Hidup seperti Mengendarai Purug

Standar

penyebrangan-sungai-citanduy-ciamis-harapanrakyat

Dalam detik-detik menunggu sesuatu yang sangat menegangkan seperti pertarungan antara hidup dan mati (yang sayang sekali tidak berakhir menggembirakan), lebih baik saya membunuh waktu dengan menuliskan sebuah kisah yang sangat mencerahkan.

Di Sabtu sore, tanggal 16 Mei kemarin, ketika saya sedang duduk-duduk santai sambil memulihkan diri pasca terserang influenza, saya kebetulan menonton tv dan kebetulan juga channel yang saya tonton adalah natgeo wild, serta kebetulan lagi, channel tersebut sedang menayangkan acara wild instinct.

Kenapa saya sebut kebetulan? Karena memang saya tidak punya agenda atau jam khusus menonton tv, tidak punya loyalitas terhadap channel tertentu (meskipun sejujurnya saya memang lebih suka menonton channel luar negeri akibat kekecewaan saya terhadap channel-channel dalam negeri yang kebanyakan acaranya saya rasa kurang bermanfaat), pun juga tidak mengikuti acara tv apapun kecuali yang sering saya tonton, itupun juga secara kebetulan, tidak peduli itu siaran perdana ataupun siaran ulang. Inilah salah satu keuntungan menggunakan tv berlangganan, kalau kita lihat ada acara yang kita sukai di jadwal acara dan kebetulan kita tidak akan semoat menontonnya, kita tidak perlu khawatir, karena acara tersebut akan ditayangkan ulang lagi sampai beberapa kali. Terutama di akhir pekan, kebanyakan acaranya ulangan. Jadi, kalau ada yang mau langganan indo*ision, lewat saya aja ya, biar saya dapet gratis sebulan tiap satu orang yang saya ajak. Eh… Eh… kok jadi kejauhan….

Back to topic. Nah, di dalam acara wild instinct yang saya tonton (secara tidak utuh) tersebut, ada satu statement yang kemudian benar-benar mengubah cara berpikir saya setelah belasan tahun. Statement apakah itu? Penasaran? Anda penasaran? Sama! Saya juga! (tuh, bener kan, acara dalam negeri bisa merusak otak, otak saya ini contohnya).

Dalam acara itu, digambarkan, sang host yang juga seorang petualang, sedang belajar menyusuri rawa dengan mengendarai purug (disebutkan diterjemahan seperti itu), semacam perahu panjang yang biasanya dikendarai dengan posisi berdiri, dan dayungnya berupa sebatang galah bambu panjang (seperti galah yang digunakan untuk mendayung rakit.

Ada banyak hal yang harus dihadapi ketika mengendarai purug di rawa, selain harus menjaga keseimbangan (dan itu tidak mudah), mendayung dengan memperhitungkan kedalaman, arus air, dan sebagainya, juga kesiapan fisik dan mental menghadapi buaya atau bahkan gajah (dalam episode itu, banyak gajah yang suka berenang di sana) yang bisa saja menyerang kapan saja. Dan masih sangat banyak tantangan lainnya.

Saat mendayung purugnya, setiap kali, pembawa acara (yang sayang sekali saya lupa namanya) itu harus menyeimbangkan diri, tubuhnya bergoyang dan kadang hampir jatuh. Menegangkan.

“Untuk sampai ke tujuan, aku harus bisa menjaga keseimbangan, aku harus bisa selaras dan menyatu dengan purug-ku. Begitulah kehidupan.”

Satu kalimat itulah yang kemudian seketika menggetarkan hati saya sampai rasanya sekujur tubuh saya merinding dangdut.

Saya jadi sadar, selama ini saya telah begitu salah persepsi. Saya pikir, spiritualisme yang berhubungan dengan kata-kata selaras, seimbang, adalah spiritualisme seperti biksu, lebih mengarah kepada penyerahan diri seutuhnya dan membebaskan diri dengan keterikatan-keterikatan pada hal-hal yang bersifat keduniawian. Bukannya saya tidak menyukainya, sih. Tapi, saya rasa saya belum sanggup untuk memiliki orientasi seperti itu.

