Dering

Standar

11424212_done

beep… beep… beep…

Bunyi-bunyi itu terus menggangguku sejak seminggu lalu. Tak ada seorang pun yang mendengarnya selain aku. Konon, bunyi yang terus terdengar merupakan sebuah pertanda. Tapi pertanda apa?

“Minum obat teratur dan istirahat cukup. Saya sarankan juga anda jangan terlalu banyak pikiran.”

“Baik. Terima kasih, Dokter.”

Sudah kuduga tak seorangpun akan percaya kepadaku. Mereka pasti mengganggapku gila. Bagaimanapun, aku juga tak bisa membuktikannya. Jangankan membuktikannya, sekarang aku bahkan tak mempercayai diriku sendiri. Tapi dokter sudah memberiku obat. Cukup kuminum obat-obat itu dan kuikuti semua sarannya, maka bunyi-bunyi itu takkan menggangguku lagi dan aku akan kembali baik-baik saja.

***

beep… beep… beep…

Bunyi itu tidak ada.

Kupejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam, mengingat-ingat apakah obat untuk malam ini sudah kuminum. Kuperiksa kembali tube obat terjadwalku, ada tiga tablet dalam ruas berlabel untuk malam ini. Ada kelegaan di dadaku, seakan perkara hidupku hanya tentang lupa minum obat. Kutelan tiga tablet itu sekaligus dengan penuh keyakinan bahwa setelahnya, aku takkan mendengar bunyi-bunyi itu lagi.

Sebelum pergi tidur, sesuai saran dokter, kuperiksa ulang seluruh sudut apartemenku. Kupastikan microwave, pemanggang roti, pengering rambut, televisi, radio, dan seluruh peralatan listrik telah mati dan tak terhubung lagi dengan sumber listrik. Kumatikan juga mesin penjawab telepon dan kugantungkan tulisan “Do not disturb!” di handle pintu depan, mencegah siapapun memencet bel di malam hari, baik karena iseng maupun karena urusan tak terlalu mendesak yang masih bisa ditunda sampai besok pagi.

Setelah menggosok gigi, mencuci kaki dan tangan, serta membersihkan wajahku, aku masuk ke kamar, mematikan ponselku kemudian menyimpannya di laci meja. Kuteguk habis segelas air sebelum merebahkan diri ke ranjang. Bibirku berkomat-kamit merapalkan doa-doa sebelum tidur. Kuhela beberapa napas panjang untuk menenangkan diri sebelum memejamkan mata. Ya, kulakukan semua itu demi bisa tidur nyenyak tanpa gangguan bunyi-bunyi aneh itu lagi.

***

beep… beep… beep…

Aku yakin itu bunyi kunci mobil tetangga.

Aku terbangun. Kududukkan diriku di tepi ranjang. Cahaya itu menembus tirai jendela kamarku yang terbuka. Ya, aku bahkan lebih memilih tidur dengan jendela terbuka ketimbang menggunakan pendingin ruangan di cuaca sepanas ini demi menghindari bunyi-bunyi keparat itu.

Kuhampiri jendela dan kulihat Range Rover hitam milik gadis tetangga baru saja menghilang di balik tikungan. Aku sebenarnya bukan orang yang senang memperhatikan kendaraan-kendaraan penghuni kompleks apartemen, tapi entah kenapa, dalam seminggu terakhir ini, mobil itu terus saja menyita perhatianku.

Selain aku, bunyi kunci mobil tetangga tadi nampaknya tak membangunkan siapapun. Semua jendela masih tertutup rapat tanpa disikap tirainya sedikitpun dan semua lampu masih terlihat masih padam.

Aku kembali ke ranjang. Kuhidupkan ponselku untuk mencari tahu jam berapa sekarang. Baru pukul 01.24 dini hari. Aku tak punya penunjuk waktu lagi selain ponselku. Untuk menghindari bunyi-bunyi itu, aku bahkan membuang semua jam dinding, jam meja, dan jam alarmku.

