Ayah Mempelai Wanita

Standar

father-of-the-bride-steve-martin

“Jadi, kau akan menikahinya?”

“Ini sudah kelima kalinya Ayah bertanya.”

“Berapa lama kau mengenalnya?”

“Enam tahun. Dan kami sudah berpacaran tiga tahun.”

“Belum cukup lama.”

“Ayah!” Aku melotot.

Mungkin dua atau tiga tahun lalu terakhir kali aku berkebun bersama ayah. Sejak bekerja, aku selalu sibuk dan jarang pulang ke rumah. Namun ini peristiwa sekali seumur hidup. Aku tak kan melewatkan apapun. Aku mengambil cuti seminggu penuh untuk mempersiapkan pernikahanku yang akan dilangsungkan di rumah. Aku akan membuat pesta kebun. Memanfaatkan bagian terbaik dari rumah kami, kebun Amaryllis milik mendiang ibu. Pada penghujung November seperti ini, Amaryllis bermekaran dan akan memberikan kesan indah tak terlupakan bagi para undangan.

Tak banyak yang perlu dilakukan untuk menatanya. Kebun ibu tampak nyaris sama seperti saat ia belum meninggalkan kami. Rumput-rumput sekitarnya pendek, daun-daunan kering disiangi, bunga-bunganya semarak, dan semua segar karena rutin diberi nutrisi. Ayah selalu merawatnya. Itu caranya menjaga dan menghidupkan cinta ibu. Sejak ibu meninggal, ayah membesarkanku seorang diri tanpa berniat menikah lagi.

……

“Pakai jaketmu, Arwen! Ini musim hujan.”

“Aku hanya pergi sebentar, Ayah. Lagipula aku kan sudah…”

Aku belum selesai mengungkapkan argumenku ketika tiba-tiba saja kekasihku Zale datang.

“Selamat sore, Ayah.” Zale menjabat hangat tangan ayah. Ayah hanya mengangguk sedikit membalas jabat tangan Zale. Dahinya mengernyit saat Zale menyebut kata ‘Ayah’.

“Sayang, kau tampak cantik sekali.” Zale mencium tanganku.

“Eh, udara di luar sedang dingin. Sebaiknya kau memakai jaketmu.” Zale melanjutkan.

“Baiklah.” Aku menurut.

“Jangan sampai kalian pulang terlalu malam!” Seru ayah galak.

“Tentu, Ayah. Saya pastikan Arwen tiba di rumah sebelum pukul sepuluh malam.”

Jawaban Zale meyakinkan dan penuh percaya diri tanpa terlihat sombong.

……

“Menurutmu, Zale, berapa lama waktu untuk merebus telur ayam kampung?”

“Saya rasa butuh sekitar lima menit sejak airnya mendidih.”

“Itu terlalu matang. Arwen suka yang direbus tepat tiga menit.”

Aku menyenggol lengan ayah yang sedang berusaha mempermalukan Zale di depan kerabat kami.

“Oh ya? Saya harus belajar dari Ayah soal hal-hal yang Arwen sukai.” Zale menjawab diplomatis.

“Jadi, selama ini kau belum pernah membuat telur rebus untuk Arwen? Kau tahu? Itu mengherankan.”

Aku menyenggol lengan ayah lagi. Mencegahnya membuat suasana jadi semakin canggung.

……

“Sayang, maafkan ayahku.”

“Soal apa?”

“Tadi. Waktu makan malam. Ayah kekanak-kanakan sekali.”

“Itu bukan masalah, Sayang.”

Aku memeluk Zale. Berterima kasih untuk pengertiannya.

“Aku heran pada sikap ayah belakangan ini. Dia terlihat tidak menyukaimu.”

Zale terkekeh. “Menurutmu kenapa?”

Aku menggelengkan kepala. Zale membelai rambutku sebelum melanjutkannya.

“Kau putri tunggalnya yang sejak kecil dibesarkannya sendiri. Kemudian aku, yang baru tiga tahun berkencan denganmu tiba-tiba saja ingin mengambilmu. Wajar ia khawatir. Mungkin juga cemburu.”

“Ayahku cemburu?”

“Dalam arti positif, Sayang. Ia sangat menyayangimu dan ingin memastikan putri kesayangannya tidak jatuh ke tangan pria yang salah.”

