Idealisme – tulisan bermuatan curhat

Standar

sukarno

“Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” – Soekarno

Quote dari presiden pertama RI di atas mungkin sudah terlalu klise untuk diucapkan. Tapi sampai hari ini, saya masih bertanya-tanya, di Indonesia ini ada jutaan (mungkin juga puluhan juta) pemuda, bukankah seharusnya bukan cuma dunia saja yang terguncang? Tapi mungkin tata surya, atau bahkan galaksi milkway. Sebenarnya 10 pemuda macam apa sih yang dimaksud Soekarno? 10 Pemuda macam apa sih yang sanggup mengguncang dunia?

Banyak filosofi yang menyebutkan bahwa pemuda adalah symbol harapan, symbol perubahan, symbol regenerasi, symbol kehidupan baru, dan kawan-kawan seperguruannya. Apa itu benar?

Memikirkannya, ingatan saya kembali ke masa akhir SMA, ketika saya dan mungkin jutaan anak seusia saya di seluruh Indonesia sedang sibuk memikirkan di perguruan tinggi mana kami akan melanjutkan pendidikan. Dengan satu urusan itu saja, kami telah begitu kerepotan mencari informasi, belajar, melatih diri dengan try out, mengikuti sejumlah ujian, bagi sebagian orang juga mungkin termasuk ikut bimbingan belajar, dan mencari sebanyak-banyaknya kesempatan. Pokoknya, pada saat itu, urusan kuliah sudah menjadi begitu pentingnya sepenting urusan hidup dan mati, urusan masa depan.

Sama populernya dengan informasi perkuliahan dan ujian masuk perguruan tinggi, informasi beasiswa untuk calon mahasiswa baru juga “menyebar begitu cepatnya bagai jerawat di wajah anak-anak SMP” (pinjem kata-kata Gafur dalam novel Empat Musim Cinta). Saya ingat pada jaman itu, ada beasiswa dan kesempatan masuk perguruan tinggi sebagai Putra Daerah dengan segala persyaratannya yang susah-susah, dan tentu saja saya tidak termasuk di dalamnya (aku mah apa atuh).

Putra Daerah itu semacam calon mahasiswa baru yang dinominasikan oleh kepada daerah, yang sebagian biaya pendidikannya juga ditanggung dari APBD, dan setelah menyelesaikan pendidikannya, ia diharapkan akan kembali ke untuk membangun daerah asalnya.

Nah, dari jenis beasiswa/jalur masuk ini, saya mungkin menemukan sedikit pencerahan. Kira-kira pemuda-pemuda semacam inilah yang mungkin dimaksudkan oleh Soekarno. Pemuda-pemuda potensial (bukan hanya putra daerah secara literal) yang pergi merantau untuk belajar dan kemudian kembali ke masyarakat untuk membuat perubahan yang nantinya akan mengguncang dunia.

Tapi, benarkah pemuda-pemuda potensial yang cerdas dan kompeten itu akan membawa perubahan bagi masyarakat?

Ada banyak PTS dan PTN terkemuka di Indonesia yang setiap tahun melepaskan puluhan ribu pemuda-pemuda berbakat dengan potensi luar biasa.

Berguncangkah dunia?

Dunia? Itu mungkin terlalu jauh. Indonesia aja deh. Eh, masih terlalu jauh. Kalau gitu Propinsi? Kabupaten? Kecamatan? Kelurahan? Duh, RT deh RT.

Kenyataan yang miris, bahwa sebagian besar symbol-symbol harapan dan perubahan itu hanya mengulang sejarah. Mencari kenyamanan dan keamanan dengan pekerjaan yang layak di kota asal atau kota besar, membangun kehidupan dan keluarga yang (sedikit atau jauh) lebih baik dari orang tua mereka. Atau bahkan, yang lebih buruk, “kerja nyinyir modal gadget” (dikutip dari kata-kata Ridwan Kamil) di internet untuk mengkritik kebijakan negara, kebijakan pemerintah, kebiasaan-kebiasaan buruk masyarakat, sambil melabeli dirinya sebagai pemerhati rakyat kecil.

Jadi, apa pemuda-pemuda itu yang dimaksud bisa mengguncang dunia? Jangan mimpi!

Tapi, itu juga bukan murni kesalahan pemuda. Itu mungkin kesalahan tradisi yang sudah membudaya selama puluhan atau bahkan ratusan tahun. Kebanyakan orang tua mendambakan kebahagiaan anak-anaknya, dimana kebahagiaan ini dikonversikan ke dalam nilai-nilai semacam pekerjaan yang aman dan layak, penghasilan yang cukup, reputasi dan status social yang baik di mata masyarakat, dll. Pokoknya hal-hal yang berbau “udahlah, hidup yang biasa-biasa aja, yang penting sejahtera.” Nah, konsep-konsep semacam inilah yang barangkali menjadi penghambat pemuda-pemuda untuk menjalankan misinya lahir ke dunia, yaitu sebagai agen perubahan.

