman rumah. Tabulampot adalah akronim dari “tanaman buah dalam pot” yang umumnya ditanam dalam pot berukuran sangat besar. Kelebihan dari tanaman ini adalah pertumbuhan ukurannya terbatas (karena tumbuh dalam pot) sehinga anda tidak perlu repot merapikan dan menebangnya dan tentunya tidak akan repot dengan sampah-sampah berukuran besar seperti tebangan kayu dan ranting-ranting. Tabulampot juga lebih fleksibel karena dapat dipindah-pindahkan sehingga anda dapat dengan mudah mengganti tata letak kebun. Kelebihan lain dari tabulampot adalah anda terhindar dari resiko pertumbuhan akar pohon yang bisa merusak pondasi rumah.

(Don’t) Meskipun sampah organik adalah sampah yang dapat terurai sendiri di lingkungan, namun hal yang anda tidak boleh lakukan dengan sampah organik adalah :

1. Membuang sampah organik ke perairan (got, selokan, sungai, danau, dll) karena :

a. Sampah organik akan mengendap di dasar perairan dan menyebabkan pendangkalan sehingga menghambat aliran air dan mengurangi daya tampung perairan (resiko yang lebih besar lagi : banjir)

b. Penguraian sampah organik akan menghasilkan asam yang menurunkan pH air dan juga mengurangi kadar oksigen dalam air sehingga dapat menyebabkan kematian organisme-organisme air terutama ikan.

c. Sampah organik yang terurai menjadi hara akan menyebabkan penyuburan daerah perairan yang dapat menyebabkan peledakan populasi tanaman air misalnya eceng gondok, tentunya hal ini akan mengganggu keseimbangan ekosistem.

2. Menumpukkan sampah organik secara langsung ke atas atau ke sekitar tanaman layaknya pupuk karena :

a. Sampah organik memerlukan waktu dan proses sampai bisa berubah menjadi pupuk tanaman (kompos) dan sebaiknya proses ini terjadi di dalam komposter.

b. Proses penguraian sampah organik dapat menghasilkan panas, asam, dan menurunkan kadar oksigen sehingga akan mengganggu bahkan meracuni tanaman.

c. Dapat menimbulkan bau busuk/bau tak sedap yang mengganggu kesehatan dan mengganggu estetika rumah

d. Dapat mengundang organisme seperti semut, lalat, jamur, serta banyak bakteri yang dapat menimbulkan penyakit.

Demikian pembahasan mengenai pengelolaan limbah padat organik rumah tangga.

Next : Mengelola Limbah Padat Rumah Tangga (Plastik)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s