Ada empat pesan masuk ketika ponselku dihidupkan. Aku mengusap-usap kelopak mataku dan menguap. Aku mengantuk, tapi tentu saja takkan bisa tertidur seketika setelah bangun karena terkejut. Maka, kubuka pesan-pesan itu. Satu pesan dari atasanku, memberitahukan jadwal pertemuan besok pagi yang diundur satu jam, tanpa menunda, kuraih agendaku untuk mencatatnya. Tiga pesan lainnya berasal dari tunanganku, Hall.

“Sayang, aku sudah menunggu di depan bioskop.”

“Sayang, ponselmu tidak aktif. Apa perlu kujemput?”

“Sayang, tadi aku ke tempatmu tapi sepertinya kau sudah tidur. Hubungi aku besok pagi, ya?”

Aku menepuk jidatku. Astaga! Aku melupakan kencanku dengan Hall.

***

beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep…

Bunyi apa itu? Laptop? Proyektor? Pointer? Ponsel? Apa?

“Arwen? Arwen, ada apa? Kau kenapa?”

Kutemukan diriku tengah duduk di ruang rapat, memijit-mijit kepala dengan kedua tanganku sambil merintih kesakitan. Atasanku memanggil namaku sambil mengguncang-guncangkan bahuku. Sementara itu, belasan pasang mata lain semuanya tertuju ke arahku.

“Kau pucat sekali, Arwen. Minumlah!” Atasanku menyodorkan segelas air. Aku minum sedikit.

“Ma… Ma… afkan saya, Pak.” Aku kesulitan mengendalikan kata-kata yang meluncur dari mulutku.

“Arwen, temuilah dokter di klinik kantor! Setelah itu pulang dan istirahatlah! Hubungi aku setelah kau baikan! Sekarang, berikan catatannya kepadaku dan biarkan kami melanjutkan rapat!”

“B… Baik, Pak. Permisi.”

Aku bergegas keluar dari ruangan itu dengan perasaan sangat malu sekaligus bingung karena tak berhasil mengingat apapun yang terjadi sebelum kejadian tadi.

***

beep… beep… beep…

Itu bunyi printer nomor antrian.

Beberapa menit setelah aku duduk di bangku ruang tunggu klinik kantor, kulihat Dashya keluar dari ruang periksa. Wajahnya pucat, mungkin sepucat wajahku. Tapi dia lebih terlihat seperti sedang khawatir atau kebingungan daripada sakit.

Di kantor ini aku hanya punya sedikit teman dekat, dan Dashya adalah salah satu dari yang sedikit itu. Kami sama-sama sudah mulai bekerja sejak kantor cabang ini dibuka lima tahun lalu. Kami sangat akrab. Dashya mengenal seluruh keluargaku, bahkan dia juga mengenal baik Hall. Tadinya kami bekerja di satu divisi, namun sekitar dua bulan lalu, ia dipindahkan ke divisi lain. Sejak itu, karena kesibukan, aku belum bertemu lagi dengannya. Aku bahkan belum meneleponnya. Aku merindukannya, dan aku mulai sadar bahwa ternyata aku sedang kesepian.

“Hai Dashya. Apa kabar?” Aku menghampiri dan menyapanya.

“Oh. Hai, Arwen.” Dashya sedikit terkejut. Aku memeluk dan mengusap punggungnya.

“Apa itu?” Aku menanyakan selembar kertas yang dibawanya.

“Ini hasil tes.”

“Tes?”

“Emm…. Tes darah.”

“Tes darah? Kau sakit apa?”

“Emm… Maksudku, ini rujukan untuk tes darah di laboratorium.” Dashya tiba-tiba menjadi gugup.

Aku mengangguk-angguk sambil tersenyum, tak ingin mempersulitnya lagi dengan pertanyaan-pertanyaan. Barangkali keadaannya sedang tidak baik, karena itu dia gugup.

“Eh, sebentar lagi giliranku. Pulanglah dan segera istirahat, Dashya. Nanti kutelepon, ya?”

