Asal Para Penyihir

Standar

42201-wah-ada-kontes-penyihir-cantik-di-jepang-032501

Konon, awal keberadaan wanita di bumi bukanlah karena dilahirkan, melainkan diturunkan langsung dari surga dalam wujud malaikat. Mereka turun dengan sepasang sayapnya yang putih menyerupai sayap merpati, namun dengan rentangan lebih lebar, sekitar dua atau tiga meter.

Sebagaimana malaikat, wanita-wanita surga itu berparas cantik jelita. Kulit mereka putih, bersih, dan halus bagai porselen. Rambut mereka lebat, berwarna hitam legam, dan tergerai lembut layaknya helaian benang-benang sutera. Tubuh mereka langsing semampai dan menguarkan aroma harum bak bunga-bunga yang mekar di musim semi. Ketika berbicara, suara mereka terdengar merdu ibarat alunan harpa yang mengiringi lantunan kidung nirwana.

Tak hanya rupawan, wanita-wanita itu juga berhati mulia. Mereka cerdas dan bijaksana. Tutur kata dan tingkah lakunya santun dan bersahaja. Mereka pintar memasak, juga mengasuh anak-anak. Tak ada sedikitpun cela dari diri mereka.

Para malaikat itupun menguasai ilmu sihir putih. Mereka ahli merapal mantra untuk menciptakan keindahan di bumi, misalnya mantra untuk memekarkan kuncup-kuncup bunga, menyebarkan serbuk sari, menggantung embun di daun-daun, meranumkan buah cherry, meronakan lembayung di langit senja, dan melukis warna-warna pelangi selepas hujan.

Namun, betapa terkejutnya para wanita itu ketika sampai di bumi. Walau sama indahnya dengan surga, kehidupan bumi begitu berbeda. Di surga, semua makhluk bahagia dengan mudahnya. Seluruh kehidupan berlangsung damai begitu saja. Sebaliknya, di bumi, segala yang hidup tak pernah benar-benar berhak atas kedamaian. Semua makhluk menyimpan keresahan dan beban hidupnya masing-masing. Bahkan burung-burung yang bernyanyi riang di pagi hari meragukan kepulangannya di sore hari. Bahaya ada dimana-mana dan bisa datang kapan saja.

Para wanita mulai mengkhawatirkan keselamatannya. Mereka takut tak bisa bertahan hidup di bumi. Mereka heran mengapa mereka tidak dibekali pelatihan atau buku manual dari surga tentang cara hidup di bumi. Bagaimana mendapat makanan, membuat pakaian, membangun tempat tinggal, semuanya itu tidak mereka ketahui.

Para wanita baru paham alasannya setelah bertemu para makhluk bumi yang disebut pria. Para pria yang berasal dari desa ini sangat berbeda dengan wanita. Mereka bertubuh tinggi, kekar, dan berotot, dengan rahang keras berbentuk persegi. Rambut-rambut di sekujur tubuh mereka lebat, terutama di bawah hidung, telinga, sampai sekitar dagu. Aroma tubuh mereka segar seperti irisan mentimun, perasan jeruk nipis, atau bau rumput hijau yang baru dipangkas. Suara mereka bergema karena tonjolan sebesar biji salak di pangkal lehernya.

Pria adalah makhluk yang sangat sempurna untuk hidup di bumi. Mereka menguasai berbagai keterampilan mulai dari ilmu berburu, bercocok tanam, beternak, menjinakkan kuda, membangun rumah, merakit gerobak dan kapal, membuat senjata dan alat pertukangan, sampai menyamak kulit binatang untuk bahan pakaian. Selain itu, mereka juga ahli dalam bidang seni, sastra, pendidikan, organisasi kemasyarakatan, ilmu kesehatan, dan pengobatan. Bahkan, mereka juga memahami metode pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

Para wanita jatuh cinta pada kekuatan dan keterampilan para pria. Sebaliknya, para pria jatuh cinta pada kecantikan dan kelembutan para wanita. Sepasang demi sepasang dari mereka kemudian memutuskan untuk menikah dan hidup bersama. Dari pria, wanita mendapatkan perlindungan dan keamanan. Dari wanita, pria memperoleh kelembutan dan kasih sayang.

