Kisah tentang Sepasang Sendok dan Gayung yang Hidup Bahagia

Standar

2-pcs-buatan-tangan-beeh-kayu-sendok-teh-sendok-peti-sendok-sendok-dapur-gayung-selai-sendok

Di sebuah dapur, tinggallah sebatang sendok makan yang terbuat dari aluminium. Gagangnya berukiran garis-garis dan bintang. Sebut saja namanya Sendy. Sendy tinggal di tempat sendok bersama para garpu, pisau-pisau makan, sendok-sendok teh, dan saudara-saudaranya, sendok-sendok makan lain yang serupa dengan dirinya. Dia dan saudaranya berjumlah selusin. Setiap hari, ibu pemilik rumah akan meletakkan mereka di meja makan saat menghidangkan makanan bagi keluarganya. Setelah acara makan selesai, ibu pemilik rumah akan mencuci dan mengelap mereka sampai mengkilap dan kemudian menaruhnya lagi dengan rapi di tempat sendok.

Suatu hari, seorang gadis kecil, anak dari ibu pemilik rumah, pergi bermain ke dapur. Saat itu keadaan dapur sepi karena ibu pemilik rumah sedang sibuk menjemur pakaian di halaman rumah. Tanpa sepengetahuan ibunya, gadis kecil itu diam-diam mengambil Sendy untuk digunakannya bermain masak-masakan di kamar mandi. Selain menggunakan Sendy, sang gadis kecil juga menggunakan gayung kamar mandi, namanya Bob, sebuah gayung air bulat yang terbuat dari plastik. Di kamar mandi inilah kemudian Sendy dan Bob jatuh cinta pada pandangan pertama. Setelah permainan masak-masakannya berakhir, sang gadis kecil meninggalkan peralatan bermainnya begitu saja tanpa dirapikan. Ketika ibu pemilik rumah masuk ke kamar mandi untuk menaruh ember-ember cucian, ia menemukan Sendy yang malang dan mengembalikannya ke dapur. Saat hendak mengembalikan Bob ke bak mandi, ibu pemilik rumah menemukan bagian bawah Bob sudah retak dan bocor. Bob pun sudah tidak bisa digunakan lagi sebagai gayung kamar mandi. Rupanya ketika bermain tadi, si gadis kecil tidak sengaja menjatuhkan Bob hingga menghantam keran air yang keras dan menyebabkannya retak. Ibu pemilik dapur akhirnya menjadikan Bob pot seledri yang kemudian diletakkannya di depan jendela dapur agar seledri-seledrinya mendapat cukup cahaya matahari. Beruntungnya, Bob juga berada dekat dengan tempat sendok. Bob dan Sendy pun bisa bertemu setiap hari. Di malam hari, mereka sering berkencan melihat bintang-bintang dari jendela dapur.

Hubungan Bob dan Sendy menimbulkan banyak perubahan sikap para penghuni dapur. Ibu-ibu sendok sayur dan bapak-bapak panci sup kini senang berbisik-bisik bila Sendy sedang berada di dekat mereka, begitu pula para spatula yang kerap memalingkan muka dan mengacuhkan Sendy yang dianggap melanggar tradisi. Ibu poci teh tidak lagi mengijinkan anak-anaknya, para sendok teh untuk bermain bersama Sendy. Bahkan, saudara-saudaranya, para sendok aluminium ikut-ikutan menertawakannya. “Kamu seharusnya mengerti bagaimana memilih pasangan yang tepat. Lihatlah Forky si garpu perak yang seksi itu. Bukankah dia menyukaimu? Mengapa kamu malah memilih si gayung bocor tak berguna itu?” ujar salah satu saudaranya, Selam, si sendok makan aluminium yang tangkainya sedikit bengkok karena pernah digunakan ibu pemilik rumah untuk mencongkel pintu oven yang rusak. Hanya sepupu-sepupu Sendy, para pisau steak, yang tidak berubah sikap terhadap Sendy. Mereka yang sebagian besar menjomblo itu memang dikenal tidak suka ambil pusing terhadap isu-isu tidak penting yang berkembang di masyarakat. Para pisau steak sering mengingatkan dan menasehati Sendy untuk bersikap santai saja dan tidak perlu terlalu merisaukan apa yang orang-orang bicarakan tentang dirinya.

Namun, Sendy tidak bisa berhenti galau karena sikap orang-orang terhadapnya. Akhirnya, pada suatu malam, Sendy memutuskan untuk menyingkirkan Bob dari dapur. Sendy meminta bantuan saudara-saudara sendok makannya yang tentu saja dengan senang hati membantunya karena mereka dari awal memang tidak pernah menyukai Bob. Mereka kemudian bersama-sama mendorong Bob ke arah jendela hingga Bob, bersama seledri yang di tanam didalamnya, jatuh keluar dapur dan menggelinding ke dalam semak-semak gelap di bawah jendela dapur yang tidak bisa terlihat oleh siapapun. Bob sangat sedih dan kecewa kepada Sendy, namun dia juga tidak tega melihat Sendy yang selalu galau karena sikap orang-orang terhadapnya. Karena itu, dia memutuskan untuk berdiam diri saja dan menerima hidup barunya.

Sementara itu, Sendy merasakan kepuasan sesaat karena kembali diterima oleh masyarakat peralatan dapur. Ibu-ibu sendok sayur dan Bapak-bapak panci sup tidak lagi suka membicarakannya. Para spatula menjadi ramah padanya. Sendy kembali sering bermain bersama para sendok teh. Sedangkan saudara-saudaranya kini kembali sering mengajaknya hang out dan berkencan ramai-ramai dengan para garpu. Sendy merasa senang, namun lama kelamaan dia sadar bahwa dia tidak bisa berhenti memikirkan dan merindukan Bob, si gayung bocor, setiap hari. Dia akhirnya sadar bahwa dia merasa sangat kehilangan dan ingin agar cintanya bisa kembali.

Sendy mencari cara bagaimana dia bisa membuat Bob kembali ke dapur, dia pun menemui sepupu-sepupunya yang baik, para pisau steak. Para pisau steak yang cool dan cerdas ini kemudian membantu Sendy dengan solusi yang mudah. Di sabtu malam, mereka beramai-ramai menebas semak-semak yang menutupi tubuh Bob di bawah jendela dapur. Di hari minggu pagi, Bapak pemilik rumah yang suka berkebun di hari libur pun menemukan Bob dan mengembalikannya ke Ibu pemilik rumah. Sayangnya, seledri-seledri yang ditanam Ibu pemilik rumah telah mati. Ibu pemilik rumah kemudian menanam kembali bibit seledri yang baru menggunakan Bob dan kembali meletakkannya di depan jendela dapur. Setelah Sendy meminta maaf kepada Bob, mereka pun kembali hidup bersama di dapur. Seperti seledri-seledri yang tumbuh subur dalam tubuh Bob, cinta mereka berdua pun tumbuh semakin besar, tanpa peduli sikap-sikap orang lain. Mereka sudah cukup bahagia dengan satu alasan, yaitu saling mencintai.

Tamat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s