“Lalu bagaimana?”

“Ini tugasku. Aku akan meyakinkannya.”

Aku tersenyum dan memeluk Zale lebih erat.

“Seharusnya ayah tidak perlu khawatir. Aku sudah jatuh cinta pada pria terbaik di dunia.”

……

Croissant terlalu besar, Ayah. Mini pie lebih praktis.”

Aku dan ayah berdebat soal kue pesta untuk disusun menjadi piramida.

“Mungkin kita bisa letakkan croissant dan mini pie bersebelahan.” Zale menengahi.

“Tidak!” Aku dan ayah menjawab bersamaan.

“Tidak mungkin ada dua piramida kue di sebuah pernikahan. Itu berlebihan.” Lanjutku.

“Bagaimana jika kita membuat satu piramida kue dengan kombinasi croissant dan mini pie?” Zale mengungkapkan pendapat yang masuk akal.

“Hmm…” Ayah bergumam. “Tadi ayah juga sempat memikirkannya.”

……

“Uhuk… huk… huk…”

Aku terbatuk saat sedang menghabiskan sebuah mini pie. Lidahku tiba-tiba terasa pahit, dan tenggorokanku seakan terbakar. Kepalaku serasa berputar, perutku bergejolak, dan aku ingin muntah.

“Sayang? Kau kenapa?”

Kakiku lemas. Namun sebelum aku jatuh, Zale sudah dengan sigap menangkapku.

“Apa ada kacang di dalam kue ini? Jawab!”

Ayah membentak seorang pramuniaga. Gadis itu mengangguk-angguk kebingungan.

Pandanganku kabur, mataku berat. Udara rasanya jadi semakin sulit kuhirup. Dalam kesadaran yang minim itu, aku hanya ingat Zale menggendongku, lalu berlari. Setelah itu, semuanya gelap.

……

Silau.

Aku mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha mengingat apa yang terjadi.

“Arwen.” Ayah dan Zale berseru sambil bangkit bersamaan dari kursinya masing-masing.

“Aku di rumah sakit?”

“Alergi kacangmu kambuh, Sayang.” Ayah menjelaskan. Zale mengangguk membenarkan.

“Syukurlah kau sudah baik-baik saja, Sayang.” Zale mengecup keningku.

“Ayah, saya akan membeli kopi di kantin sebentar.” Ayah mengangguk. Zale meninggalkan kami berdua. Mereka tampak jauh lebih akrab,

“Jadi, kita batalkan saja pesanan mini pie itu, Ayah.”

“Tidak perlu, Sayang. Ayah sudah pesan. Tapi kali ini tanpa selai kacang.”

Aku tersenyum, ayah mengecup keningku.

“Ngomong-ngomong. Ayah minta maaf.”

“Soal apa, Ayah?”

“Soal seminggu ini. Sepertinya, Ayah bersikap berlebihan kepada Zale.”

“Memang… Ayah keras kepala…”

Ayah menjitak lembut kepalaku.

“Sayang, Ayah hanya ingin memastikan kau bersama pria yang akan melindungimu seperti Ayah.”

“Apa Zale tidak terlihat seperti itu?”

“Awalnya Ayah tidak yakin, tapi dua hari ini dia membuktikannya.”

“Aku ingin dengar.”

“Saat kau pingsan, dia menggendong dan membawamu ke klinik. Dua hari saat kau tidak sadarkan diri, dia menungguimu terus sambil memegangi tanganmu tanpa tidur sedikitpun.”

“Dia akan selalu melindungiku. Percayalah, Ayah!”

Pintu kamar terbuka, Zale tiba dengan dua cup kopi. Ayah beranjak dari kursinya, menghampiri Zale dan mengambil satu cup kopi bagiannya.

“Rasanya Ayah perlu jalan-jalan sebentar di taman. Anak muda, jaga Arwen baik-baik, ya?”

Ayah menepuk bahu Zale.

“Seperti biasanya, Ayah.”

Mereka berdua saling bertatapan dan tersenyum. Aku belum pernah sebahagia ini. Dua pria yang paling mencintaiku di dunia sudah begitu akrab dan saling percaya satu sama lain.

—– o0o —–

terinspirasi dari film “Father of tfather-of-the-bride-steve-martinhe Bride”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s