Pacar Baru Ben

Standar

orang-ke-tiga-300x225

Pagi yang indah. Seperti biasa, Ben masih mendengkur dan takkan mengubah posisi satu milimeterpun sampai alarm membangunkannya. Sementara aku terlebih dahulu harus bersusah payah melepaskan diri dari pelukannya sebelum bisa menyambut matahari terbit dari tepi jendela. Aku suka sekali matahari, dan tak pernah melewatkan kesempatan jadi yang pertama menyambut sinarnya yang hangat, melebur kebekuan malam. Aku senang berlama-lama melihat matahari terbit, andai waktu bisa kuperlambat pun rasanya aku tak akan puas menikmatinya. Pagi yang damai seperti ini selalu saja cepat berlalu, berganti kegaduhan. Tepatnya ketika alarm Ben berbunyi.

Sebelum benar-benar bangun, Ben akan terlebih dulu menekan tombol untuk menunda alarm sekitar lima sampai enam kali, kemudian berteriak setengah tak percaya melihat jam berapa sekarang. Lalu berlari tersandung-sandung ke kamar mandi seperti orang kesurupan. Kadang dia bahkan tak sempat mandi. Ah, aku sudah terlalu hapal kelakuannya. Bagaimana tidak, kami sudah tinggal bersama selama lebih dari tujuh tahun.

Kedamaianku baru akan kembali setelah Ben berangkat ke kantor. Hanya aku, susu sebanyak aku mau, dan serial kartun Spongebob Squarepant. Ben memang menyebalkan, tapi dia tak pernah lupa membelikan DVD Spongebob Squarepant baru untukku, atau membelikan susu skim dan biskuit yang lezat, atau membelikan mantel bulu, atau membelikan apapun yang aku suka. Ah, aku tahu Ben sangat menyayangiku, dan aku pun menyayanginya.

Ben adalah pria yang baik hati dan pemberani. Dia pergi seorang diri jauh dari keluarganya untuk kuliah. Aku tinggal bersamanya sejak dia duduk di semester ketiga bangku kuliahnya  sampai saat ini, ketika dia sudah memperoleh pekerjaan tetap di sebuah perusahaan sereal. Dulu, Ben rajin mengunjungi keluarganya setahun sekali. Dia pun sering mengajakku. Seluruh anggota keluarganya menyukaiku, terutama adik perempuannya, Caroline. Namun, kebakaran tragis yang terjadi tiga tahun lalu telah menewaskan seluruh keluarganya. Sekarang Ben hidup sebatang kara. Tak ada siapapun yang dimilikinya selain aku. Untuk pulang ke rumahnya pun, dia sudah terlalu enggan. Puing-puing rumah itu hanya menyisakan kepedihan baginya.

“Huft… Ada apa, Michele? Ada apa? Coba bilang padaku! Kenapa kau bengong sendirian seperti ini? Katakan!”

Ah, sial! Aku terkejut. Aku terlalu asyik melamun sampai-sampai tak memperhatikan Ben yang masuk dari pintu depan dan diam-diam menerjangku dari belakang. Kami bergulat di sofa. Dia memeluk dan menciumiku dengan gemas. Dan takkan melepasku sampai ia benar-benar puas.

Keesokan paginya, Ben nampak aneh. Ya, dia tidak melakukan hal-hal seperti biasanya. Karena itulah dia kusebut aneh. Ketika aku terbangun pagi ini, kudapati Ben tidak ada di ranjang, hanya selang beberapa menit kemudian, kudengar pintu rumah dibuka, Ben masuk dengan pakaian olahraga dan tubuhnya yang berkeringat.

“Selamat pagi, Michele sayang. Aku baru saja selesai jogging. Hehehe.”

Apa? Jogging? Apa dunia sudah hampir kiamat?

Aku menghiraukannya sambil memasang wajah masam. Begitupun ketika ia menghabiskan waktu hampir satu jam di depan cermin wastafel. Bercukur, memenceti jerawat, dan membersihkan komedo-komedo di hidungnya sambil menyanyi dan menari ala Elvis Presley.

Dasar tidak jelas!

Sebelum berangkat ke kantor–yang secara ajaib tidak dilakukannya dengan terburu-buru karena dia telah siap limabelas menit sebelum waktunya, kuperhatikan dia sempat bolak-balik hingga lima kali untuk memeriksa kembali penampilannya di cermin. Meluruskan dasinya yang telah sedemikian lurus, menyemprotkan kembali parfum di tubuhnya dengan begitu anarki seolah-olah tubuhnya seluas lapangan sepak bola, atau merapikan rambutnya yang diberinya wax sehingga badai sekalipun nampaknya tak kan mampu mengacak rambutnya.