Dashya tersenyum dan mengangguk canggung, kemudian dia berpamitan. “Aku pergi dulu.”

***

beep… beep… beep…

Itu bunyi ponselku.

Sebuah pesan dari Hall.

“Aku akan tiba sekitar sepuluh menit lagi, jalanan macet sekali.”

Aku sudah tiba limabelas menit lebih awal dari waktu janjianku dengan Hall. Semalam aku sudah mengecewakannya, dan sore ini ketika ia mengajakku ke kafe, aku berusaha untuk tidak mengacau.

“Hai.” Hall mengecup pipiku lalu menarik bangku untuk duduk di sebelahku.

Aku tersenyum dan mengelus pipinya. “Sayang, aku minta maaf soal…”

“Itu bukan masalah. Sungguh. Ehm, sebenarnya aku tak punya banyak waktu. Ada hal penting yang harus aku bicarakan.” Hall memotong kalimatku sebelum aku sempat memberi penjelasan.

“Hmm… Baiklah. Aku mendengarkan.”

“Emm… Arwen, aku menyesal mengatakan ini, tapi… aku harus membatalkan pertunangan kita.”

Aku mengerutkan dahiku, belum bisa mencerna apa yang baru saja kudengar dari Hall. Sebelum aku menimpali, Hall sudah melanjutkan kata-katanya lagi.

“Aku minta maaf. Ini di luar kuasaku. Dua bulan lalu aku bercinta dengan seorang gadis yang kutemui di pesta. Emm… Aku mabuk dan… Kejadiannya begitu cepat. Kupikir semua akan kembali normal setelahnya, tapi siang ini dia menghubungiku, mengatakan bahwa dia sedang mengandung anakku.”

Penjelasan Hall sangat cepat dan sulit kupahami. Aku kebingungan. Satu-satunya yang kutangkap adalah bahwa ini kabar buruk, jauh lebih buruk dari bunyi-bunyi yang mengganggu di kepalaku. Kuakui bahwa hubungan kami agak merenggang dalam dua bulan terakhir ini. Kami jarang bertemu, jarang berkomunikasi, dan jarang bermesraan. Itu semua karena kesibukannya dan kesibukanku. Kencan di bioskop kemarin adalah salah satu usaha kami untuk mulai memperbaikinya kembali, dan aku malah mengacaukannya. Aku tahu bahwa hubunganku dengan Hall sedang dalam masalah. Tapi benarkah sampai seburuk ini?

“Tapi kenapa pertunangan kita harus dibatalkan?”

“Karena, Arwen, aku harus menikahinya, segera.”

“Bagaimana kau yakin itu anakmu? Bagaimana kalau ia menipumu? Kau tak ingin terlebih dulu melakukan tes DNA atau semacamnya?”

Hall menarik napas panjang sesaat sebelum menjawab. “Arwen, aku tahu ini sangat mengejutkan sekaligus menyakitkan bagimu. Aku… Aku telah jatuh cinta kepadanya. Setelah malam itu, kami jadi sering bertemu dan… hubungan itu terjadi begitu saja.”

Aku tertegun tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dan aku tak ingat berapa lama itu terjadi sampai Hall menepuk pundakku untuk berpamitan.

“Aku harus pergi sekarang. Aku minta maaf. Aku menyesal hubungan kita harus berakhir seperti ini.”

Aku hanya mampu mengangguk lemas, kemudian menarik sebentuk cincin dari jari manisku.

“Ini…” Kusodorkan benda itu kepada Hall.

“Tidak. Itu milikmu. Kau simpan saja. Jual. Buang. Atau berikan kepada siapapun.”

Sekali lagi Hall menepuk pundakku, tersenyum, kemudian beranjak pergi.

Hall bahkan tak menanyakan keadaanku, tak menanyakan bagaimana hasil pemeriksaan dokter. Tak ada pelukan atau ciuman perpisahan. Dia sudah tidak mencintaiku lagi. Memulai hubungan memang butuh kesepakatan dua orang, tapi tidak untuk mengakhirinya, keputusan satu orang saja sudah cukup.

