Break The Limit! Excuse is only for loser.

Standar
Break The Limit Concept

Break The Limit Concept

Beberapa hari ini rasanya saya bekerja seperti robot. Sampai-sampai sepertinya saya bahkan tidak sempat berpikir. Setiap hari hanya fokus menyelesaikan agenda-agenda. Jadi, kali ini saya mungkin akan menulis curhat yang agak drama. Ya, sedikit sentimentil lah. (walau hari ini pun saya tidak sedang lepas dari deadline). Hihihi.

Hari Minggu pagi yang indah kemarin, sebagai penutup weekend yang sebenarnya tidak terasa seperti weekend (karena saya banyak kerjaan), saya mengaplot beberapa rekaman suara saya di soundcloud untuk pertama kalinya. Rekaman membaca puisi yang saya rekam pada hari Sabtu Malam (males nyebut malem minggu ah, orang ga ada kencan juga #dihkokjadisewot ).

(Trus aku harus bilang wow gitu?) <- pasti aja di antara pembaca sekalian, ada yang mikir gini deh.

Ya. Kalau didengerin, memang sih rekaman suara saya itu jauh dari bagus. Jauh banget malah. Bahkan banyak kalimat yang saya masih salah baca. Walau sejujurnya saya sudah merekam beberapa kali dan yang saya upload itu memang bagian yang paling sedikit salahnya. Membaca (mengeja) adalah hal yang sangat baru bagi saya. Sangat amat baru. Apalagi dengan kemampuan membaca saya yang dibawah rata-rata.

Oke. Mungkin inilah bagian melankolisnya.

Saya bukan termasuk anak yang bodoh waktu kecil. Meskipun begitu, saya mengalami beberapa kesulitan belajar. Salah satunya kesulitan dalam operasi hitung aljabar. Mengali, Menambah, Membagi, dan Mengurang yang barangkali bisa dilakukan orang lain dengan cepat, bagi saya susah dan saya amat lambat melakukannya, sehingga saya lebih sering menggunakan kalkulator. Selain itu, saya juga memiliki masalah dalam spelling. Saya sering salah mengeja urutan huruf dalam kata-kata. Apalagi untuk kata-kata yang panjang atau hurufnya kompleks. Seperti kata KUADRAT yang hingga sekarang masih sering saya eja KUARDAT.

Jadi, inilah masalah besar saya dalam membaca (dengan melafalkan). Saya akan lebih sering membaca tersendat-sendat atau salah baca. Karena itu saya selalu malas jika harus membacakan sesuatu dengan cara dilafalkan. Meskipun begitu, saya suka bicara di depan audience. Tidak dengan membaca tentunya. Saya lebih suka menghapalkan teksnya terlebih dahulu, atau bicara sesuai dengan apa yang saya pikirkan saat itu juga. Itu akan jauh lebih lancar daripada jika saya harus membaca (melafalkan) sebuah teks.

Keberanian saya kemarin berawal dari obrolan saya dengan seorang mas-mas glossy yang saya suka sekali dengan namanya. Saking sukanya saya dengan namanya, saya sampai menggunakan namanya itu sebagai nama tokoh dalam novel yang sedang saya tulis. Dan tentu saja dengan senang hati, saya menyampaikan hal ini kepadanya. Kelihatannya (saya tebak) dia senang dengan hal ini. Karena itu saya juga berniat menyalin sebuah bab itu untuk dibacanya. Tapi kemudian dia semacam merajuk.

“Ah ga mau dikopasin. Maunya dibacain.”

Hell yeah. Definitely not” <- jawaban saya dalam hati. Tapi buat nyeneng-nyenengin dia. Hari itu saya iyain aja.

Sampai kemudian di hari sabtu malam itu, karena dalam beberapa hari saya lihat sepertinya dia sedang murung karena ibunya sakit, dan saya merasa tidak berdaya dan tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghiburnya, akhirnya saya merekam pembacaan bab itu.

Dengan banyak salah dan tersendat-sendat. Sebuah bab panjang (sebenernya ga panjang juga sih) akhirnya selesai saya baca dan saya rekam. Dan akhirnya saya kirim ke dia.

Saya sendiri tidak percaya bagaimana saya bisa selesai membaca (mengeja) satu bab yang panjang itu.

Tapi, setelah pembacaan bab yang panjang itu, saya jadi termotivasi untuk membaca yang lain. Akhirnya saya merekam pembacaan beberapa puisi. Dua puisi yang bisa lancar saya baca adalah puisi yang saya telah hapal. Sisanya tidak sempurna karena ada beberapa kesalahan.

Tapi, bagaimanapun. Saya terharu juga. TERNYATA SAYA BISA!!! Waktu saya mengunggah dan mendengarnya di soundcloud. Saya sampai menangis sedikit karena terharu. Rasanya seperti menjadi Cameron Diaz di film In Her Shoes. Ya. Ya. Ya. Barangkali hal ini sama sekali bukan hal yang istimewa. Tapi, untuk saya, ini sebuah pencapaian besar.

Waktu saya ceritakan hal ini kepada si mas glossy. Dia bilang “Gapapa, yang penting sekarang kamu jadi lebih pede. Break the limit, dear!”

Point terpentingnya adalah 3 kata itu. BREAK… THE… LIMIT…

Ah. Itu sangat menginspirasi dan semakin memotivasi saya untuk melakukan hal-hal yang selama ini saya tidak lakukan karena saya meragukan kemampuan saya. MERDEKA! #eh

Oh ya. Sebenarnya sebelum pembacaan bab yang panjang dan melelahkan itu, hal yang akhirnya juga sangat menyemangati timbulnya kepercayaan diri saya adalah karena kebaikan seorang kakak-kakak glossy bersuara nan seksi yang berbaik hati dan penuh kesabaran mengajak, eh, (kayaknya) menerima ajakan saya untuk meng-cover sebuah lagu. Dan walaupun kemudian dengan kenyataan hasil rekaman saya yang hancur berantakan. Beliau dengan kalem dan sabarnya masih berkata “Gapapa. Kan buat belajar. Suara kamu bagus, kok. Tinggal belajar nada aja.”

Bwahahhaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s