Bejo, The Cock Who Lived

Standar
image

Bejo (ayam jantan) dan putih (anak kucing) sedang naik pohon jepun

Wawasan spiritual bisa dipelajari dari mana saja. Bahkan kadang dari sumber-sumber yang tak terduga. Seperti halnya beberapa waktu lalu. Saya baru saja (dipaksa) belajar soal takdir dari ayam jantan peliharaan keluarga saya. Namanya Bejo.

Bejo adalah nama yang diberikan oleh saya sendiri. Dan tentu saja ada alasan kenapa nama tersebut saya berikan kepadanya. Kata bejo dalam bahasa Jawa berarti beruntung. Nama bejo saya berikan kepadanya karena saya kagum pada nasibnya yang beruntung.

Bejo, ayam jantan putih, pertama kali kami beli di pasar ketika masih kecil. Waktu itu usianya mungkin baru 7 atau 8 minggu. Bersama satu ekor ayam jantan lain berwarna burik yang umur dan ukurannya kira-kira sama dengannya. Tujuan kami membeli mereka bukanlah untuk dipelihara, tapi untuk kepentingan membuat banten (persembahan dalam agama Hindu) yang disebut banten caru. Banten caru tersebut akan digunakan pada keesokan harinya.

Singkat cerita, karena sesuatu dan lain hal, ayah saya kelupaan membawa Bejo (waktu itu belum bernama) ke tempat kami memesan banten caru, dan hanya membawa ayam buriknya saja. Kemudian ketika mau menyusulkan bejo, pihak yang dipesani banten ternyata sudah menggantinya dengan ayam putih lain. Akhirnya bejo tidak jadi diantar. Waktu itu, karena kelupaan. Posisinya masih dengan kaki terikat di teras belakang rumah, terkurung di keranjang bambu yang ditelungkupkan.

Situasi saat itu sedang agak rempong karena kami sedang sibuk menyiapkan banten. Dan cukup lama juga kami meninggalkan dan (nyaris) melupakan keberadaan bejo. Setelah mengeceknya kembali, ternyata ada segerombol semut merah yang sedang mengerubutinya. Spontan si bejo lompat-lompat menggelinjang dengan kaki terikat, berusaha melepaskan dirinya dari gigitan semut-semut merah yang jahat. Akhirnya ikatan kaki si bejo kami lepas dan kami pindahkan ke kurungan ayam beneran yang ukurannya lebih lapang. Untung saja waktunya tepat, kalau ditinggal beberapa jam lagi, mungkin si bejo sudah mati dihabisi para semut api itu.

Pada hari-hari kemudian, kami sudah tak tahu lagi apa yang harus kami lakukan dengan si bejo. Hari raya berikutnya masih jauh. Jadi si bejo kami lepaskan saja di halaman rumah. Syukur-syukur ada orang lewat yang mau membelinya kalau-kalau butuh ayam putih untuk banten caru (tapi sayangnya ga ada). Ketika tiba masa kami membutuhkan ayam caru putih lagi, si bejo sudah terlalu besar untuk digunakan.

Sejak selamat dari caru, saya menamainya Bejo. Itulah yang namanya keberuntungan, takdir. Ayam yang jelas-jelas dibeli untuk dicaru (dikorbankan), bisa-bisanya selamat karena ayah saya kelupaan. Beruntung banget dia.

Kira-kira bejo saat ini sudah berusia 8 bulan. Bejo adalah satu-satunya ayam peliharaan kami. Dulu, ketika saya masih kecil, ayah saya suka beternak ayam kampung, tapi saat sudah sibuk menekuni bisnis kulit, beliau sudah tak sempat lagi mengurusi ayam.

Sehari-hari, bejo makan dari sisa-sisa makanan di rumah, dan ayah (yang karena memang menyukai ayam kampung dan tak bisa mangabaikannya) rutin memberinya jagung campur, makanan ayam yang terdiri dari biji jagung giling (jagung pecah) sebagai komposisi utamanya, dan dicampur dengan biji-biji lain seperti gabah, kacang hijau, beras merah, kedelai, dan juga konsentrat. Walaupun rutin diberi makan, bejo tidak terlalu diurusi seperti ayam-ayam peliharaan kami di masa lalu. Dua kali bejo sempat kena snot, tapi diobati oleh ayah dan akhirnya sembuh. Padahal, kami kira dia tidak akan selamat. Lagi-lagi dia bejo. Dan, seperti yang selalu terjadi di keluarga kami, bejo tidak akan pernah disembelih untuk dikonsumsi karena kami selalu tidak tega memakan ternak yang kami pelihara sejak kecil. Terlalu banyak kenangan dan ikatan emosional. It’s feel so weird. Melihat ternak yang setiap hari berkeliaran di depan matamu tiba-tiba ada di penggorengan.

Pertemuan kami dengan bejo berakhir bahagia. Setelah berbulan kebingungan kami tentang apa yang harus kami lakukan dengan bejo, beberapa hari yang lalu, seorang penghobi ayam jantan yang kebetulan main ke rumah, tertarik untuk membelinya setelah melihat gerak tingkah bejo yang aktif, bugar, sehat, dan gesit. Tentu saja bejo dibeli dengan harga lebih tinggi dari sekedar ayam konsumsi. Dan itu melegakan sekali karena itu berarti bejo mendapat kehidupan yang lebih baik. Tinggal di kurungan (atau mungkin masih dilepas karena usianya yang masih muda) sebagai binatang peliharaan (bukan ternak) yang disayangi, dan mungkin setelah dewasa akan digunakan untuk induk pejantan.

Banyak keberuntungan yang meliputi bejo. Setelah selamat dari caru, selamat dua kali dari snot, selamat karena tidak akan disembelih, dan sekarang malah naik level jadi ayam peliharaan. Bejo sekali.

Dari bejo, saya belajar bahwa takdir memang ada dan bisa dilihat sangat nyata. Peristiwa itu memberikan perkembangan yang benar-benar signifikan pada keimanan saya. 😇

Terima kasih sudah mengunjungi blog saya. 😇
– Ary Dharmayanti –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s