Ketika wanita jatuh cinta, ia akan kehilangan kecerdasan dan kebijaksanaannya, tapi tidak kebaikan dan ketulusan hatinya. Meskipun demikian, pria yang baik akan tetap membimbing, melindungi dan mencintai wanitanya hingga ia memperoleh kemuliaan hidup. Wanita yang jatuh cinta juga akan dengan sukarela menyerahkan sayapnya kepada pria yang dicintainya. Dengan sepasang sayap dari wanita, pria akan menjadi semakin hebat dan sukses mengembangkan keterampilan hidupnya di bumi.

Malangnya, tidak semua pria bertanggung jawab dan memberi balasan yang layak terhadap kasih sayang wanita. Sebagian pria justru meninggalkan wanita berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun demi mengejar iblis. Sejak dulu, iblis memang dikenal suka menjerumuskan manusia. Mereka menggunakan sihir hitam untuk mengubah dirinya menjadi sangat mirip dengan wanita. Hanya sedikit pria yang tahu perbedaannya. Iblis berkulit kemerahan, rambutnya kaku, dan matanya jalang. Tidak seperti wanita yang beraroma bunga-bunga, iblis beraroma api atau lava gunung berapi. Untuk menyembunyikan suaranya yang tak semerdu wanita, iblis bicara dengan cara mendesah atau mengerang. Perilaku para iblis sangat liar. Namun, mungkin karena naluri pria yang suka berburu binatang liar, mereka justru mudah tergoda untuk mengejar iblis yang hanya berniat menjerumuskan mereka pada kehancuran.

Wanita-wanita yang disakiti dan ditinggalkan pria pelan-pelan menjadi kehilangan dirinya dan kehilangan kecantikan serta tubuhnya yang sempurna. Mereka sedih, kesepian, putus asa, dan tidak berdaya. Ketika mematut diri di cermin, keadaan mereka sangat memprihatinkan. Tubuh langsing mereka telah menjadi kurus dan bongkok. Wajah mereka yang cantik kini kendur dan berjerawat. Kulit mereka yang putih, bersih, dan halus berubah kusam, keriput, dan berbintik-bintik. Aroma bunga-bunga telah meninggalkan tubuh mereka, digantikan aroma debu atau getah pohon. Rambut yang lebat, lembut, dan legam pun rontok, berubah kusut dan berwarna abu-abu. Suara merdu mereka menjadi serak karena terlalu sering menangis semalaman.

Keputusasaan membuat para wanita mulai membenci bumi dan merindukan surga. Mereka pun perlahan-lahan menghindar dan menyingkir dari kehidupan manusia. Wanita-wanita yang patah hati itu pergi meninggalkan desa, lalu pindah mendiami gunung-gunung, bukit, air terjun, tebing, dan tempat-tempat tinggi terpencil yang mengingatkan mereka akan kehidupannya di surga. Mereka menyebut diri mereka penyihir dan dengan sengaja menyebarkan issue untuk menakut-nakuti manusia bahwa mereka makhluk yang jahat, kejam, dan suka makan daging anak-anak. Itulah satu-satunya cara agar mereka aman dari gangguan dan ancaman manusia.

Suatu hari, kerinduan para wanita akan surga tidak terbendung lagi. Mereka berniat kembali ke sana. Karena tak lagi memiliki sayap, dengan sisa sihirnya, mereka mengubah sapu menjadi alat terbang sederhana. Mereka membagi diri dalam kelompok-kelompok untuk saling melindungi dalam perjalanan yang akan jauh lebih sulit dibandingkan ketika turun ke bumi.

Betapa sedihnya para wanita karena ternyata sapu terbang tak cukup kuat untuk membawa mereka kembali ke surga. Penderitaan dan kesengsaraan telah membuat mereka lemah sampai kehilangan kekuatannya. Namun, mereka tidak menyerah. Di malam hari, ketika semua orang terlelap dan keadaan sudah sepi, mereka kerap terlihat terbang dengan sapu di antara awan. Mereka berusaha dan terus mencoba meski tak pernah benar-benar kembali ke surga.

—– o0o —–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s