Jadi, fix, pandangan saya selama ini salah! Menyelaraskan diri terhadap kehidupan, apapun situasinya, itu berbeda dengan meninggalkan atau melepaskan diri darinya. Justru, menyelaraskan diri lah jalan satu-satunya untuk mencapai tujuan, dan juga kebahagiaan. Untuk mencapai tujuan ketika mengendarai purug, sang nahkoda (udah, iyain aja, anggep aja nahkoda) tidak harus melawan atau membunuh semua gajah yang menghalangi jalannya. Seperti dalam kehidupan pun, seseorang tidak harus berselisih dengan orang-orang yang menghalangi pencapaian tujuannya. Pun bukan berarti pengendara purug harus membiarkan dirinya dibunuh gajah atau dimakan buaya. Dalam kehidupan pun seperti itu, seseorang tidak harus menuruti keinginan orang lain yang bisa mencelakakan dirinya. Itu bukan keselarasan. Itu bunuh diri. Kalau ngikutin kemauan orang yang mencelakakan, mana bisa mencapai tujuan, kan?

Contoh kecil untuk menyelaraskan diri dengan kehidupan dan tujuan adalah. Misalnya, anda kelebihan berat badan atau kegemukan. Kemudian anda memiliki keinginan, yang kemudian anda tetapkan menjadi tujuan, yaitu untuk menurunkan berat badan, dan menjadikan tubuh anda langsing dan sehat. Untuk menjadi selaras dengan keinginan anda itu, anda harus diet, mengatur pola makan, berolah raga, dan lain sebagainya. Jika anda tidak mau berolah raga dan diet, tapi menginginkan tubuh yang langsing, jelas itu bukan keselarasan, itu namanya mengada-ada. Ada-ada aja sih, anda.

Masih ada pilihan lain, misalnya anda tidak ingin diet, olahraga, mengatur makanan, dan segala hal lain yang bisa jadi menurut anda ribet dan merepotkan. Anda tidak perlu menyelaraskan diri dengan keinginan anda menjadi langsing, anda cukup menyelaraskan diri dengan tubuh anda yang kelebihan berat badan, nikmati saja pergerakan tubuh anda, dan selaraskan diri dengan resiko-resiko yang bisa datang karena obesitas. Ini saya bukan nakut-nakutin lho. Ini sepenuhnya tentang keselarasan. Beneran deh. Cumpah. Miapah.

Contoh lain, misalnya orang yang tidak ingin membenahi penampilannya, tapi berteriak-teriak soal inner beauty dan merasa marah jika diperlakukan berbeda dengan orang yang lebih menarik (misalnya jika gebetan anda memilih orang yang lebih menarik dari anda). Ini jelas bukan keselarasan. Ini mengada-ada. Orang menarik dan tidak menarik itu jelas usahanya beda, jadi jangan minta disama-samain. Tidak usah marah. Selaras saja lah.

Contoh lain lagi, soal kepintaran. Saya ga sengaja jadi teringat obrolan saya dengan seorang kawan beberapa tahun lalu.

Teman : “Biaya kuliah mahal banget.”

Saya : “Lho, nggak nyari beasiswa?”

Teman : “Nggak bisa lah, beasiswanya cuma buat yang pinter-pinter aja, yang IPK-nya gede.”

Anda bisa melihat ketidakselarasan disini, kan? Betul. Gimana mungkin orang yang tidak mau belajar minta diperlakukan sama seperti orang yang pintar. Padahal jelas, orang tidak pintar dan orang pintar itu pasti usahanya beda.

Jadi, apa anda masih suka mengeluh? Masih merasa tidak selaras dengan kehidupan anda? Masih merasa tidak selaras dengan keadaan yang anda hadapi? Masih merasa tidak selaras dengan keinginan anda? Masih merasa tidak selaras dengan orang-orang di sekitar anda? Mungkin anda hanya seperti sedang mengendarai purug di rawa. Percayalah, anda tidak perlu melawan, pun mengikuti kemauan mereka semua. Anda hanya harus selaras dengannya. Itu satu-satunya cara untuk mencapai tujuan anda. Bagaimana caranya? Saya rasa anda sudah tahu jawabannya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s