Menepis Bila

Standar

31 Januari 2014

Sudah lama sejak terakhir kali saya menulis catatan, namun suasana senja ini terlalu sayang dilewatkan. Rintik hujan di luar jendela berpadu dengan vokal jamie cullum terdengar seperti ketukan huruf-huruf yang menuntut dirangkai dalam tulisan. Di antara hampir semua lagu beraliran jazz dalam play list saya, menyempil satu lagu JKT48, fortune cookies, yang justru paling menohok dengan perasaan saya sekarang, apalagi setelah hari Siwaratri kemarin.

masa depan tidak akan seburuk itu… hei hei hei… mengembangkan senyuman… kan membawa keberuntungan…

Setelah saya renungi lagi, pada kenyataannya, sebagian besar hal yang terjadi dalam hidup saya adalah peristiwa yang tidak pernah saya duga. Sebagian besar pula kecemasan dan kekhawatiran saya ternyata tidak pernah benar-benar terjadi.

Beberapa minggu terakhir ini, saya menjebakkan diri dalam banyak perasaan negatif. Volume pekerjaan sangat besar dengan jangka waktu yang tidak masuk akal telah membuat saya jadi tertekan, bahkan karena tidak berhasil mengukur kapasitas kerja saya sendiri, saya akhirnya terserang flu yang tentunya semakin menghambat saya menyelesaikan pekerjaan. Dalam keadaan itu saya berubah menjadi pengeluh.

Tubuh saya telah memberi kode untuk beristirahat dan memulihkan diri sebelum kembali bekerja. Namun karena segala kecemasan saya terhadap deadline perkerjaan dan sebagainya, akhirnya saya tetap bekerja dalam keadaan flu. Hasilnya tentu saja sangat jauh dari kata layak, dan hal itu membuat saya semakin jengkel dan tertekan. Belakangan, karena sesuatu dan lain hal, ternyata deadline pekerjaan saya ditunda sampai dua minggu. Nah….

Saya sangat bersyukur dan menyesal. Bersyukur karena deadline yang ditunda ini memberi saya kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan saya dengan kualitas yang layak. Menyesal atas rasa khawatir yang saya pelihara hingga melahirkan segala “bila” yang menyiksa.

Di hari Siwaratri kemarin, hari yang jatuh pada bulan mati ketujuh (tilem kapitu), saya kembali mengingatkan diri saya pada cerita Lubdaka, seorang pemburu yang menghabiskan hidupnya sebagai pembunuh binatang yang bisa mencapai surga setelah melakukan brata di malam Siwaratri dengan memetik habis daun “bila” semalam suntuk.

Seperti yang saya kutip dari ajaran seorang guru agama sewaktu saya masih di bangku (kalau tidak salah) SMA.

Surga adalah simbol dari kebahagiaan yang kontinyu (tidak terbatas). Orang yang tidak mencapai surga adalah orang yang menderita. Penderitaan banyak disebabkan oleh pikiran. Pikiran yang dipenuhi dengan kecemasan, dengan kekhawatiran, dengan ketakutan, terhadap segala macam kemungkinan yang diciptakannya sendiri. Lebih khususnya lagi, pikiran menderita karena adanya “Bila”. Bila begini, bila begitu, dan segala kemungkinan-kemungkinan lain yang menyiksa, dan membuat semakin lupa untuk yakin, semakin lupa untuk percaya, dan semakin lupa bahwa dia tidak seharusnya memelihara rasa khawatir yang membuatnya menderita.

Karena itulah, Lubdaka yang pada malam Siwaratri berhasil menepis segala “bila”, akhirnya menemukan kebahagiaan (surga).

Malam lalu, saya sangat bersyukur telah kembali mengingat makna hari Siwaratri, dan mengingatkan diri saya untuk kembali berusaha menepis segala bila dalam pikiran saya. Serta menghentikan diri memelihara rasa takut, khawatir, dan cemas sehingga saya kembali berbahagia.

nasib lebih baik ada di hari ini… hei hei hei…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s