***

beep… beep… beep…

Itu bunyi mesin absensi sidik jari.

Hari ini aku kembali ke kantor setelah tiga hari penuh mendampingi atasanku survei di luar kota. Aku lelah. Aku patah hati. Aku tidak sedang baik-baik saja.

Pada saat-saat sial seperti ini, aku membutuhkan teman, aku membutuhkan Dashya. Tapi dia tidak menjawab teleponku setelah beberapa kali kuhubungi. Dia juga tak membalas pesanku. Barangkali dia sangat sibuk, atau sakitnya serius sehingga butuh istirahat total. Teman macam apa aku ini? Aku bahkan belum menjenguknya. Aku tak tahu bagaimana keadaannya.

Ada yang aneh dengan semua orang di kantor hari ini. Ketika berjalan di koridor, hampir semua mata menatapku seakan-akan merasa kasihan kepadaku. Kenapa? Apa kabar soal bunyi-bunyi aneh yang kudengar itu telah menyebar? Apakah kabar semacam itu begitu menyedihkan sampai mereka perlu mengasihaniku? Seorang rekan menepuk-nepuk bahuku ketika kami berpapasan. Aku tersenyum, menunjukkan rasa terima kasih atas simpatinya, walaupun aku merasa itu sangat konyol.

Aku baru mengerti apa yang terjadi setelah tiba di meja kerjaku. Sebuah amplop berisi undangan tergeletak disana. Undangan pernikahan Dashya…. dan… Hall?

***

beep… beep… beep…

Itu bunyi mesin kopi.

Seorang pramutama menyodorkan dua cup kopi dari truk kedai kopinya. Aku dan atasanku mengambil cup kopi kami masing-masing, kemudian berjalan beriringan menuju bangku di taman sebuah kompleks pertokoan, tak jauh dari gedung tempat kami baru saja menemui seorang klien.

Hidup itu kejam. Hidup bukanlah sahabatmu. Karenanya, ia tak perlu berbaik hati kepadamu.

Apa? Kau butuh istirahat? Kau butuh menenangkan diri setelah patah hati? Tidak! Lakukan saja pekerjaanmu! Atau kau akan dipecat!

Setelah semua hal buruk yang menimpaku. Setelah aku dikhianati teman baik dan tunanganku sendiri, aku belum juga menemukan waktu untuk menenangkan diri. Menghilang ke sebuah pulau terpencil, menangis semalaman, atau sekadar menggila di bar, membiarkan diriku mabuk sampai taksi mengantarku pulang. Bahkan di akhir pekan seperti ini, aku masih harus lembur.

“Arwen, aku berterima kasih atas professionalismemu hari ini. Setelah kejadian yang menimpamu, aku salut kau bisa berlapang dada dan tetap bekerja dengan baik.”

Aku tersenyum sendu. “Sudah menjadi tugas saya, Pak.”

“Aku minta maaf kalau pekerjaan di kantor sering membuatmu tertekan. Oh ya, bagaimana hasil konsultasimu dengan dokter tempo hari? Bagaimana keadaanmu sekarang?”

“Saya sudah mengikuti semua saran dokter, Pak. Dan sekarang saya sudah merasa lebih baik.”

Aku berbohong. Keadaanku justru semakin buruk. Bunyi-bunyi itu terdengar makin keras dan makin sering, bahkan nyaris tanpa henti. Semakin hari rasanya semakin memenuhi kepalaku.

“Arwen? Kau baik-baik saja?” Atasanku menepuk bahuku. Aku tersentak.

“Maaf, Pak.” Kurasakan keringat dingin membasahi pelipisku.

“Tidak apa-apa. Kau sepertinya tegang sekali, Arwen. Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?”

“Emm… Maaf, Pak. Tapi saya lelah sekali. Kalau sudah tak ada yang harus saya kerjakan, bolehkah saya pulang untuk istirahat?”

