LAMARAN

Standar

o-public-marriage-proposal-facebook

“Kamu sudah tidur, Sayang?”

“Belum. Aku masih nonton bola. Kamu mau tidur, Sayang?”

“Iya. Aku mengantuk.”

“Tidurlah, Sayang. Semoga mimpi indah. Aku sayang kamu.”

Kututup sebuah jendela aplikasi obrolan di ponselku, kemudian kujatuhkan diriku ke ranjang. Sudah pukul sebelas malam, tapi aku belum mengantuk. Ya, aku berbohong kepada kekasihku, Zale. Sebenarnya aku sedang merindukannya, aku ingin menghabiskan waktu dengannya. Chatting, bicara di telepon, atau apa saja. Bahkan melakukan hal yang lebih gila, misalnya menghambur ke apartemennya kemudian menghabiskan waktu semalaman bersamanya. Pokoknya, aku benar-benar sangat merindukannya.

Ponselku berkedip. Aku cepat-cepat meraihnya. Siapa tahu itu Zale. Siapa tahu dia bisa membaca pikiranku.

“Hei, aku baru pulang. Kau sudah tidur?” Ternyata itu pesan dari Hall.

“Belum.” Kubalas singkat pesannya.

“Hmm… Mau kujemput?”

Aku berpikir sejenak. Aku sedang bosan. Barangkali aku bisa jalan-jalan sebentar, menikmati malam. Besok hari libur, tidak masalah bila aku bangun agak terlambat keesokan paginya.

… … …

“Kau sudah membicarakannya?”

“Belum.”

“Cepatlah! Nanti kau keburu direbut orang.”

“Kau yang mau merebutku, ya?”

“Bisa jadi. Kalau kau mau kurebut. Kau mau?”

Aku tertawa. Hall mendekatkan wajahnya sampai aku bisa menghirup sisa bau tembakau menghempas-hempas wajahku dari napasnya. Aku mendorongnya, tapi dia dengan sigap merengkuh tubuhku, kemudian mulai menciumi leherku. Aku tidak menolak.

… … …

“Sayang, kapan kita menikah?” Tanyaku.

Zale tersenyum, kemudian mengusap lembut rambutku dan mengecup keningku.

“Nanti akan ada waktunya, Sayang.”

Aku memeluk Zale. Menekankan hidungku ke dadanya. Aku selalu suka aroma tubuhnya. Setelah dia berolahraga, misalnya seperti saat aku menemaninya main futsal tadi sore, tubuhnya akan penuh dengan keringat, dan aromanya begitu maskulin. Aku seakan-akan sedang menghirup setangki penuh adrenalin. Kemudian setelah ia mandi, seperti saat ini, aroma tubuhnya akan berganti aroma pepohonan di hutan pinus ditambah sedikit aroma menthol, begitu segar dan menggairahkan.

… … …

“Apa ini? Salad? Hahaha… Kau pikir aku herbivora?”

“Ada steak juga. Coba periksa bagian bawahnya.”

“Oh iya.”

“Makan yang banyak! Kau kurus sekali.”

“Kurus bukan berarti tidak suka makan. Aku makan banyak setiap hari.”

“Oh ya? Mungkin itu karena kau merokok.”

“Barangkali. Eh, tumben kau tidak ditemani pacarmu?”

“Zale sedang mengantar keponakannya berenang.”

“Manis sekali.”

Aku tersenyum dan sedikit mengangkat alisku, sambil membuka pesan yang baru saja masuk ke ponselku. Dari Zale.

“Sayang, sudah selesai? Bagaimana latihan hoopdancing-mu tadi? Kau bersenang-senang?”

“Tentu, Sayang. Latihannya menyenangkan. Aku ada pertunjukan dua minggu lagi.”

“Oh ya? Selamat, Sayang. Aku dan Caroline baru selesai berenang. Sekarang kami akan ke toko buku untuk mencari peralatan gambar. Nanti aku akan menghubungimu lagi. I love you.”

Zale mengirimkan sebuah foto wefie dirinya bersama keponakannya, Caroline.

“Sini! Kemarikan kakimu!” Hall berlutut di depanku lalu membuka sepatuku.

“Argh! Hati-hati!”

“Kenapa kau tak bilang kepadanya kalau kakimu cidera?” Hall mengoleskan balsam dan memijat lembut kakiku yang lebam kebiruan karena terkilir.

Aku mengangkat bahu. “Nanti dia khawatir.”

“Dasar wanita masokis!”

… … …

“Apa kita akan melakukannya?”

“Tentu, Sayang. Setelah kita menikah.”

“Apa aku tidak cantik?”

“Kau tahu betul bahwa kau cantik, dan pasti menyenangkan jika kita bercinta, tapi akan lebih menyenangkan kalau kita bersabar sebentar lagi. Hanya sampai kita menikah.”

Aku mengangguk, kemudian menyandarkan kepalaku di bahu Zale. Dia mendekap kepalaku lalu menciumi rambutku.

