Minyak Tandusan, Alternatif Minyak Goreng Berkelanjutan

Standar

7651679180_d481a73587_z

Sebagai makhluk bumi yang sementara ini belum memiliki alternatif tempat tinggal lain, mau tidak mau, manusia harus menjaga kelestarian bumi agar dapat mendukung kehidupannya selama mungkin. Karena itulah, gaya hidup berkelanjutan sebenarnya wajib diterapkan setiap orang. Sayangnya, masih banyak orang yang belum merasa bertanggung jawab terhadap kelestarian bumi dan hanya mengandalkan pemerintah untuk mengatasi masalah lingkungan.

Ketika mengetahui bahwa bencana asap dan terdesaknya habitat harimau, gajah, serta orang utan, terkait dengan perkebunan sawit yang tidak ramah lingkungan (tidak berkelanjutan), yang pertama kali terlintas di pikiran saya adalah “Astaga! Mungkinkah ada dosa-dosa di setiap gigit gorengan yang saya makan? Terlibatkah saya selama ini dalam pengerusakan lingkungan?” Karena apa yang saya beli, adalah apa yang saya dukung. Jujur saja, saya sama sekali tidak tahu apakah minyak dalam gorengan saya adalah minyak goreng ramah lingkungan atau tidak, dan saya tidak punya ide bagaimana cara mengetahuinya. Maka, seketika itu, dengan berat hati, saya berniat untuk sebisa mungkin mengurangi konsumsi gorengan.

Namun, saat ditinjau lebih jauh lagi, ternyata menghentikan konsumsi minyak sawit tak berkelanjutan (Non Sustainable Palm Oil) tidak sesederhana berhenti makan gorengan. Minyak sawit ada dimana-mana, di berbagai produk yang saya gunakan, dan saya tidak tahu mana yang ramah lingkungan dan mana yang tidak. Margarin di jagung bakar, martabak manis, kue bolu, bahkan di donat kesukaan saya. Minyak di produk-produk perawatan dan kosmetik seperti sabun, lulur, masker rambut, lotion, pelembap wajah, sampai lipstick yang saya gunakan. “Oh, tidak. Bagaimana mungkin saya bisa hidup tanpa minyak sawit?”

Beruntung, kemudian saya memperoleh informasi mengenai label CSPO atau Certified Sustainable Palm Oil yang sangat membantu saya menemukan produk-produk yang sudah pasti menggunakan minyak sawit berkelanjutan. Saya cukup memilih dan menggunakan produk-produk yang berlabel CSPO. Namun, apakah upaya saya untuk menjadi konsumen yang bijak selesai? Ternyata belum. Ada beberapa kekurangan dalam langkah ini, yaitu :
1. Belum semua produk ramah lingkungan memiliki label CSPO, misalnya sabun cengkeh, lulur, dan beberapa produk lokal, terutama produk UKM.
2. Tidak semua jenis produk memiliki pilihan brand/merk yang berlabel CSPO
3. Sebagai konsumen di daerah, tidak seperti konsumen di kota besar yang memiliki banyak pilihan, saya memiliki pilihan yang lebih terbatas, dan tidak semua produk berlabel CSPO terdistribusi ke daerah saya.

Untuk menjadi konsumen yang bijak, tentunya saya tidak menyerah dengan keterbatasan ini. Ada solusi yang mungkin lebih “akar” untuk masalah ini, yaitu penerapan gaya hidup Green Living. Penerapan Green Living, bila disederhanakan, tidak hanya sebatas Beli Yang Baik, namun juga meliputi Beli Yang Dekat, Beli Yang Lokal, Beli Yang Mentah.

Beli yang Dekat adalah sebisa mungkin membeli produk yang lokasinya dekat dengan rumah kita. Ini dimaksudkan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar (energi), sekaligus mengurangi emisi karbon dalam proses transportasi.

Beli yang Lokal adalah sebisa mungkin membeli produk-produk yang dihasilkan oleh produsen lokal, atau produsen yang berada di sekitar kita, bukan yang berasal dari luar daerah ataupun luar negeri. Selain memperpendek jalur distribusi yang berarti mengurangi penggunaan energi dan mengurangi emisi karbon, Beli yang Lokal juga bermanfaat mendukung pertumbuhan ekonomi dan mengurangi ketergantungan suplai dari daerah atau negara lain.

Beli yang Mentah tidak semata-mata diartikan dengan membeli hanya bahan mentah, tapi juga termasuk dalam membeli produk dengan proses pengolahan yang lebih sedikit (lebih sederhana). Misalnya memilih teh tubruk dibandingkan teh celup untuk memperoleh manfaat yang tidak jauh berbeda, tapi dengan proses produksi yang lebih sederhana. Memilih susu cair atau susu segar dibandingkan susu bubuk, apalagi jika susu diperoleh dari produsen susu segar lokal.

Kembali pada minyak, di daerah saya, di Singaraja Bali, masih terdapat kearifan lokal yaitu budaya membuat minyak goreng sendiri dari bahan kelapa (non sawit) yang metodenya sudah diwariskan secara turun temurun. Hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang memproduksi minyak kelapa secara mandiri. Nenek dan beberapa kerabat saya pun masih kerap membuatnya. Minyak kelapa homemade ini di daerah kami akrab disebut dengan Minyak Tandusan. Harga minyak tandusan di pasar hanya sedikit lebih mahal dari minyak goreng kemasan pada umumnya. Saya pikir, kemungkinan besar, di banyak daerah lain di Indonesia, minyak kelapa homemade pun dapat diupayakan produksinya secara mandiri.

Minyak Tandusan dapat menjadi alternatif minyak goreng berkelanjutan dengan beberapa kelebihan sebagai berikut :
1. Sustainable (berkelanjutan) walau tanpa label CSPO, karena umumnya diproduksi juga dari buah kelapa lokal.
2. Lebih dekat sehingga meminimalkan proses distribusi, yang juga berarti meminimalkan penggunaan bahan bakar dan mengurangi emisi gas CO2.
3. Mendukung produsen lokal terutama UKM untuk pertumbuhan ekonomi.
4. Mengurangi ketergantungan supply dari daerah atau negara lain.
5. Lebih ramah lingkungan karena pengemasan yang lebih sederhana.

Tidak hanya sebagai minyak goreng, minyak tandusan juga kerap digunakan sebagai minyak untuk merawat kesehatan dan keindahan rambut, merawat kelembapan bibir, dan menjaga kehalusan kulit. Ini juga merupakan solusi bagi kebutuhan beberapa produk perawatan yang sulit saya temukan berlabel CSPO seperti pelembap bibir, masker rambut, atau produk perawatan kulit.

Ya, Minyak Tandusan ini adalah produk minyak goreng alternatif yang sekaligus memberikan banyak solusi kebutuhan produk berminyak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s