“Oh… Maafkan aku. Baiklah. Biar aku yang mengantarmu pulang, ya?”

Aku mengangguk. “Terima kasih, Pak.”

“Kau pergilah ke mobil duluan! Ini kuncinya. Aku perlu ke toilet sebentar. Sini, biar aku yang membuangkan cup kopimu!”

***

beep… beep… beep…

Itu bunyi kunci mobil atasanku.

Aku membuka kunci mobil itu dari seberang jalan. Sebenarnya tak butuh waktu lama untuk sampai ke tempat mobil atasanku itu diparkirkan, tapi aku sengaja berjalan lambat agar tak perlu berlama-lama menunggu atasanku. Aku yakin sebentar lagi ia pun akan sudah menyusulku tiba disini.

Aku tinggal menyebrangi jalan saja. Aku lelah. Tubuhku lemas dan aku hampir tak bisa merasakan kedua kakiku. Sementara bunyi-bunyi itu terdengar semakin keras sampai rasanya sulit bagiku mendengar bunyi lain yang lebih nyata. Bunyi-bunyi itu seolah-olah sedang berusaha mengasingkanku dari dunia.

Aku sudah dekat… Tinggal beberapa langkah lagi… Beberapa langkah…

beep… beep… beep…

“Arwen!!! Awas!!!”

Aku mendengar teriakan atasanku, berbarengan dengan bunyi klakson. Kotolehkan wajahku dan seketika itu, tubuhku terhempas oleh sebuah Range Rover hitam yang sedang melaju cepat. Range Rover hitam itu… Tubuhku terpental ke belakang. Sesaat itu rasanya seperti terbang. Sampai kemudian bagian belakang kepalaku membentur sesuatu yang keras. Aku tak bisa bergerak. Orang-orang berteriak dan mengerumuniku. Lalu semuanya gelap.

***

beep… beep… beep…

Gaduh. Bunyi itu benar-benar gaduh. Memenuhi seluruh ruangan. Memekakkan telingaku.

“Arwen… Arwen… Tetaplah bersama kami.”

Rambutku basah. Cairan hangat itu masih keluar dari kepalaku. Apa itu darah?

beep… beep… beep…

“Tekanan darah 70/50… Terus turun… CPR!”

Mereka menekan-nekan dadaku, menutup wajahku dengan masker oksigen. Tapi aku tak bisa merasakan apapun. Aku tak bisa menghirup apapun yang dihembuskan masker itu.

beep… beep… beep…

“Defibrilasi sekarang!”

Mereka memasang selang intubasi di tenggorokanku, bermaksud memompakan udara langsung ke dalam paru-paruku. Dadaku terbakar. Tubuhku terbanting berkali-kali oleh defibrillator itu.

beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep… beep…

Sampai pada titik tertentu, bunyi itu rupanya kehilangan kemampuannya untuk menjadi semakin keras, kemudian perlahan berbalik menjadi semakin pelan, semakin samar sampai tak terdengar lagi. Menyisakan sebuah dengungan panjang tanpa henti.

Sudah berakhir. Sudah tidak ada. Bunyi itu tak akan pernah menggangguku lagi.

Beberapa saat berikutnya semua orang seakan-akan berhenti bergerak. Mereka berpandangan satu sama lain dalam diam sampai seorang dokter memberi perintah.

“Tolong catat waktunya!”

Satu per satu dokter melepas masker dan sarung tangan mereka, kemudian meninggalkan ruangan. Sementara itu seorang perawat mematikan monitor yang sedari tadi tak berhenti mendengung itu. Dua perawat lain menghampiriku, mencabut selang infus dan selang tranfusi darah dari lenganku, serta beberapa kabel dari dadaku. Mereka melepas selang intubasi dari tenggorokanku lalu mengatupkan rahang dan kelopak mataku. Kurasakan kedua tanganku disedekapkan ke dada sebelum akhirnya mereka menutup tubuhku dengan sehelai kain.

Apa?

Aku sudah mati?

—– o0o —–

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s