Uang Elektronik, Mengembalikan Fungsi Pecahan Mata Uang yang Hilang

Standar

e-money

Di Indonesia, inflasi masih menjadi masalah yang sulit dihindari. Sejak era tahun 1950-an hingga sekarang, telah terjadi perbedaan yang sangat signifikan pada nilai mata uang, termasuk pecahan-pecahannya. Di tahun 1950-an, masyarakat masih akrab dengan pecahan uang satu rupiah, bahkan pecahan sen. Namun, di tahun 2015 ini, pecahan uang paling kecil yang bisa ditemui, mungkin adalah uang Rp 50. Itupun sudah sangat jarang digunakan. Bahkan banyak pedagang kecil yang sekarang hanya mau menerima uang pecahan minimal Rp 500.

Lalu, apakah menghilangnya pecahan mata uang kecil ini sudah selaras dengan harga barang?

Rupanya tidak juga.

Saat ini masih banyak pedagang, terutama pasar swalayan yang menerapkan harga barang dengan pecahan-pecahan yang sebenarnya tidak bisa dijangkau dengan sempurna oleh pecahan mata uang yang ada. Misalnya saja, di supermarket, orang-orang masih bisa menemui produk berharga Rp 7.540,- atau bahkan Rp 4.521,-. Tentu saja di jaman sekarang, konsumen tidak mungkin membayar dengan pecahan uang Rp 40,- ataupun Rp 1,-. Kalau toh masih ada yang menyimpan pecahan-pecahan mata uang senilai itu dari masa lalu, saat ini pecahan mata uang tersebut sudah tidak bisa digunakan lagi. Atau sudah tidak laku. Lalu, bagaimana cara konsumen membayar harga-harga produk ini dengan pecahan mata uang yang ada?

Dalam kasus seperti ini, umumnya pihak pedagang (toko) ataupun pihak konsumen akan melakukan pembulatan-pembulatan baik ke atas maupun ke bawah. Misalnya transaksi senilai Rp 20.540,-, maka kemungkinan konsumen akan diminta membayar sebesar Rp 20.600,- atau bisa juga Rp 20.500,- tergantung kepada kebijakan yang berlaku di setiap toko.

Apakah transaksi ini fair? Tentu saja tidak, karena konsumen tidak memenuhi pembayaran sesuai dengan kewajibannya (bisa lebih atau kurang), dan pihak penjual tidak menerima pembayaran sesuai haknya (bisa kurang atau lebih). Transaksi tidak fair, atau kita sebut saja unfair transaction, ini telah berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama.

Di masa sekarang ini, unfair transaction ini kemudian berkembang lebih jauh. Tidak hanya pembayaran yang tidak sesuai dengan nilai transaksi, saat ini sering ditemui pedagang-pedagang yang tidak mengembalikan uang kembalian konsumen sesuai dengan nilainya. Alasan utama yang sering dipakai adalah tidak adanya pecahan uang kecil. Pedagang seringkali mengganti uang kembalian konsumen dengan permen, coklat, atau bahkan tidak mengembalikannya sama sekali. Nilai uang kembalian yang tidak kembali ini biasanya bervariasi mulai dari Rp 100,- sampai dengan Rp 2.000,-. Ada juga pihak pedagang yang menyalurkan uang kembalian yang tidak kembali ini untuk disumbangkan. Namun, banyak yang alokasinya relative sulit dipantau sehingga konsumen tidak benar-benar tahu kemana uang kembaliannya bermuara.

Lewat Undang-Undang Perlindungan Konsumen No. 8 tahun 1999, pemerintah sebenarnya telah mengatur mengenai uang kembalian ini, dan menetapkan sanksi sampai dengan Rp 5 milyar. Pemerintah melalui Bank Indonesia bahkan sudah memberikan fasilitas kepada para pedagang retail untuk bisa menukarkan pecahan uang kecil di Bank Indonesia. Namun, uang kembalian yang tidak sesuai tetap saja sering ditemui.

Penyebab adalah karena masyarakat masih jarang melaporkan kejadian ini kepada pihak yang berwajib. Barangkali ini terkait dengan tradisi gengsi dimana masyarakat enggan dianggap membesar-besarkan masalah “kecil” yang sebenarnya besar jika dilihat dari kuantitas unfair transaction yang terjadi setiap hari.

Saat sebagian fungsi uang mulai digantikan oleh Kartu Kredit maupun Kartu Debet, terjadinya unfair transaction ini bisa diatasi oleh para pengguna Kartu Kredit dan Kartu Debet karena transaksi digital yang memungkinkan transaksi dengan nilai pecahan mata uang hingga sekecil-kecilnya. Sayangnya, penggunaan kartu kredit dan kartu debet ini masih terasa eksklusif dan tidak bisa menyentuh semua kalangan masyarakat. Kartu debet hanya bisa digunakan oleh orang yang memiliki rekening Bank, dengan biaya administrasi setiap bulan, dan beban saldo minimum. Kartu debet dan kartu kredit juga tidak bisa dipindahtangankan karena setiap transaksinya membutuhkan tanda tangan dan nomor pin atau password. Ini menimbulkan constrain-constrain baru dalam upaya memasyarakatkan transaksi non tunai untuk mengatasi unfair transaction.

Uang Elektronik menjadi solusi dari masalah tersebut dengan memiliki kenyamanan ala Kartu Debet serta kebebasan uang tunai. Sejak pertama kali diluncurkan, saya telah yakin bahwa Uang Elektronik ini adalah solusi revolusioner yang akan menjadi masa depan transaksi non tunai.

Kartu Uang Elektronik sangat mudah diperoleh dimana saja dengan harga yang sangat murah. Kartu Uang Elektronik memiliki kebebasan dan fleksibilitas uang tunai, namun dengan kenyamanan Kartu Debet. Kartu Uang Elektronik dapat diisi ulang dengan mudah dan dapat dipindahtangankan karena transaksinya tidak memerlukan pin atau password. Pengguna Kartu Uang Elektronik juga tidak wajib memiliki rekening Bank, tidak perlu membayar biaya administrasi bulanan, dan tidak perlu meninggalkan saldo minimum di dalam kartu. Kehadiran Kartu Uang Elektronik ini benar-benar revolusioner dan menjadi solusi bagi banyak masalah.

Kemudahan semakin terasa lagi dengan kas elektronik. Bermodalkan nomor ponsel, kini masyarakat dapat menikmati kemudahan transaksi online seperti memiliki rekening bank dengan fasilitas internet banking atau mobile banking sendiri.

Goal dari program ini adalah semakin luas memasyarakatkan penggunaan uang elektronik maupun kas elektronik. Tidak hanya kepada pengguna (konsumen) namun juga kepada pedagang retail agar di masa depan, masyarakat dapat menggunakan uang elektronik sebebas menggunakan uang tunai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s