Bukan hanya para orang tua, masyarakat Indonesia secara umum yang juga terkenal akan sifat “peduli dan perhatian”nya ini juga ikut andil besar dalam melenyapkan motivasi para pemuda untuk menjadi agen perubahan. Hanya ada sebagian kecil masyarakat saja yang bisa bersikap cukup dewasa untuk menghargai kerja keras pemuda-pemuda tekun yang berusaha mengabdikan kompetensinya untuk melayani masyarakat.

Tapi, apa pemuda boleh menyerah dengan keadaan seperti itu? Tentu saja tidak boleh.

Menjadi pemuda idealis, yang mejalankan fungsi sebagaimana misi yang dibawanya sejak lahir sebagai symbol perubahan, harapan baru, dan kehidupan baru tentu saja tidak mudah. Tapi masyarakat, adalah sesunggunya dunia, sekolah yang sebenar-benarnya.

Ketika pertama kali membuka dirinya untuk membuat perubahan dan masuk ke masyarakat, pemuda akan menghadapi dunia yang sangat berbeda, dunia yang penuh dengan heterogenitas, tidak seperti lingkungan perkuliahannya yang umumnya homogen. Heterogenitas dalam masyarakat ini meliputi usia, tingkat pendidikan, tingkat kepekaan, moral, wawasan, kompetensi, pengalaman, etika, sampai yang paling ekstrim, tingkat kesemprulan dan kekampretan-nya masing-masing.

Contoh kecil pertama mungkin seperti pemuda yang memutuskan menjadi entrepreneur, pemuda yang tidak merasa cukup hanya sebagai penikmat lapangan pekerjaan, tapi mengubah diri menjadi pencipta lapangan pekerjaan. Di masa start-up yang sulit dan berdarah-darah (ini sih lebay), ucapan atau gunjingan nyinyir sepertinya akan cukup mengenyangkan sebagai makanan sehari-hari. Tidak jauh-jauh, kadang-kadang pertanyaan-pertanyaan nyinyir semacam “Emangnya sekarang ga kerja? Nganggur?” justru datang dari orang yang diberi pekerjaan. Sepet, kan? (What the hell do you think I’m doing?).

Sementara, teman-teman kecil di sekitar yang mungkin bekerja di perusahaan besar dan hidup nyaman dengan keluarganya dipandang dengan lebih terhormat. Padahal, yang dia lakukan cuma memuliakan kehidupannya sendiri. Tidak ada imbas atau dampak apa-apa terhadap masyarakat.

Contoh kedua ketika pemuda secara aktif membuka diri untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang murni dari dalam hati terdalamnya adalah niat mulia untuk mengabdi. Tentu saja menggembirakan sekali jika yang diperoleh adalah pujian atau setidaknya sikap menghargai. Tapi, sekali lagi, hal-hal tersebut kemungkinan besar akan berada jauh di mata. Seringkali yang diperoleh adalah kritikan, judgement, disalahkan, dipojokkan, atau bahkan ditikam dari belakang oleh anggota satu tim yang kadang-kadang sangat tidak kompeten, bahkan sebagian tanggung jawabnya sudah diambil. Sebagaimana kata-kata yang saya kutip dari seorang tokoh masyarakat :

“Suba payah, mayah, layah, buin salah.” sudah capek, nombokin, lapar (kekurangan uang, karena kerja sosial berarti tanpa upah), masih saja disalahkan.

Contoh ketiga, ketika pemuda berusaha mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk masyarakat dengan menularkan kebiasaan-kebiasaan baiknya. Mungkin hanya saja yang peduli, dan sebagian yang lain menganggap mereka sok tahu atau sok ngatur.

Tapi, sekali lagi. Apa pemuda boleh menyerah dengan rintangan-rintangan itu? Jawabannya masih sama : tidak boleh. Pemuda harus mengingat misi awalnya, yaitu perubahan dan kehidupan baru di masyarakat, ke arah yang lebih baik tentunya. Tidak penting itu pujian, sanjungan, penghargaan, atau apapun juga. Karena goal-nya jelas. PERUBAHAN.

“Find yourself in the service of others” – Gandhi –

Menjadi pelayan masyarakat adalah cara terbaik untuk menemukan diri kita yang sesungguhnya. Siapakah sebenarnya diri kita? Benarkah kita layak disebut sebagai agen perubahan?

Sekeras-kerasnya jeruk diperes hanya akan mengeluarkan air jeruk. Jika suatu kali, jeruk diperes dan mengeluarkan air tomat, berarti itu bukan jeruk.

Orang baik, walau dalam tekanan sebesar apapun, akan tetap baik. Jika orang baik tertekan kemudian jadi jahat, berarti dia bukan benar-benar orang baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s