Hal semacam itu terus berlangsung hingga berhari-hari kemudian. Bahkan, sekarang dia mengambil kelas kebugaran di sore hari selepas jam kerjanya di kantor. Dan kemarin, dia baru saja berbelanja beberapa baju dan sepatu baru. Konon, perilaku aneh semacam ini terjadi ketika seseorang sedang jatuh cinta. Apakah Ben sedang jatuh cinta? Apa dia berselingkuh di belakangku? Ah, itu tidak mungkin! Aku bergidik. Berusaha menepis pikiran konyolku itu.

Sudah satu bulan, dan segala tingkah aneh Ben berlanjut. Sepertinya aku harus kembali meninjau dan mempertimbangkan gagasan konyolku soal kemungkinan perselingkuhannya itu. Tak hanya soal penampilan, keanehan Ben kini termasuk soal berlama-lama di kamar mandi sambil membawa ponsel. Bahkan, ketika sedang menonton televisi bersamaku, dia masih saja sering bersibuk-sibuk dengan ponselnya. Kadang-kadang, dia diam-diam pergi ke balkon untuk menelpon. Aku tentu saja berpura-pura tidak tahu apa-apa soal keanehan-keanehannya ini. Berusaha untuk membuatnya tidak curiga sampai aku membongkar semuanya. Iya, aku pasti akan membongkarnya. Kau lihat saja nanti, Ben!

Di hari minggu pagi, Ben sudah bangun sejak pukul empat pagi dan membuat seluruh ruangan rumah dipenuhi suara berisik penyedot debu. Dia sibuk membersihkan dan menata ulang ruangan apartemen. Bahkan, Ben juga memasang beberapa lukisan dan pajangan baru. Entah kapan dia membelinya. Pada pagi harinya, beberapa orang petugas pengantar makanan tiba membawakan pesanan kue kering, tart, es krim, pizza, jus buah, dan beberapa menu lain yang rupanya sudah dipesan Ben. Apakah dia sedang berencana mengadakan pesta di rumah?

Aku baru saja selesai minum susu di dapur ketika aku berjalan masuk ke ruang tengah dan mendapati Ben sedang bicara di telepon. Kuhentikan langkahku dan kusembunyikan diriku di balik dinding lorong. Aku berusaha untuk menguping percakapannya. Aku berusaha keras mendengar suara lawan bicaranya, tapi rupanya volume suara telepon Ben sudah dikecilkan. Karena itu, yang bisa kudengar hanyalah suara Ben.

“Ya? Jadi kau sudah siap? Baiklah.”

“Ya, rumahku juga sudah siap menyambutmu.”

“Hahaha… Tidak apa-apa. Itu bukan masalah. Hanya beberapa makanan ringan.”

“Oke, baiklah. Aku akan kesana menjemputmu. Bersiaplah, ya?”

Ben mengangguk-angguk lalu menutup telepon, kemudian dia beranjak dari tempat duduknya. Dengan setengah melompat dan begitu bersemangat, Ben menyambar kunci mobil di atas meja. Kemudian berjalan ke arahku. Aku terburu-buru mundur beberapa langkah ke dapur, menampakkan diri seolah-olah sedari tadi aku di dapur dan sama sekali tak mendengar apapun yang dibicarakannya di telepon.

“Hai, Michele. Kau sudah kenyang? Hehehe…” Ben memelukku.

“Michele, aku akan pergi sebentar, ya? Aku akan kembali bersama seseorang yang ingin kuperkenalkan kepadamu. Ini akan jadi kejutan. Hehehe… Muach.” Dia menciumiku sebelum kemudian berlenggang menuju pintu depan.

Dan saat yang kukhawatirkan itu akhirnya tiba juga. Ben membawa gadis itu ke rumah kami. Aku mengintip dari jendela dapur ketika Ben tiba di depan pagar rumah kami, membukakan pintu mobil untuk gadis itu, dan menggandengnya dengan mesra menuju pintu depan. Aku pun segera bergegas ke ruang tengah, menghampiri tv yang tadi sengaja tidak kumatikan, berpura-pura sedang menonton Spongebob Squarepant ketika Ben membuka pintu.

“Michele… Michele… Michele sayang… Kau dimana?” Ben memanggil-manggil namaku.

Aku malas menghampirinya. Tidakkah dia tahu kalau aku kesal?

“Hey, Michele… Kau di sini rupanya…” Ben segera menemukanku di ruang tengah.

“Michele… Sini, sayang… Ada seseorang yang mau kuperkenalkan padamu… Sini!”

Well… Oke… Sekarang Ben mulai jadi suka memerintah dan makin menyebalkan.

Sang gadis menyusul Ben ke ruang tengah. Ben dan gadis yang ternyata bernama Clara itu tanpa ragu-ragu mendekatiku, dan kemudian duduk mengapitku di sofa ruang tengah.

“Clara, ini Michele, kucing betinaku. Dia lucu, kan?” Ujar Ben

“Sini, Puss… Kamu cantik sekali…”

Gadis yang ternyata bernama Clara itu mulai berlagak sok akrab denganku. Dia menggendong dan mengelus-elus kepalaku.

Dasar genit!orang-ke-tiga-300x225

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s