“Bagaimana kalau aku bernyanyi untukmu?”

Aku mengangguk beberapa kali dengan bersemangat. Zale mencium keningku. Itu caranya memintaku melepaskan pelukanku agar dia bisa meraih gitarnya dan bernyanyi untukku.

Dipetiknya senar gitar itu dengan khusuk, menyenandungkan lagu kesukaanku dengan suara serak-serak basahnya yang seksi. Walking After You dari Foo Fighter. Aku tersenyum, kusandarkan kepalaku di bantal kursi. Aku mencintai Zale. Aku mencintai aroma tubuhnya. Aku mencintai suaranya. Aku mencintai segala yang ada dalam dirinya.

Bagiku, Zale seperti jalan hidup yang serba benar dan lurus. Ia dewasa, bijaksana, dan matang secara emosional. Tubuhnya atletis karena rutin berolahraga dan selalu menjaga kesehatan. Zale jauh dari hal-hal semacam rokok atau minuman keras. Dia penyayang, suka berkebun, merawat bunga-bunga, atau bermain bersama keponakan-keponakannya. Zale juga sangat menjunjung tinggi norma-norma kesopanan, dia punya batasan yang tegas dalam hubungan kami dan tak akan melanggarnya sampai kami menikah.

Di luar itu semua, Zale nyaris terlalu sempurna. Aku tak pernah cukup percaya diri untuk meyakini bahwa aku akan memilikinya, bahwa kami akan bersama selamanya. Ada banyak wanita di luar sana yang juga menginginkannya, wanita yang lebih baik dariku, tentu saja. Apakah suatu hari Zale akan meninggalkanku demi wanita lain? Lalu, apa yang akan terjadi kepadaku? Apakah aku akan baik-baik saja? Apakah aku bisa melanjutkan hidupku setelahnya?

… … …

“Kau harus mulai berolahraga.” Aku memencet-mencet lengan Hall yang kurus.

“Bukankah kita baru saja berolahraga bersama?”

“Hmm…”

Hall menarik selimut sampai menutup dadaku, kemudian menaruh lengannya di belakang kepalaku.

“Kau hebat malam ini.” Pujiku.

“Aku memang selalu hebat.”

Aku mencubit hidung Hall sampai ia meringis kesakitan, tapi sejurus kemudian dia tertawa.

“Tidur, yuk!” Ajaknya.

“Bacakan dulu puisi untukku.”

“Hahaha… Kau manja sekali. Tapi, baiklah.”

Kemudian dengan setengah berbisik, Hall membacakan sebuah puisi tepat di telingaku. Dalam kantuk yang hebat pun, aku selalu bisa menikmati suaranya yang lembut dan menghanyutkan. Mengalun mengantarkan aku kepada mimpi yang paling lelap.

Berbeda dengan Zale, Hall adalah sepenuhnya ketersesatan. Tapi, entah kenapa dia adalah ketersesatan yang indah, yang selalu bisa kunikmati tanpa kusesali sedikitpun. Apakah aku mencintainya? Apakah aku ingin memilikinya? Apakah dia juga mencintaiku? Aku tak tahu. Aku bahkan tak pernah memikirkannya sampai hari ini. Bersamanya, aku hanya menikmati waktu. Tak ada aturan atau kekhawatiran apapun dalam hidupnya. Hall adalah simbol kebebasan. Kebebasan yang diam-diam mulai kuinginkan.

… … …

Sore ini adalah kesempatanku. Ketika Zale kebetulan mengajakku berkencan di sebuah kafe cupcake tempat kami sering bertemu. Secara aneh, suasana di kafe sore ini sepi pengunjung. Bahkan, tak ada pengunjung selain kami berdua. Padahal, baik jalanan di depan kafe maupun kedai-kedai di sekitarnya nampak sangat ramai.

“Ehm, Sayang. Aku ingin membicarakan sesuatu.” Aku memulai.

“Benarkah? Aku juga. Untuk itulah aku mengundangmu kesini, Sayang.”

Aku sudah memikirkannya berkali-kali. Aku perlu menyudahi kegelisahan yang perlahan menggerogoti kewarasanku dan mulai membuatku gila ini. Aku sudah memikirkannya berhari-hari. Aku perlu mengakhiri segala ketidakpastian yang membelengguku setiap waktu ini. Aku akan mengakhiri hubunganku dengan Zale. Hari ini juga.

“Uhuk… huk… huk…”

Aku tersedak sesuatu. Sesuatu yang secara tidak masuk akal bisa berada di dalam cupcake-ku.

“Apa ini?”

Kukeluarkan benda itu dari mulutku. Sebentuk lingkaran emas berhias berlian di tengahnya.

Kualihkan pandanganku kepada Zale. Alih-alih terkejut atau berusaha menolongku, Zale malah berlutut di depanku sambil meraih benda itu kemudian dia menyusupkannya ke jari manisku.

“Sayang, maukah kau menikah denganku?”

—– o0o —–

(Singaraja, 3 Desember 2015)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s